UNICEF: Gencatan Senjata di Gaza “Kesempatan Vital” bagi Satu Juta Anak yang Membutuhkan

UNICEF

New York, Purna Warta – Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyebut gencatan senjata di Jalur Gaza sebagai “kesempatan vital” untuk melindungi satu juta anak Palestina yang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Baca juga: Israel Gunakan Gaza sebagai Tempat Pembuangan Limbah Konstruksi Permukiman

Selama dua tahun genosida Israel di Gaza, dari Oktober 2023 hingga Oktober 2025, rezim pendudukan telah menewaskan sedikitnya 68.519 warga Palestina, banyak di antaranya adalah anak-anak.

Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, mengatakan pada Minggu bahwa perjanjian gencatan senjata di Gaza merupakan “kesempatan penting bagi kelangsungan hidup, keselamatan, dan martabat anak-anak” di wilayah Palestina tersebut.

“Operasi militer Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan kehancuran besar-besaran. Kata-kata dan angka saja tidak dapat menggambarkan besarnya dampak terhadap anak-anak yang saya saksikan—dampak yang akan terasa selama beberapa generasi,” ujar Beigbeder dalam pernyataannya.

Ia menambahkan, “Meskipun akan memakan waktu, masa depan yang inklusif dan berfokus pada hak-hak satu juta anak Gaza masih mungkin diwujudkan—dengan perdamaian, tindakan nyata, dan tekad bersama.”

Menurut perkiraan PBB, jumlah korban tewas dan terluka akibat perang Israel di Gaza mencakup lebih dari 64.000 anak. Selain itu, puluhan ribu anak telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya sejak perang genosida dimulai.

Beigbeder menegaskan bahwa anak-anak Palestina di Gaza telah mengalami trauma dan ketakutan setiap hari selama perang.

“Satu juta anak telah menanggung kengerian hidup sehari-hari di tempat paling berbahaya di dunia untuk menjadi seorang anak, meninggalkan luka mendalam berupa ketakutan, kehilangan, dan kesedihan,” ujarnya.

UNICEF, kata Beigbeder, kini tengah berupaya menyelamatkan anak-anak dari ancaman yang dapat dicegah seperti kekurangan gizi, penyakit, dan cuaca dingin di musim dingin.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak Palestina yang kehilangan masa depan akibat perang.

Baca juga: AS Menahan Jurnalis Pro-Palestina Sami Hamdi di Bawah Tekanan Lobi Israel

“Pentingnya memulihkan pendidikan dalam tahap awal pemulihan ini tidak bisa dilebih-lebihkan. Setelah dua tahun kehilangan waktu belajar, keluarga tahu bahwa kembalinya pendidikan yang layak akan menjadi dasar bagi pembelajaran, penyembuhan, harapan, dan kohesi sosial jangka panjang di komunitas mereka,” katanya, sambil menambahkan bahwa “pergerakan bantuan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan” sangat dibutuhkan.

Beigbeder juga menyoroti perlunya peningkatan volume bantuan UNICEF yang diizinkan masuk ke Gaza oleh pasukan Israel, seraya menegaskan bahwa jumlah yang diperbolehkan saat ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga sipil.

Ia menyerukan kepada pasukan pendudukan Israel untuk melonggarkan pembatasan jalur akses dan membuka semua perlintasan perbatasan secara bersamaan agar bantuan kemanusiaan, peralatan, dan pasokan penting dapat masuk melalui semua jalur yang memungkinkan, termasuk Mesir, Yordania, dan Tepi Barat.

Namun, meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak awal bulan ini, rezim Israel terus menggunakan bantuan kemanusiaan di Gaza sebagai senjata perang terhadap warga Palestina.

Seorang pejabat senior dari organisasi kemanusiaan Dokter Tanpa Batas (MSF), Caroline Willemen, menegaskan bahwa bantuan yang dikirim ke Jalur Gaza tidak boleh diikat dengan persyaratan politik.

Koordinator proyek MSF di Gaza mengatakan pada Minggu bahwa penembakan hampir setiap hari oleh pasukan Israel masih berlangsung, dan menyinggung serangan besar yang terjadi pada 19 Oktober.

Ia mengakui bahwa serangan Israel memang menurun sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, setelah lebih dari dua tahun pembantaian tanpa henti, namun kondisi kemanusiaan di Gaza belum banyak membaik.

“Menjelang musim dingin, ratusan ribu warga Palestina masih hidup di tenda-tenda,” ujar Willemen. “Penduduk Gaza telah hidup di bawah ancaman pemusnahan massal selama dua tahun.”

Tim MSF, lanjutnya, masih menemukan banyak kasus kekurangan gizi berat pada anak-anak di bawah usia lima tahun serta pada ibu hamil. Meski ada sedikit peningkatan dalam ketersediaan makanan, status gizi warga Gaza tetap menjadi perhatian serius.

Ia juga menyoroti kekurangan air bersih, selimut, dan kasur tidur sebagai masalah utama lainnya.

“Kami sangat membutuhkan bantuan agar orang-orang dapat tidur di atas kasur dengan selimut di dalam tenda mereka. Membangun kembali Gaza akan memakan waktu lama, tetapi bahkan sekarang pun, kami belum mencapai standar kemanusiaan minimum di wilayah itu,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *