Al-Quds, Purna Warta – Setelah berbulan-bulan berlalu dan menyusul gugurnya para pemimpin sebelumnya, Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar, Khalil al-Hayya dipilih sebagai Ketua Biro Politik baru Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas). Namun, siapakah Khalil al-Hayya dan dari latar belakang apa ia berasal?
Baca juga: Pesawat Netanyahu Tinggalkan Wilayah Udara Israel Menuju Tujuan yang Tidak Diketahui
Hamas setelah melalui proses pemilihan internal organisasi yang intensif secara resmi memilih Khalil al-Hayya sebagai kepala baru Biro Politiknya. Pemilihan yang berlangsung di tengah perang paling berat dalam sejarah Gaza tersebut dinilai menunjukkan kesinambungan garis pemikiran dan operasional para pemimpin sebelumnya, sekaligus memperkuat hubungan antara struktur politik dan militer Hamas.
Khalil al-Hayya, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu tokoh penting Hamas di balik layar maupun dalam aktivitas diplomasi, kini mengambil kendali kepemimpinan organisasi tersebut pada salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Hamas.
Dari Kelahiran di Gaza hingga Pendidikan Akademik
Khalil Ismail Ibrahim al-Hayya, yang dikenal dengan nama kunya “Abu Osama”, lahir pada Januari 1960 di Jalur Gaza. Masa kecil dan remajanya berlangsung dalam bayang-bayang dampak perang 1967 dan pendudukan Israel atas Gaza. Kondisi tersebut membentuk kesadaran politiknya sejak dini dan membuat keluarganya menghadapi penangkapan serta tindakan keras berulang dari militer Israel.
Meski demikian, al-Hayya tetap menempuh jalur pendidikan bersamaan dengan aktivitas politiknya. Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang Ushuluddin dari Universitas Islam Gaza pada 1983. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Yordania dan meraih gelar magister dalam bidang Ilmu Hadis pada 1986.
Ia meneruskan studi hingga tingkat doktoral dalam bidang yang sama dan memperoleh gelar doktor dari Universitas Al-Qur’an Al-Karim di Sudan pada 1997.
Karier profesionalnya dimulai sebagai pengajar di Universitas Islam Gaza. Ia kemudian naik dalam struktur administrasi hingga pada 2001 ditunjuk sebagai Kepala Urusan Kemahasiswaan universitas tersebut. Aktivitasnya tidak hanya terbatas pada lingkungan akademik, tetapi juga mencakup organisasi pekerja, termasuk menjabat sebagai ketua serikat pegawai universitas.
Setelah pecahnya Intifada Pertama Palestina pada 1987, al-Hayya—yang sebelumnya bergabung dengan jaringan Ikhwanul Muslimin pada awal 1980-an—secara resmi masuk dalam struktur Hamas. Berkat kemampuan pidato dan organisasi yang dimilikinya, ia berkembang cepat dalam hierarki gerakan tersebut.
Pada 2006, ia terpilih sebagai anggota parlemen Palestina dari daftar Hamas dan kemudian menjabat sebagai ketua fraksi parlemen Hamas.
Pemikiran Strategis: Menghubungkan Diplomasi, Medan Perang, dan Poros Perlawanan
Dari sisi pemikiran dan praktik politik, Khalil al-Hayya memiliki hubungan erat dengan struktur militer Hamas, khususnya Brigade Izzuddin al-Qassam.
Dalam struktur internal Hamas, ia disebut memiliki hubungan dekat dengan sejumlah komandan senior militer seperti Ahmed al-Jaabari dan Izzuddin al-Haddad.
Pandangan al-Hayya terhadap politik bersifat instrumental, yaitu melihat diplomasi sebagai sarana yang harus menghasilkan keuntungan nyata di lapangan. Menurut pendekatan tersebut, negosiasi hanya memiliki nilai apabila menghasilkan penghentian serangan, pencabutan blokade menyeluruh terhadap Gaza, serta pembebasan tahanan Palestina.
Dalam perang terbaru, ia memimpin tim negosiasi tidak langsung Hamas dalam pembicaraan di Kairo dan Doha, serta mempertahankan tuntutan organisasi tersebut dalam proses perundingan.
Dalam bidang hubungan luar negeri, al-Hayya disebut sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam mempererat kembali hubungan Hamas dengan Iran dan Hizbullah Lebanon.
Pada masa kepemimpinan Yahya Sinwar, ia bergerak sejalan dengan upaya memperkuat hubungan dengan Teheran dan beberapa kali memimpin delegasi politik Hamas dalam kunjungan ke Iran dan Lebanon.
Pada 2022, ia bahkan memimpin delegasi Hamas ke Damaskus untuk membuka kembali hubungan dengan pemerintah Suriah setelah hubungan kedua pihak mengalami ketegangan selama sekitar satu dekade.
Baca juga: Awal Penarikan Mundur Semu Rezim Zionis dari Sejumlah Wilayah Lebanon
Mengenai operasi 7 Oktober 2023, al-Hayya menyatakan bahwa operasi tersebut pada awalnya dirancang sebagai aksi terbatas untuk menangkap sejumlah tentara Israel dengan tujuan pertukaran tahanan. Namun, menurutnya, runtuhnya sistem pertahanan militer Israel di sekitar Gaza menyebabkan operasi tersebut berkembang menjadi konflik berskala lebih besar.
Penerus Para Pemimpin yang Gugur: Siapa yang Digantikan al-Hayya?
Pemilihan Khalil al-Hayya sebagai Ketua Biro Politik Hamas mengakhiri periode kepemimpinan sementara dalam organisasi tersebut.
Ia menggantikan para pemimpin besar Hamas yang sebelumnya tewas dalam berbagai operasi yang dikaitkan dengan Israel.
Sebelum al-Hayya, posisi Ketua Biro Politik Hamas dipegang oleh Ismail Haniyeh, yang tewas dalam serangan di Teheran pada Juli 2024.
Setelah Haniyeh, kepemimpinan Hamas beralih kepada Yahya Sinwar, yang kemudian juga tewas dalam pertempuran di Gaza pada Oktober tahun yang sama.
Setelah kematian Sinwar, urusan Hamas sementara dikelola oleh sebuah dewan lima orang yang dipimpin oleh Mohammed Darwish, Ketua Dewan Syura Hamas, hingga akhirnya pemilihan resmi menetapkan Khalil al-Hayya sebagai pemimpin baru.
Pemilihan tersebut berlangsung dalam tiga tahap dengan pengamanan ketat untuk mencegah ancaman pembunuhan terhadap jajaran pimpinan organisasi.
Dalam proses tersebut, al-Hayya yang dianggap mewakili kader internal Gaza dan dekat dengan sayap militer Hamas bersaing dengan Khaled Mashal, salah satu tokoh senior Hamas yang memimpin struktur luar Palestina.
Berdasarkan sistem internal Hamas, kandidat harus memperoleh sedikitnya 36 suara dari total 69 anggota Dewan Syura untuk menang. Al-Hayya akhirnya memperoleh dukungan mayoritas anggota, khususnya dari perwakilan internal Gaza, dan mengalahkan pesaing lamanya.
Harga Perjuangan yang Berat: Pemimpin yang Kehilangan Empat Anak
Salah satu faktor yang memperkuat legitimasi dan pengaruh Khalil al-Hayya di kalangan internal Hamas dan masyarakat Gaza adalah besarnya pengorbanan pribadi yang ia alami selama perjuangannya.
Dalam dua dekade terakhir, ia beberapa kali selamat dari upaya pembunuhan yang dikaitkan dengan Israel, tetapi harus membayar harga besar dalam kehidupan keluarganya.
Pada 2007, pesawat tempur Israel menyerang rumah keluarganya di kawasan Syuja’iyya, Gaza, yang menyebabkan tujuh anggota keluarganya tewas.
Setahun kemudian, putranya Hamzah, yang disebut sebagai anggota Brigade al-Qassam, gugur dalam serangan udara.
Pada 2014, serangan kembali terjadi ketika rumah putra tertuanya, Osama, dibom. Dalam peristiwa tersebut, Osama bersama istrinya dan tiga anak kecil mereka tewas.
Serangan terhadap keluarga al-Hayya juga terjadi di luar Palestina. Pada September 2025, tempat tinggalnya di Doha, Qatar, menjadi sasaran serangan yang disebut sebagai operasi presisi. Al-Hayya selamat, tetapi putranya Humam dan tiga pengawalnya tewas.
Kemudian pada Mei 2026, putranya yang keempat, Azzam, meninggal akibat luka yang diderita dalam pemboman kawasan Al-Daraj di timur Gaza.
Tantangan Besar di Awal Era Kepemimpinan Baru
Khalil al-Hayya mengambil alih kepemimpinan Hamas ketika organisasi tersebut menghadapi salah satu krisis paling kompleks dalam sejarahnya, baik dari sisi keamanan, militer, maupun kemanusiaan.
Ia kini harus menangani proses negosiasi gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang masih penuh ketidakpastian, sekaligus menyusun strategi keberlangsungan organisasi di Gaza pascaperang serta menghadapi tantangan rekonstruksi wilayah yang mengalami kehancuran luas.
Pemilihannya menunjukkan bahwa Hamas, meskipun mengalami kehilangan besar di tingkat kepemimpinan, masih mempertahankan struktur organisasinya dan berupaya meneruskan garis pemikiran Yahya Sinwar mengenai hubungan antara perlawanan bersenjata di lapangan dan diplomasi regional.



