Gaza, Purna Warta– Lebih dari 75.000 warga Palestina tewas dalam 16 bulan pertama perang genosida Israel di Gaza, angka yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan data resmi sebelumnya, menurut sebuah survei terbaru.
Survei penting bertajuk Gaza Mortality Survey (GMS), yang dipublikasikan pada Rabu di jurnal The Lancet Global Health—jurnal afiliasi dari The Lancet—memperkirakan terdapat 75.000 “kematian akibat kekerasan” antara 7 Oktober 2023 hingga 5 Januari 2025.
Angka tersebut sekitar 34,7 persen lebih tinggi dibandingkan 49.090 kematian yang dicatat oleh Kementerian Kesehatan Gaza untuk periode yang sama.
Para peneliti menyimpulkan bahwa angka resmi Palestina merupakan batas bawah yang konservatif, bukan suatu bentuk pembesar-besaran. Temuan ini muncul ketika rezim Israel selama berbulan-bulan berupaya meragukan data korban.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa hingga 16 Februari, sedikitnya 72.063 orang telah tewas sejak awal perang. Dari jumlah tersebut, 603 orang terbunuh setelah “gencatan senjata” diumumkan pada Oktober 2025.
Pada Januari, seorang pejabat militer Israel mengakui kepada media domestik bahwa sekitar 70.000 orang telah tewas di Gaza—sebuah pengakuan langka yang secara umum sejalan dengan laporan Palestina.
Survei GMS melibatkan 2.000 rumah tangga yang mewakili 9.729 individu di seluruh Gaza. Berbeda dengan studi pemodelan statistik sebelumnya, penelitian ini mengandalkan wawancara langsung dengan rumah tangga, sehingga memberikan verifikasi empiris terhadap jumlah korban tewas. Sebanyak 75.200 kematian akibat kekerasan yang terkonfirmasi setara dengan sekitar 3,4 persen dari populasi Gaza sebelum perang yang berjumlah 2,2 juta jiwa.
“Bukti gabungan menunjukkan bahwa hingga 5 Januari 2025, sekitar 3–4 persen populasi Jalur Gaza telah terbunuh akibat kekerasan, dan terdapat sejumlah besar kematian non-kekerasan yang disebabkan secara tidak langsung oleh konflik,” demikian isi laporan tersebut.
Yang krusial, para peneliti menyatakan bahwa rincian demografis yang dilaporkan otoritas Palestina tetap akurat. Perempuan, anak-anak, dan lansia mencakup 42.200 korban jiwa selama periode studi—sekitar 56,2 persen dari total korban.
Michael Spagat, profesor ekonomi di Royal Holloway, University of London sekaligus penulis utama studi, mengatakan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan secara lebih tepat jumlah korban jiwa warga Palestina yang tewas.
“Ini adalah survei yang sangat sensitif dan berpotensi sangat mengguncang [bagi responden], sehingga penting untuk melibatkan warga Palestina baik sebagai penanya maupun sebagai responden,” ujarnya.
Para penulis—yang terdiri dari ekonom, demografer, epidemiolog, dan spesialis survei—juga memperkirakan terdapat 16.300 kematian “non-kekerasan” yang terkait dampak tidak langsung perang. Dari jumlah tersebut, 8.540 diklasifikasikan sebagai “kematian berlebih” akibat runtuhnya kondisi kehidupan, layanan kesehatan, dan infrastruktur.
Komentar terpisah dalam jurnal tersebut menyebut adanya “paradoks sentral”: semakin luas kehancuran rumah sakit dan sistem administrasi, semakin sulit untuk mendokumentasikan secara menyeluruh skala kematian. Ribuan jenazah diyakini masih tertimbun reruntuhan atau belum ditemukan.
Penelitian sebelumnya yang diterbitkan di The Lancet pada Januari 2025 menggunakan pemodelan statistik capture-recapture dan memperkirakan 64.260 kematian dalam sembilan bulan pertama perang. Survei terbaru ini memperpanjang periode waktu penelitian dan beralih dari pemodelan probabilitas ke verifikasi langsung di lapangan, serta mengonfirmasi bahwa jumlah korban telah melampaui 75.000.
Analisis independen lainnya menyebutkan bahwa angka kematian akhir bisa jauh lebih tinggi ketika korban hilang dan kematian tidak langsung sepenuhnya diperhitungkan.
Sebuah studi terbaru oleh Geneva Academy of International Humanitarian Law and Human Rights menyebutkan bahwa jumlah korban tewas sebenarnya akibat perang genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza mungkin jauh lebih tinggi dan telah melampaui 200.000 jiwa.
Data yang dihimpun dalam studi tersebut menunjukkan bahwa populasi wilayah Palestina, yang sebelumnya melebihi 2,3 juta jiwa saat perang dimulai pada Oktober 2023, telah menyusut lebih dari 10 persen sejak saat itu.
Stuart Casey-Maslen, yang memimpin studi tersebut, mengatakan bahwa angka resmi yang diumumkan otoritas kesehatan Gaza hanya mencerminkan jumlah jenazah yang berhasil ditemukan dan didokumentasikan oleh tim medis.
Menurutnya, banyak korban kemungkinan masih tertimbun reruntuhan dan berada di luar jangkauan tim penyelamat, sehingga jumlah korban tewas yang sebenarnya bisa jauh lebih tinggi dibandingkan angka resmi.


