Harga Gas di Eropa Kembali Naik 5 Persen

Gas

London, Purna Warta – Harga gas alam di Eropa terus mengalami kenaikan sebesar 5 persen dan mencapai 534 dolar AS per 1.000 meter kubik, menurut data dari bursa ICE London.

Kenaikan ini menegaskan berlanjutnya volatilitas tajam di pasar energi Eropa, meskipun harga telah turun dari puncaknya yang melampaui 850 dolar AS bulan lalu.

Kontrak berjangka bulan Mei pada indeks TTF — pusat perdagangan gas terbesar di Eropa yang berlokasi di Belanda — dibuka pada level 526 dolar AS atau naik 3,1 persen. Level terendah saat ini tercatat 505,4 dolar AS atau turun 0,9 persen, sementara level tertinggi mencapai 539,5 dolar AS atau naik 5,8 persen.

Harga gas kemudian tercatat di level 534,20 dolar AS atau naik 4,7 persen. Pergerakan harga ini didasarkan pada harga estimasi hari sebelumnya sebesar 510,20 dolar AS per 1.000 meter kubik.

Harga gas di Eropa pada bulan Maret naik hampir 60 persen dibanding Februari akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah, melampaui 600 dolar AS per 1.000 meter kubik untuk pertama kalinya sejak Februari 2023.

Kenaikan harga mulai terjadi setelah agresi Amerika Serikat dan Zionis terhadap Iran, dan hingga kini masih berada di atas level dua tahun terakhir. Harga mencapai puncaknya pada 19 Maret di angka 853,7 dolar AS per 1.000 meter kubik. Saat ini harga masih 33 persen lebih tinggi dibanding akhir Februari.

Harga gas meningkat tajam selama periode 2021–2022. Rekor tertinggi tercapai pada awal musim semi 2022 dengan angka 3.892 dolar AS per 1.000 meter kubik. Pasar Eropa belum pernah mengalami harga setinggi itu sejak pusat perdagangan gas Eropa mulai beroperasi pada tahun 1996.

Kenaikan harga gas di Eropa ini tidak terlepas dari adanya gangguan pasokan energi global akibat konflik geopolitik dan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.

Negara-negara Uni Eropa terus berupaya mengurangi ketergantungan pada impor energi dari luar kawasan dengan memperluas impor LNG dari Amerika Serikat dan Qatar.

Kenaikan harga energi juga diperkirakan akan memicu inflasi baru di Eropa, terutama di sektor industri dan rumah tangga, serta dapat memengaruhi kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa.

Para analis memperingatkan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat atau terjadi gangguan pasokan lebih lanjut, harga gas dapat kembali mendekati level tertinggi bulan lalu atau bahkan menembusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *