Tehran, Purna Warta – Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras Amerika Serikat atas apa yang disebutnya sebagai “kejahatan yang tak termaafkan” berupa penembakan sebuah pesawat penumpang sipil di atas Teluk Persia, ketika bangsa Iran memperingati tragedi jatuhnya Iran Air Penerbangan 655 pada tahun 1988.
Pada pagi hari 3 Juli 1988, kapal perang Amerika Serikat USS Vincennes menembakkan dua rudal ke arah Iran Air Penerbangan 655 pada pukul 10.24 waktu setempat, menghantam pesawat sipil jenis Airbus tersebut di atas Teluk Persia dalam salah satu tindakan agresi paling keji terhadap bangsa Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memperingati peristiwa itu melalui unggahan di platform X pada Jumat. Ia menggambarkan serangan tersebut sebagai: “Salah satu kejahatan paling keji yang pernah dilakukan Amerika Serikat terhadap bangsa Iran.”
Baghaei menyatakan bahwa pada 3 Juli 1988, Iran Air Penerbangan 655 yang sedang dalam perjalanan dari Tehran menuju Dubai dengan membawa 290 warga sipil tak berdosa sengaja dijadikan sasaran dan dihancurkan oleh rudal yang ditembakkan dari USS Vincennes.
Seluruh 290 penumpang dan awak pesawat tewas dalam insiden tersebut, yang terdiri atas: 254 warga Iran, 13 warga Uni Emirat Arab, 10 warga India, 6 warga Pakistan, 6 warga Yugoslavia, 1 warga Italia.
Baghaei menegaskan bahwa 66 anak-anak yang tidak berdosa termasuk di antara para korban yang gugur dalam serangan yang disebutnya sebagai tindakan biadab tersebut.
Dalam ironi yang menurut Iran menunjukkan pengabaian total Amerika Serikat terhadap nilai kehidupan manusia, komandan USS Vincennes justru kemudian dianugerahi Legion of Merit oleh pemerintah Amerika Serikat atas “pengabdiannya yang sangat berjasa” dalam menjalankan tindakan tersebut.
Iran, lanjut Baghaei, akan terus mengenang para korban dan tidak akan pernah melupakan kejahatan yang tak termaafkan yang dilakukan oleh pemerintahan Amerika Serikat saat itu.
Pada Jumat, sebuah upacara peringatan yang khidmat diselenggarakan di Iran selatan untuk mengenang para syuhada Penerbangan 655 di perairan Teluk Persia.
Acara tersebut berlangsung di sekitar Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, dengan dihadiri para pejabat daerah, keluarga para syuhada, personel militer, serta masyarakat dari berbagai kalangan.
Para peserta memberikan penghormatan kepada 290 syuhada dengan menaburkan bunga ke laut dan membacakan Surah Al-Fatihah. Mereka juga meneriakkan slogan-slogan yang mengecam tindakan kriminal kapal perang Amerika USS Vincennes serta menegaskan pentingnya menjaga ingatan atas para korban yang tidak bersalah tersebut.
Penembakan Iran Air Penerbangan 655 hingga kini tetap menjadi salah satu bab paling kelam dan paling menyakitkan dalam ingatan kolektif bangsa Iran mengenai kejahatan terhadap penerbangan sipil.
Menurut laporan tersebut, kejahatan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran masih terus berlanjut.
Disebutkan bahwa pada 28 Februari, hari pertama perang yang digambarkan sebagai agresi tanpa provokasi oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran, pihak lawan menyerang Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan.
Serangan itu disebut menewaskan 168 warga sipil, yang sebagian besar merupakan anak-anak perempuan dan laki-laki berusia 7 hingga 12 tahun, serta 26 guru perempuan.
Pada hari yang sama, sebuah rudal Precision Strike Missile (PrSM) milik Amerika Serikat juga dilaporkan menghantam sebuah gedung olahraga di kota Lamerd, Iran selatan.
Menurut laporan tersebut, serangan itu menewaskan sejumlah warga sipil, termasuk para pemain bola voli remaja, perempuan, laki-laki, bahkan seorang anak perempuan berusia dua tahun.


