Harga minyak dunia naik, Brent mencapai US$83,15 per barel

Ali

Purna Warta – Harga minyak mentah di pasar global kembali naik dalam perdagangan Jumat. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Amerika Serikat naik 35 sen menjadi US$77,64 per barel, sementara minyak mentah Brent Laut Utara meningkat 66 sen menjadi US$83,15 per barel, menurut laporan Tasnim.

Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan lebih dari US$3 per barel yang terjadi pada perdagangan Kamis. Namun, meskipun harga minyak menguat dalam dua hari terakhir, kedua acuan utama tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 7 persen.

Vandana Hari, pendiri perusahaan analisis pasar minyak Vanda Insights, mengatakan bahwa sinyal yang muncul sepanjang pekan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman telah membuat pasar minyak bergerak sangat volatil. Menurutnya, hingga saat ini masih belum jelas perkembangan apa yang diperlukan agar kesepakatan tersebut benar-benar dapat terwujud.

Ketidakpastian Selat Hormuz menjadi faktor penting

Selain ketidakpastian mengenai situasi Selat Hormuz, eskalasi konflik di sejumlah wilayah lain di kawasan juga memberikan dukungan terhadap harga minyak karena meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Laut Merah.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak global dan meningkatkan premi risiko yang diperhitungkan oleh pasar.

Faktor lain yang menambah kekhawatiran mengenai pasokan adalah serangan drone Ukraina yang dilaporkan menyebabkan kebakaran di sebuah kilang minyak besar di Rusia. Gangguan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan produk minyak di pasar internasional.

Di sisi lain, investor juga menantikan laporan ketenagakerjaan nonpertanian Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan diperhatikan pasar untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Secara teori, suku bunga yang lebih tinggi dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan pada akhirnya menekan permintaan bahan bakar. Karena itu, selain faktor geopolitik dan pasokan, perkembangan kebijakan moneter AS juga menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah harga minyak dalam perdagangan berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *