PBB Peringatkan Persediaan Kebutuhan Pokok di Gaza Segera Habis

PBB

New York, Purna Warta – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa persediaan kebutuhan pokok di Jalur Gaza semakin menipis seiring berlanjutnya agresi dan blokade Israel terhadap wilayah tersebut.

Menurut laporan pemberitaan di Palestina, meskipun hampir satu tahun telah berlalu sejak gencatan senjata sandiwara di Gaza dan pasukan Zionis masih terus melakukan berbagai kejahatan brutal serta melanggar kesepakatan tersebut dalam berbagai bentuk, PBB memperingatkan bahwa persediaan kebutuhan pokok di Jalur Gaza semakin menipis.

Stephane Dujarric, juru bicara PBB, mengatakan dalam konferensi pers pada Rabu malam bahwa pasukan pendudukan Israel terus melancarkan serangan terhadap kawasan padat penduduk, blok-blok permukiman, dan tempat-tempat penampungan. Akibat kondisi tersebut, warga sipil terus menjadi korban, sementara semakin banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan kembali mengungsi.

Juru bicara PBB tersebut menegaskan bahwa serangan udara Israel dan berbagai serangan lainnya masih menyasar kawasan padat penduduk di Jalur Gaza, sehingga membahayakan nyawa warga sipil dan semakin memperparah kebutuhan kemanusiaan di wilayah tersebut.

Ia menambahkan bahwa dua hari sebelumnya, Israel dalam sebuah serangan udara menargetkan sebuah bangunan di kamp pengungsi al-Bureij di bagian tengah Jalur Gaza serta dua sekolah yang dikelola PBB dan digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi para pengungsi.

Stephane Dujarric menjelaskan bahwa akibat serangan udara tersebut, sekitar 100 keluarga kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka. Keluarga-keluarga yang sebelumnya telah mengungsi kembali menghadapi gelombang pengungsian baru dan kehilangan tempat berlindung mereka.

Pejabat PBB tersebut menekankan bahwa kekurangan dana serta pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap masuknya bantuan dan perlengkapan menghambat upaya pengisian kembali persediaan kebutuhan pokok, sementara kebutuhan terus meningkat akibat pemboman dan pengungsian yang berlangsung tanpa henti.

Sebuah laporan PBB yang diterbitkan pada 20 Agustus menunjukkan bahwa sekitar 94 persen penduduk Jalur Gaza tidak memiliki tempat tinggal dan kebutuhan dasar untuk hidup. Kondisi ini menunjukkan skala bencana yang ditimbulkan oleh penghancuran besar-besaran terhadap rumah-rumah dan infrastruktur.

Dujarric selanjutnya menekankan perlunya menghormati warga sipil dan infrastruktur sipil setiap saat, termasuk tempat-tempat penampungan dan fasilitas kemanusiaan, di tengah semakin sulitnya menyediakan tempat perlindungan yang aman bagi para pengungsi di Jalur Gaza.

Seiring semakin dekatnya musim hujan, kekhawatiran mengenai berubahnya krisis tempat tinggal menjadi bencana yang jauh lebih parah juga terus meningkat. Pada awal September, PBB memperingatkan bahwa pembatasan terhadap masuknya peralatan berat dan suku cadang, ditambah kelangkaan bahan bakar yang parah, telah menghambat persiapan menghadapi musim hujan.

Dengan demikian, warga Gaza mendapati diri mereka terjebak dalam lingkaran setan: rumah-rumah dihancurkan, tempat-tempat penampungan menjadi tidak layak digunakan, dan keluarga-keluarga kembali mengungsi, sementara kapasitas respons kemanusiaan untuk menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan dasar bagi para pengungsi terus menurun.

Juru bicara PBB memperingatkan mengenai kondisi pengungsi yang semakin buruk menjelang datangnya musim dingin dan hujan. Ia mengatakan bahwa lebih dari 70 persen keluarga di Gaza terdampak banjir pada musim dingin lalu.

Ia menegaskan bahwa dana yang dibutuhkan untuk menyediakan tempat penampungan di Gaza diperkirakan mencapai sekitar 62 juta dolar AS, tetapi hingga kini baru seperempat dari total dana yang diperlukan yang telah tersedia.

Selain itu, menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sekitar dua dari setiap tiga keluarga di Gaza tinggal di tenda atau tempat penampungan sementara. Tempat-tempat tersebut dengan cepat mengalami kerusakan akibat kondisi cuaca yang berat karena pada dasarnya dirancang hanya untuk penggunaan jangka pendek.

Sementara itu, pengiriman tempat penampungan yang lebih tahan lama ke Jalur Gaza masih menghadapi berbagai hambatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *