Jakarta, Purna Warta – Sebanyak 2.000 driver ojek online (ojol) dijadwalkan akan menggelar demonstrasi besar bertajuk ‘Aksi Kebangkitan Jilid II Transportasi Online Nasional 217’ di Istana pada 21 Juli 2025. Aksi ini direncanakan akan melibatkan pemadaman aplikasi secara serentak oleh para peserta.
Baca juga: Kaesang Pangarep Terpilih Kembali sebagai Ketum PSI, Targetkan Dominasi di Pemilu 2029
“Pesertanya 2.000, yang organik. Oh iya pasti (bakal matikan aplikasi) selama aksi,” tegas Kepala Divisi Humas Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia, Yudha Al Janata, dalam jumpa pers di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Sabtu (19/7/2025).
Yudha menambahkan bahwa 2.000 peserta demo ini berasal dari berbagai daerah, termasuk Jambi, Cirebon, Kalimantan, dan Jawa Timur, yang sengaja datang ke Jakarta untuk menyuarakan aspirasi mereka.
“Iya matikan aplikasi,” ujarnya, mengulangi penegasan bahwa pemadaman aplikasi akan menjadi bagian dari strategi aksi.
Yudha menekankan pentingnya pelibatan ojol dalam diskusi penyesuaian potongan tarif dan meminta adanya kepastian hukum yang jelas bagi mereka.
“Kami GARDA meminta untuk diskresi aturan tersebut, Kementerian manapun yang bersinggungan ya harus mengeluarkan diskresi tersebut agar ada aturannya. Titik per titik Rp 5 ribu, ambil nggak mau ya terserah, nggak mau ambil ya keluar aja dari mitra. Luar biasa itu saya bilang,” kritiknya terhadap sistem yang ada.
Sementara itu, Ketua Serikat Transportasi Indonesia, Anwar, mendesak penurunan potongan tarif dari 20% menjadi 10%. Menurutnya, potongan 20% saat ini sangat merugikan para driver online.
“Otomatis itu sangat mempengaruhi dengan pendapatan kita, jadi dalam hal ini belum adanya regulasi tentang tarif, tarif atas dan tarif bawah itu, makanya ada potongan 20%. Itu 20% dapat dari mana mereka juga? Karena belum ada regulasi juga dan tarifnya sekarang itu ada namanya tarif hemat,” jelas Anwar.
Ia menambahkan, “Makanya kalau itu masih dipotong juga dengan 20% otomatis untuk biaya operasional kendaraan itu nggak ada, kurang gitu. Makanya dengan adanya kerusakan kendaraan misalnya, dengan potongan 20% berarti kendaraan itu tidak bisa diperbaiki lagi, maintenancenya nggak ada, makanya sangat berpengaruh kepada kebutuhan kita sehari-hari juga,” ujarnya, menggambarkan dampak kerugian finansial yang parah.
Baca juga: Jalur Pendakian Gunung Rinjani Ditutup Sementara Demi Keselamatan Pendaki
Berikut adalah lima tuntutan utama yang akan disuarakan oleh para driver online dalam aksi 21 Juli:
1. Negara hadirkan UU Transportasi Online/PERPPU.
2. Biaya aplikasi 10% harga mati.
3. Regulasi tarif antaran barang dan makanan.
4. Audit investigatif aplikator.
5. Hapus aceng, slot, double order, hemat, member-member dan lainnya, dikembalikan semua menjadi driver reguler.


