Purna Warta –
rekuensi buang air kecil yang berkurang pada anak sering membuat orang tua khawatir dan mengaitkannya dengan gagal ginjal. Padahal, kondisi tersebut belum tentu menandakan adanya gangguan ginjal. Orang tua perlu memahami tanda-tanda yang patut diwaspadai agar dapat segera membawa anak ke dokter bila diperlukan.
Dokter spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya mengimbau orang tua agar tidak terburu-buru panik ketika mendapati anak lebih jarang buang air kecil (BAK). Menurutnya, frekuensi dan jumlah urine pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Amati Warna Urin Anak
Selain memperhatikan frekuensi buang air kecil, dr. Reza juga mengingatkan pentingnya mengamati warna dan aroma urine sebagai indikator awal kondisi kesehatan anak.
“Mom & Dad, selain melihat frekuensi pipis, lihat juga bagaimana warna pipis anak. Kalau warnanya menjadi lebih pekat atau berubah, kemudian baunya menjadi lebih menyengat, ini perlu diwaspadai dan dikonsultasikan ke dokter,” paparnya.
Menurut dr. Reza, berkurangnya frekuensi buang air kecil juga bisa menjadi tanda awal dehidrasi. Kondisi tersebut umumnya disertai gejala lain yang dapat dikenali melalui pengamatan sederhana di rumah.
“Atau misalnya anaknya terlihat lemas atau ada tanda-tanda dehidrasi, misalnya bibirnya kering, mulutnya kering, air matanya berkurang, kulitnya kering. Bisa jadi ini tanda dehidrasi dan mungkin si kecil membutuhkan asupan cairan yang lebih banyak,” jelas dr. Reza.


