Israel Tewaskan Empat Warga Palestina Lagi di Gaza, Tingkatkan Operasi Militer di Tepi Barat

4 tepi barat

Gaza, Purna Warta – Sedikitnya empat warga Palestina tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam gelombang serangan terbaru Israel di Jalur Gaza, ketika rezim Israel terus melanjutkan operasi militernya meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata dengan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas).

Kementerian Kesehatan Gaza pada Selasa mengumumkan bahwa dalam kurun 24 jam terakhir, empat jenazah dan 14 korban luka telah dibawa ke berbagai rumah sakit di Jalur Gaza.

Menurut data kementerian tersebut, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober 2025, sedikitnya 1.207 warga Palestina dilaporkan tewas dan 3.914 orang lainnya terluka.

Kementerian juga menyatakan bahwa sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai 73.333 orang, sementara 174.023 orang lainnya mengalami luka-luka.

Hampir seluruh dari sekitar 2,3 juta penduduk Gaza, yang sebagian besar telah berulang kali mengungsi, kini tinggal di kawasan pesisir yang sempit dalam tenda-tenda darurat atau bangunan yang rusak akibat perang.

Meskipun gencatan senjata telah diumumkan, pasukan Israel disebut terus memperluas wilayah yang mereka kuasai dan kini mengendalikan sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza.

Laporan tersebut menyebut bahwa perluasan wilayah itu menunjukkan keberlanjutan kebijakan pendudukan Israel serta keengganannya untuk mematuhi kesepakatan yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan strategisnya.

Selain itu, sebagian besar infrastruktur vital Gaza—termasuk rumah sakit, jaringan air bersih, dan sistem sanitasi—dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat operasi militer Israel.

Operasi Militer Israel di Tepi Barat Berlanjut

Sementara itu, pasukan Israel juga melancarkan penggerebekan di berbagai wilayah Tepi Barat pada Selasa dini hari. Operasi tersebut disertai penghancuran rumah-rumah warga serta penangkapan sedikitnya 21 warga Palestina, termasuk seorang perempuan.

Pejabat Palestina menyatakan bahwa militer Israel menghancurkan dua rumah di desa Deir Razih, tenggara Dura di Provinsi Al-Khalil (Hebron), serta satu bangunan lainnya di desa Shaqba, sebelah barat Ramallah.

Di desa Deir Samit, sebelah barat Al-Khalil, warga melaporkan bahwa pasukan Israel memasuki wilayah tersebut dengan menembakkan gas air mata dan granat kejut sebelum menyerang sejumlah penduduk.

Sumber-sumber Palestina juga melaporkan bahwa para pemukim Israel menyerang sebuah rumah warga Palestina di kawasan Khallat al-Homs, selatan Al-Khalil.

Menurut laporan, sejak Senin otoritas Israel telah menghancurkan 11 rumah dan tiga bangunan lainnya di wilayah Yerusalem Timur, Ramallah, dan Jenin.

Pemerintah Israel menyatakan bahwa pembongkaran dilakukan karena bangunan-bangunan tersebut tidak memiliki izin pembangunan. Namun, warga Palestina dan berbagai organisasi internasional menegaskan bahwa memperoleh izin pembangunan di Area C Tepi Barat hampir tidak mungkin dilakukan.

Area C mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat dan masih berada di bawah kendali penuh militer Israel.

Sedikitnya 21 Warga Palestina Ditangkap

Sumber Palestina menyebutkan bahwa sedikitnya 21 orang ditangkap dalam operasi tersebut.

Rinciannya meliputi:

  • delapan orang di Nablus, termasuk seorang perempuan;
  • sejumlah warga lainnya di Jenin;
  • Tulkarm;
  • Ramallah; dan
  • desa Kafr Qaddum dekat Qalqilya.

Data PBB Mengenai Kekerasan Pemukim Israel

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan telah mendokumentasikan lebih dari 1.330 insiden yang melibatkan pemukim Israel di Tepi Barat sejak awal tahun 2026. Insiden-insiden tersebut mengakibatkan korban jiwa maupun kerusakan terhadap harta benda warga Palestina.

Menurut OCHA, sejak Kamis pekan lalu sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan yang berkaitan dengan pemukim Israel.

Selain korban jiwa, rumah-rumah, masjid, pepohonan, dan fasilitas pertanian juga mengalami kerusakan atau kehancuran, sementara sedikitnya 10 keluarga Palestina terpaksa mengungsi.

OCHA juga mencatat bahwa sejak awal tahun ini, 77 warga Palestina, termasuk 18 anak-anak, tewas di Tepi Barat akibat tindakan pasukan Israel maupun para pemukim Israel.

Peningkatan Ketegangan di Tepi Barat

Sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, Tepi Barat mengalami peningkatan signifikan dalam operasi militer Israel maupun serangan oleh para pemukim.

Laporan Komisi Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Palestina yang diterbitkan pada 6 Juli mencatat bahwa selama enam bulan pertama tahun ini telah terjadi 3.488 serangan yang dilakukan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *