Al-Quds, Purna Warta – Sumber-sumber berbahasa Ibrani menyebutkan bahwa mulai dari kekurangan peluru hingga ulah Menteri Itamar Ben-Gvir, berbagai persoalan kini membebani kepolisian rezim Israel.
Menurut laporan kelompok bahasa Ibrani kantor berita Tasnim, surat kabar Yedioth Ahronoth dalam sebuah laporan menyatakan bahwa akibat penggunaan senjata secara luas oleh kepolisian Israel terhadap warga Palestina, lembaga keamanan tersebut kini menghadapi kekurangan parah amunisi untuk senapan dinasnya.
Laporan tersebut mengakui bahwa akibat penembakan membabi buta terhadap penduduk ilegal—istilah yang digunakan warga Palestina untuk menyebut para pemukim Zionis—kepolisian Israel saat ini membutuhkan sekitar 130.000 butir peluru untuk senapan Arad 7. Jumlah tersebut sekitar 65 kali lipat dari persediaan yang saat ini dimiliki kepolisian.
Laporan itu selanjutnya menyebutkan bahwa setelah sekitar dua setengah tahun sejak kepolisian Israel menerima senapan Arad 7 (Arad 7), yang juga digunakan sebagai senjata dinas oleh unit-unit khusus dan elite, diketahui bahwa cadangan amunisinya telah menurun ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat ini, hanya sekitar 2.000 butir peluru yang tersisa di gudang kepolisian.
Kini, setelah persediaan mencapai tingkat terendah, kepolisian diminta segera menyediakan sekitar 130.000 butir peluru, atau setara dengan 65 kali jumlah amunisi yang tersisa.
Kekurangan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai perencanaan dan pengelolaan persediaan amunisi kepolisian, khususnya pada periode yang sensitif dari sisi keamanan, ketika skenario memburuknya atau kembali berkobarnya situasi dapat dengan cepat menyebabkan peningkatan konsumsi amunisi oleh unit-unit operasional.
Senjata-senjata tersebut dibeli sekitar dua setengah tahun lalu dan unit-unit kepolisian, termasuk unit khusus, mulai menggunakannya. Namun, meskipun telah berlalu cukup lama sejak pembelian dan penggunaan operasional senjata tersebut, kepolisian baru sekarang—setelah persediaan menurun hingga sekitar 2.000 butir peluru—mengajukan permintaan pembelian dalam jumlah besar dan mendesak.
Kepolisian mengaitkan penurunan tidak biasa dalam persediaan tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai “perubahan dalam persepsi profesional” dan peningkatan konsumsi amunisi (terhadap warga Palestina yang tidak berdaya). Menurut pengakuan para pejabat kepolisian, penembakan secara luas terhadap para migran ilegal yang berusaha memasuki (Palestina pendudukan) juga termasuk dalam konteks tersebut.
Perlu dicatat bahwa amunisi untuk senapan-senapan ini diperuntukkan bagi pasukan yang membutuhkan kemampuan menembak secara presisi dalam berbagai operasi. Dalam skenario memburuknya situasi keamanan secara tiba-tiba—baik di beberapa lokasi secara bersamaan maupun dalam operasi berkepanjangan—persediaan yang terbatas dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan operasional yang nyata.
Kepolisian Israel menyatakan terkait hal ini: “Demi alasan yang berkaitan dengan keamanan informasi, rincian lebih lanjut mengenai masalah ini tidak akan diberikan.”
Ketegangan antara Ben-Gvir dan Para Perwira Senior Kepolisian
Di sisi lain, surat kabar Israel Hayom melaporkan adanya ketegangan antara Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional rezim Zionis, dan para perwira tinggi kepolisian rezim tersebut.
Upacara penyambutan Tahun Baru Ibrani di lembaga kepolisian Israel berlangsung dalam kondisi ketika terjadi ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara kepala kepolisian dan Ben-Gvir.
Ketegangan tersebut sedemikian luas sehingga Ben-Gvir memilih untuk tidak menghadiri upacara tersebut dan menghindari kemungkinan menjadi sasaran kritik dari para jenderal kepolisian.
Persoalan mencapai puncaknya setelah Ben-Gvir menolak menandatangani surat keputusan promosi tahunan yang biasanya diberikan kepada para perwira senior kepolisian. Terlebih lagi, Ben-Gvir menyatakan bahwa untuk saat ini ia tidak bersedia menandatangani keputusan-keputusan tersebut dan baru akan mengesahkannya setelah pemilihan umum Knesset berakhir.
Hal tersebut menyebabkan pertemuan seremonial tahun ini berlangsung dalam suasana penuh ketegangan. Puluhan perwira senior yang sebelumnya mengharapkan promosi dan penunjukan jabatan, tetapi meninggalkan pertemuan dengan tangan kosong, dilaporkan sangat marah dan mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap tindakan Ben-Gvir.
Menurut media tersebut, Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, bermaksud menghentikan sepenuhnya proses pengangkatan pejabat di tingkat puncak struktur kepolisian. Namun, langkah tersebut mendapat reaksi dari kepala kepolisian Israel, yang kemudian mengirimkan surat bernada keras kepadanya.
Israel Hayom menambahkan bahwa keputusan tersebut berakar pada perbedaan pendapat yang tajam mengenai pengangkatan pejabat serta siapa saja yang akan mengisi posisi-posisi tersebut.
Di pusat ketegangan ini terdapat rencana komisaris jenderal untuk mempromosikan kepala kepolisian, Tamar Liberty, ke posisi wakil komisaris kepolisian. Langkah tersebut ditentang keras oleh Ben-Gvir, yang mengklaim bahwa pengangkatan itu berkaitan dengan Jaksa Agung, Gali Baharav-Miara, dan tidak seharusnya disahkan selama masa pemilihan umum.
Pendekatan Ben-Gvir tersebut telah menimbulkan kekecewaan yang mendalam di kalangan perwira kepolisian. Mereka menegaskan bahwa organisasi-organisasi keamanan lainnya tetap menjalankan proses pengangkatan dan promosi sebagaimana biasanya.
Pada tahap ini, tampaknya konflik antara menteri dan komisaris jenderal (kepala kepolisian) sama sekali belum berakhir. Kepolisian masih harus menanggung beban krisis administratif dan politik yang terus berlangsung.


