Purna Warta – Sejak dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, bukan saja tujuan yang diumumkan dari operasi tersebut dinilai tidak tercapai, tetapi menurut berbagai pejabat Barat dan sejumlah media Amerika, konflik itu juga menimbulkan kebuntuan strategis serta kegagalan di medan militer maupun politik bagi pihak penyerang.
Baca juga: Israel Terus Melanggar Gencatan Senjata di Lebanon
Sejak dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, tujuan yang diumumkan dari operasi tersebut tidak berhasil diwujudkan. Sejumlah pejabat Barat dan media Amerika menilai bahwa perang terhadap Iran itu justru menimbulkan kebuntuan strategis serta berbagai kegagalan di bidang militer dan politik bagi pihak penyerang. Konflik yang diawali dengan serangan berskala luas dan menewaskan warga sipil, termasuk para pelajar, dengan cepat berkembang menjadi krisis kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang memicu beragam reaksi dari media internasional.
Berbagai media dunia berupaya membangun narasi masing-masing mengenai perang tersebut. Penelaahan terhadap pemberitaan mereka dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kondisi konflik dan prospek perkembangannya.
Media berbahasa Inggris
Fox News dalam laporannya menyebut bahwa serangan rudal dan drone Iran yang diklaim berlangsung secara presisi dan dalam skala besar telah mendorong Pentagon meninjau kembali strategi puluhan tahun mengenai penempatan pangkalan militer besar dan permanen di kawasan Teluk.
Menurut laporan tersebut, kerentanan fasilitas utama seperti Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait terhadap serangan Iran membuat para pejabat pertahanan Amerika menyimpulkan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut telah berubah menjadi “liabilitas strategis”.
Laksamana purnawirawan Mark Montgomery mengatakan bahwa militer Amerika telah mulai menggunakan pusat komando alternatif dan melakukan rotasi pasukan menjauh dari pangkalan permanen tersebut. Ia menilai kedekatan pangkalan-pangkalan itu dengan lokasi peluncuran rudal Iran—sekitar 90 mil—mengurangi waktu dan ruang bagi sistem pertahanan untuk mencegat drone maupun rudal.
Menurut laporan itu, Pentagon sedang mengkaji penyebaran kemampuan militernya secara lebih tersebar, memindahkan sebagian operasi ke arah barat atau bahkan ke Israel, serta mengurangi kehadiran militer di Kuwait dan Arab Saudi.
Laporan tersebut menambahkan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan prioritas utama adalah “melindungi manusia, bukan bangunan”. Disebutkan pula bahwa dari sekitar 8.000 rudal dan drone yang diklaim diluncurkan Iran, hanya dua yang menyebabkan korban di pihak Amerika. Namun, kerusakan terhadap infrastruktur komando disebut cukup berat sehingga sebagian fasilitas kemungkinan tidak akan dibangun kembali.
Joe Kent, mantan pejabat antiterorisme AS yang mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap perang tersebut, menulis di platform X bahwa “semakin sedikit pangkalan berarti semakin sedikit sasaran bagi Iran dan semakin kecil pula daya tekan Iran.” Laporan itu menyimpulkan bahwa doktrin militer Amerika mengalami perubahan yang dipaksakan akibat kemampuan serangan Iran.
Sementara itu, CBC Kanada mengutip Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang mengatakan bahwa Presiden Donald Trump “tidak akan kembali mengerahkan militer ke perang skala penuh kecuali benar-benar terpaksa.”
Menurut laporan tersebut, putaran terakhir perundingan teknis di Doha berlangsung tanpa pertemuan langsung antara kedua pihak dan hanya melalui mediator dari Qatar dan Pakistan. Bahkan Jared Kushner dan Steve Witkoff, meskipun dikirim ke kawasan, tidak menghadiri pertemuan tersebut.
Vance menggambarkan perundingan itu sebagai “masih berada pada tahap awal tetapi berjalan baik”, seraya mengatakan bahwa fokus utama saat ini adalah pelayaran komersial di Selat Hormuz, sedangkan isu nuklir akan dibahas kemudian.
Laporan itu juga menyebut bahwa Iran berupaya memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz serta kewenangan untuk mengenakan biaya terhadap kapal yang melintas. Seorang sumber menyebut prioritas Iran adalah mencapai kesepakatan mengenai pengelolaan selat tersebut serta pembebasan dana Iran senilai enam miliar dolar AS yang dibekukan. Di pihak lain, prioritas Amerika adalah menjamin kebebasan pelayaran melalui Selat Hormuz.
CBC juga menyoroti tekanan politik domestik yang dihadapi Trump menjelang pemilu sela Kongres sehingga mendorongnya membatasi dampak ekonomi perang. Para analis pasar minyak menilai pembukaan kembali Selat Hormuz masih berlangsung secara tidak merata, sulit diprediksi, dan belum sepenuhnya transparan.
Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa perang terhadap Iran memunculkan perbedaan tajam antara Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Menurut laporan tersebut, Mohammed bin Salman pada awalnya mendorong Trump untuk mengambil langkah keras terhadap Iran. Namun, setelah Iran dinilai berhasil mempertahankan posisinya dan mengendalikan Selat Hormuz, ia justru menyerukan gencatan senjata dan mulai lebih mengutamakan kepentingan keamanan Arab Saudi secara mandiri.
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Arab Saudi Michael Ratney mengatakan bahwa “ketika Iran menutup Selat Hormuz, seluruh psikologi kawasan Teluk berubah.” Ia menilai Iran kini memiliki “pedang Damocles” yang dapat mengancam perekonomian Teluk maupun ekonomi global.
The New York Times juga menyebut bahwa rancangan awal kesepakatan mengakui bentuk tertentu dari kendali Iran atas Selat Hormuz serta membuka peluang bagi Iran dan Oman untuk menyepakati mekanisme pengelolaannya, termasuk kemungkinan penerapan biaya pelayaran pada masa mendatang. Namun, rancangan tersebut tidak memuat ketentuan mengenai program rudal balistik Iran maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Sementara itu, The Washington Post memperingatkan bahwa gencatan senjata di Lebanon yang didukung Trump—dan dipandang sebagai bagian penting dari kesepakatan lebih luas terkait Iran—berpotensi memicu perang saudara baru di Lebanon.
Baca juga: CNN: Upacara Pemakaman Pemimpin Iran Disebut Mengirim Pesan Menantang kepada Trump
Menurut surat kabar itu, kesepakatan yang mengatur pelucutan senjata Hizbullah dan penarikan pasukan Israel secara bersamaan memiliki peluang keberhasilan yang kecil. Para analis memperingatkan bahwa Tentara Lebanon dapat menghadapi tantangan besar apabila harus berhadapan langsung dengan Hizbullah.
Laporan tersebut juga menyoroti adanya kontradiksi dalam diplomasi pemerintahan Trump. Di satu sisi, JD Vance terlibat dalam jalur perundingan dengan Iran, sementara di sisi lain Menteri Luar Negeri Marco Rubio menangani isu Lebanon dengan pendekatan berbeda. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya selama Hizbullah masih bersenjata.
Media Arab
Harian Rai Al-Youm melalui artikel yang ditulis analis politik Fouad Al-Kanji menilai nota kesepahaman yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran pada 18 Juni 2026 bukan merupakan kesepakatan yang kokoh, melainkan perjanjian sementara yang rentan gagal dalam waktu dekat.
Penulis berpendapat bahwa penandatanganan di Istana Versailles memiliki makna simbolis karena sebagian analis Amerika menganggap Versailles sebagai lambang “perjanjian kegagalan” sejak Perjanjian Versailles tahun 1919. Ia juga menyebut bahwa kesepakatan tersebut menuai kritik di internal Partai Republik karena dianggap merugikan kepentingan Amerika dan berpotensi memengaruhi pemilu sela.
Menurut artikel itu, persoalan utama antara Iran dan Amerika Serikat—termasuk program nuklir Iran, mekanisme inspeksi internasional, stok uranium yang diperkaya, program rudal, pengaruh regional Iran, masa depan Selat Hormuz, serta sanksi—belum terselesaikan.
Sementara itu, Al-Manar melaporkan, dengan mengutip dokumen pemerintah Israel yang diperoleh Channel 12 Israel, bahwa kerusakan di kompleks petrokimia Bazan di Teluk Haifa akibat serangan rudal Iran jauh lebih besar daripada yang sebelumnya diumumkan pemerintah Israel.
Dokumen tersebut menyebut proses pemulihan penuh kompleks Bazan diperkirakan baru selesai pada 2028. Serangan pada Juni 2025 disebut sebagai yang paling merusak, mengakibatkan tiga pekerja tewas, pembangkit listrik utama rusak, serta seluruh unit kilang berhenti beroperasi.
Di sisi lain, Al Jazeera menyoroti pentingnya Doha sebagai lokasi perundingan Iran-Amerika Serikat. Menurut media tersebut, keberhasilan Qatar bukan hanya karena menjadi tuan rumah pertemuan, tetapi juga karena kemampuannya menyediakan ruang yang aman bagi dialog antara pihak-pihak yang tidak saling mempercayai.
Al Jazeera menilai bahwa sekalipun delegasi Iran dan Amerika tidak bertemu secara langsung, kehadiran keduanya di Doha tetap memungkinkan berlangsungnya negosiasi tidak langsung melalui mediasi Qatar.
Media Rusia dan Tiongkok
Harian Rusia Nezavisimaya Gazeta dalam laporan berjudul Washington Sedang Menjauh dari Tel Aviv menyatakan bahwa dukungan publik Amerika terhadap Israel mengalami penurunan yang nyata dan konsensus bipartisan tradisional mengenai dukungan terhadap Israel mulai melemah.
Mengutip jajak pendapat Universitas Quinnipiac, laporan itu menyebut 48 persen warga Amerika menilai Washington memberikan dukungan yang terlalu besar kepada Israel—angka tertinggi sejak survei tersebut dimulai pada 2017. Sebanyak 37 persen menganggap tingkat dukungan saat ini sudah memadai, sementara hanya 7 persen yang menginginkan peningkatan dukungan.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa sikap kritis terhadap Israel semakin kuat di kalangan Partai Demokrat dan pemilih independen. Bahkan di kalangan Partai Republik, hanya sebagian kecil responden yang mendukung peningkatan bantuan kepada Israel.
Sementara itu, Xinhua melaporkan bahwa Ketua Majelis Syura Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Iran tidak akan memulai perundingan mengenai kesepakatan final dengan Amerika Serikat sebelum sejumlah ketentuan dalam nota kesepahaman damai yang telah disepakati benar-benar dilaksanakan.
Menurut laporan itu, kunjungan delegasi Iran ke Swiss bertujuan memantau pelaksanaan isi kesepahaman, termasuk penghentian konflik di berbagai front, pencabutan blokade maritim, pembukaan kembali Selat Hormuz, pemberian pengecualian bagi ekspor minyak mentah Iran, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Xinhua menambahkan bahwa dari sudut pandang Teheran, pelaksanaan nyata atas komitmen tersebut merupakan prasyarat sebelum memasuki tahap perundingan berikutnya mengenai kesepakatan yang lebih komprehensif.


