Al-Quds, Purna Warta – Media Israel melaporkan bahwa sejumlah personel militer Israel mengalami luka-luka dalam sebuah insiden keamanan di wilayah Lebanon selatan.
Sejumlah media Israel menyatakan bahwa beberapa prajurit Angkatan Bersenjata Israel terluka dalam insiden tersebut.
Baca juga: Nilai Nol untuk Armada Kelima: Bagaimana Media Dunia Menyoroti Perang terhadap Iran
Hingga saat ini belum ada rincian lebih lanjut mengenai insiden itu. Otoritas sensor militer Israel, yang berada di bawah pengawasan militer negara tersebut, menerapkan pembatasan ketat terhadap publikasi informasi terkait korban jiwa maupun kerugian militer di berbagai medan operasi. Kondisi ini membuat banyak pengamat politik meragukan apakah angka resmi yang diumumkan militer Israel benar-benar mencerminkan besarnya kerugian yang dialami dalam berbagai operasi dan konfrontasi dengan kelompok-kelompok perlawanan di sejumlah front.
Meski berada di bawah sensor militer, sejumlah media berbahasa Ibrani melaporkan adanya helikopter militer Israel yang terbang menuju rumah sakit di wilayah Israel. Laporan tersebut mengindikasikan adanya proses evakuasi personel militer yang terluka dari Lebanon.
Sementara itu, beberapa jam sebelumnya militer Israel mengumumkan bahwa Brigade Givati telah mengakhiri misi tempurnya di Lebanon selatan.
Sejak diberlakukannya gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah pada 27 November 2024, situasi keamanan di Lebanon selatan tetap rapuh. Meskipun intensitas pertempuran menurun dibandingkan periode perang sebelumnya, kedua belah pihak masih saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Israel tetap melancarkan serangan yang diklaim menyasar anggota maupun infrastruktur Hizbullah, sementara Hizbullah menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian yang dimediasi Amerika Serikat dan Prancis.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) bersama Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) bertugas mengawasi wilayah Lebanon selatan di sebelah utara Sungai Litani. Di sisi lain, Hizbullah diwajibkan menarik personel dan persenjataannya dari kawasan tersebut, sementara Israel juga diharapkan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon. Namun, berbagai laporan internasional menyebutkan bahwa Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di beberapa titik strategis dekat perbatasan, yang terus menjadi sumber ketegangan.
Baca juga: Israel Terus Melanggar Gencatan Senjata di Lebanon
Dalam beberapa bulan terakhir, media Israel beberapa kali melaporkan adanya “insiden keamanan” di Lebanon selatan tanpa merinci penyebabnya. Dalam sejumlah kasus, sensor militer Israel membatasi publikasi rincian mengenai korban, lokasi kejadian, maupun jenis operasi yang sedang berlangsung. Akibatnya, informasi awal mengenai insiden-insiden tersebut umumnya baru dapat dikonfirmasi setelah militer Israel mengizinkan publikasi atau setelah muncul laporan dari sumber independen dan media internasional.
Di sisi lain, Hizbullah menyatakan tetap mempertahankan kesiapan militernya meskipun gencatan senjata masih berlaku. Kelompok tersebut berulang kali menegaskan akan merespons setiap operasi militer Israel yang dianggap melanggar kedaulatan Lebanon, sehingga kawasan perbatasan Israel–Lebanon masih dinilai sebagai salah satu titik paling rawan eskalasi di kawasan Timur Tengah.


