Washington, Purna Warta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam lanjutan klaim-klaim baru dan pernyataan yang dinilai bertentangan terkait negosiasi di Islamabad, mengatakan bahwa putaran perundingan tersebut kemungkinan akan digelar pada hari Jumat.
Menurut laporan kantor berita Al Jazeera, Trump menyatakan bahwa kemungkinan putaran kedua negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran akan berlangsung pada hari Jumat dengan tuan rumah Pakistan.
Klaim ini disampaikan di tengah pernyataan Republik Islam Iran yang menegaskan bahwa blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata, dan selama blokade tersebut belum dicabut, Iran tidak akan berpartisipasi dalam perundingan.
Tampaknya pernyataan Trump ini lebih ditujukan untuk konsumsi domestik, mengingat kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat memberikan tekanan besar terhadap presiden AS tersebut.
Sebuah survei baru menunjukkan bahwa opini publik di Amerika Serikat sangat terbelah, dan sebagian besar pemilih menganggap Donald Trump bertanggung jawab atas kenaikan harga bensin. Isu ini semakin memanas di tengah perdebatan politik mengenai meningkatnya biaya energi dan dampak ekonominya.
Berdasarkan usulan pihak Pakistan, putaran kedua negosiasi Iran dan Amerika semula dijadwalkan berlangsung pada hari Senin di Islamabad. Namun Iran menolak berpartisipasi karena tuntutan berlebihan dan pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Republik Islam Iran bukan pihak yang memulai perang yang dipaksakan ini, dan seluruh tindakan Iran dilakukan dalam kerangka hak sah untuk membela diri terhadap agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan bahwa diplomasi adalah alat untuk menjamin kepentingan dan keamanan nasional, dan kapan pun Iran menilai bahwa kondisi yang logis dan diperlukan untuk menggunakan alat tersebut demi mewujudkan kepentingan nasional serta mengukuhkan pencapaian rakyat Iran telah tersedia, maka Iran akan bertindak.
Presiden Trump sebelumnya pada 21 April 2026 mengumumkan bahwa Amerika Serikat memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu atas permintaan Pakistan, sembari menunggu “proposal terpadu” dari Teheran.
Sejumlah media internasional melaporkan bahwa Pakistan masih berupaya menjadi mediator dan “berhati-hati optimistis” bahwa perundingan damai dapat dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang, meskipun ketidakpastian masih membayangi.
Sementara itu, Iran secara terbuka menolak putaran kedua perundingan dan menegaskan bahwa blokade laut Amerika di sekitar pelabuhan Iran merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Analis menilai ketidakjelasan arah diplomasi ini turut memengaruhi pasar global, terutama harga minyak dunia, karena ketegangan di kawasan dan ancaman gangguan di Selat Hormuz terus menjadi perhatian investor dan pelaku pasar energi internasional.


