Al-Quds, Purna Warta – Koresponden Al Alam di Ramallah, Fares Al-Sarfandi, melaporkan bahwa pernyataan Kepala Staf militer Israel yang menyebut “tentara berada di ambang kehancuran” merupakan pernyataan yang sangat penting dan mengejutkan publik Israel.
Baca juga: Keamanan Iran Umumkan Pembongkaran Dua Sel Teroris yang Berafiliasi dengan Mossad
Ia menjelaskan bahwa Kepala Staf militer Israel menyampaikan pada awal pernyataannya bahwa ia mengangkat sepuluh “bendera merah”—yakni sepuluh peringatan—kepada warga Israel bahwa militer Israel, khususnya pasukan cadangan, dapat runtuh dengan cepat pada akhir 2027 atau awal 2027 jika kondisi saat ini terus berlanjut.
Koresponden tersebut juga menyoroti bahwa Israel berada di ambang pembubaran Knesset dalam beberapa hari ke depan, yang akan membuka jalan menuju pemilu. Hal ini, menurut laporan tersebut, tidak diinginkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan ia kemungkinan akan jatuh serta tidak kembali menjabat dalam pemilu berikutnya yang diperkirakan dapat berlangsung pada September mendatang.
Ia juga menyebut adanya persepsi umum di masyarakat Israel yang tidak ingin kembali kepada pemerintahan sayap kanan saat ini, dan bahwa kemungkinan besar akan terjadi perubahan besar dalam peta politik Israel. Dalam skenario tersebut, Naftali Bennett disebut sebagai kandidat potensial perdana menteri berikutnya.
Sejumlah laporan regional menyebut bahwa situasi politik dan militer di Israel saat ini berada dalam tekanan akibat perang berkepanjangan di Gaza dan meningkatnya beban operasi militer. Hal ini memicu perdebatan internal antara pemerintah dan militer, terutama terkait penggunaan pasukan cadangan dan strategi perang jangka panjang.
Baca juga: Uni Eropa Perketat Sanksi terhadap Pemukim Zionis
Di dalam negeri Israel, dinamika politik di parlemen juga dilaporkan semakin tegang, dengan meningkatnya kritik oposisi terhadap kebijakan keamanan pemerintah Netanyahu. Isu perang, keamanan nasional, dan stabilitas pemerintahan menjadi faktor utama dalam perdebatan politik saat ini.
Para analis politik menilai bahwa ketidakstabilan ini dapat memengaruhi hasil pemilu mendatang, terutama jika ketidakpuasan publik terhadap pemerintah terus meningkat. Dalam situasi seperti itu, peluang terjadinya pergeseran kekuatan politik di Israel dinilai semakin besar.


