Sepertiga Warga Israel Disebut Tidak Memiliki Perlindungan Memadai dari Serangan Rudal

sepertiga

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah media Israel melaporkan bahwa sedikitnya sepertiga warga Israel tidak memiliki perlindungan dasar yang memadai terhadap serangan rudal. Laporan tersebut muncul setelah kerusakan besar yang ditimbulkan oleh serangan rudal Iran dalam konflik terbaru.

Menurut laporan yang dikutip Kantor Berita Mehr, media Israel The Times of Israel menyebutkan bahwa data terbaru menunjukkan sekitar sepertiga penduduk tidak memiliki akses terhadap fasilitas perlindungan minimum, seperti ruang aman (safe room) atau tempat perlindungan yang memenuhi standar, sehingga mereka berada dalam posisi rentan apabila terjadi serangan rudal.

Laporan tersebut juga mengkritik kinerja kabinet Israel yang dinilai gagal mengatasi kekurangan sistem perlindungan bagi rumah-rumah dan kawasan permukiman. Berbagai anggaran yang telah disetujui untuk memperbaiki infrastruktur perlindungan disebut belum direalisasikan, sementara keputusan-keputusan pemerintah terkait isu tersebut sebagian besar masih sebatas dokumen tanpa implementasi nyata.

Media itu menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya data atau informasi. Berbagai kelemahan dalam sistem perlindungan sipil telah didokumentasikan secara rinci, disertai statistik yang diperbarui secara berkala dan disampaikan kepada lembaga-lembaga terkait. Namun, berbagai pemerintahan Israel secara berturut-turut dinilai gagal mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa selama sebagian besar periode sejak persoalan ini pertama kali diidentifikasi, Benjamin Netanyahu menjabat sebagai Perdana Menteri Israel.

Perang antara Iran dan Israel pada Juni 2025 memperlihatkan bahwa sistem pertahanan berlapis Israel—yang terdiri dari Iron Dome, David’s Sling, Arrow-2, dan Arrow-3— belum mampu mencegat sebagian besar rudal dan drone yang diluncurkan Iran. Namun, bahkan banyak dari rudal balistik tetap berhasil menembus pertahanan dan menghantam wilayah perkotaan seperti Tel Aviv, Haifa, Beersheba, dan sekitarnya, menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada bangunan, fasilitas publik, dan kawasan permukiman.

Serangan tersebut kembali memunculkan perhatian terhadap kesenjangan perlindungan sipil di Israel. Meskipun bangunan baru umumnya diwajibkan memiliki mamad (ruang aman pribadi), banyak bangunan lama, terutama yang dibangun sebelum aturan tersebut diberlakukan, belum memiliki fasilitas perlindungan yang memadai. Selain itu, tidak semua wilayah memiliki bunker publik yang dapat dijangkau dengan cepat ketika sirene peringatan berbunyi.

Sejumlah laporan dari media Israel dalam beberapa tahun terakhir juga menyoroti bahwa banyak komunitas di wilayah utara dan selatan negara itu masih menghadapi keterbatasan infrastruktur perlindungan, termasuk kurangnya ruang aman di kawasan permukiman lama dan keterlambatan pelaksanaan program renovasi yang telah disetujui pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah Israel selama beberapa tahun terakhir telah mengalokasikan anggaran untuk memperkuat perlindungan sipil, termasuk pembangunan ruang aman baru, peningkatan bunker umum, dan modernisasi sistem peringatan dini. Namun, berbagai laporan audit negara dan pemberitaan media Israel menyebutkan bahwa pelaksanaan sejumlah proyek tersebut berjalan lambat sehingga sebagian masyarakat masih belum memperoleh perlindungan yang sesuai dengan standar keselamatan yang ditetapkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *