Al-Quds, Purna Warta – Media Israel melaporkan bahwa Kepala Mossad yang baru ditunjuk telah memberhentikan dua pejabat senior badan intelijen tersebut sehubungan dengan evaluasi atas kegagalan rencana yang disebut bertujuan mendorong perubahan rezim di Iran.
Menurut laporan Al Mayadeen, Channel 12 Israel mengungkapkan bahwa Kepala Mossad yang baru, Roman Gofman, mencopot dua pejabat berpangkat tinggi yang disebut memiliki peran penting dalam penyusunan strategi terkait Iran.
Berdasarkan laporan tersebut, pejabat yang diberhentikan adalah Kepala Direktorat Intelijen Mossad, yang mulai menjabat pada Desember tahun lalu, serta Kepala Divisi Iran di badan intelijen tersebut.
Media Israel itu menyebut bahwa keputusan pencopotan tersebut didasarkan pada pandangan Kepala Mossad bahwa pihak-pihak yang menyusun rencana perubahan rezim di Iran harus bertanggung jawab atas kegagalan strategi tersebut.
Sumber-sumber keamanan Israel juga mengatakan bahwa sejak awal telah terdapat perbedaan pandangan antara kedua pejabat tersebut dengan Roman Gofman. Namun, mereka menegaskan bahwa pemberhentian itu dilakukan atas dasar kesepakatan bersama sebagai bagian dari program restrukturisasi yang lebih luas di tubuh Mossad, dan kedua pejabat tersebut diperkirakan akan tetap bertugas dalam posisi lain di organisasi tersebut.
Laporan ini muncul beberapa hari setelah mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Gadi Eisenkot, menyatakan bahwa perang melawan Iran tidak memiliki tujuan yang jelas serta menilai bahwa upaya untuk mengubah sistem pemerintahan di Iran merupakan target yang sulit dicapai.
Roman Gofman diangkat sebagai Kepala Mossad pada 2026 untuk memimpin badan intelijen luar negeri Israel di tengah meningkatnya ketegangan regional. Sejak menjabat, sejumlah media Israel melaporkan adanya upaya reorganisasi internal dan evaluasi terhadap berbagai operasi strategis yang berkaitan dengan Iran.
Iran dan Israel telah lama terlibat dalam persaingan keamanan dan intelijen yang mencakup operasi siber, dugaan sabotase terhadap fasilitas strategis, pembunuhan ilmuwan, serta berbagai operasi rahasia di kawasan Timur Tengah.
Konflik langsung antara Iran dan Israel pada 2025 memicu peninjauan ulang terhadap strategi keamanan kedua belah pihak. Di Israel, sejumlah mantan pejabat militer dan analis keamanan secara terbuka menyerukan evaluasi terhadap efektivitas kebijakan yang diterapkan terhadap Iran, termasuk tujuan strategis dan hasil yang dicapai melalui operasi militer maupun intelijen.


