AS relokasi pesawat tanker dari Israel ketika perang dengan Iran terus membebani Washington dan Tel Aviv

Tel Aviv1

Washington, Purna warta – Amerika Serikat mulai merelokasi sejumlah pesawat pengisi bahan bakar udara dari wilayah pendudukan Israel setelah pesawat-pesawat tersebut dikerahkan untuk mendukung perang terhadap Iran. Langkah ini berlangsung ketika tekanan militer, logistik, dan domestik yang ditimbulkan oleh konflik semakin membebani Washington maupun pemerintah Israel.

Situs berita Israel N12 melaporkan pada Kamis bahwa Angkatan Udara AS mulai memindahkan sebagian pesawat tanker yang dalam beberapa pekan terakhir ditempatkan di Bandara Ben Gurion. Menurut laporan tersebut, pemindahan dilakukan setelah Menteri Transportasi Israel Miri Regev mendesak pejabat militer untuk mengosongkan sebagian ruang di bandara karena memasuki salah satu periode perjalanan tersibuk sepanjang tahun.

Pesawat tanker Amerika tersebut disebut menempati posisi parkir yang dianggap penting di Bandara Ben Gurion. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan bandara menangani lonjakan jumlah penumpang selama musim panas. Dengan demikian, relokasi tersebut disebut-sebut memiliki alasan operasional, meskipun berlangsung di tengah meningkatnya tekanan akibat keterlibatan militer AS dalam konflik dengan Iran.

Langkah tersebut juga muncul setelah sejumlah laporan mengenai biaya militer yang harus ditanggung Washington akibat agresi terhadap Iran. Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa AS telah menarik sejumlah pesawat tempur dan peralatan militer lainnya dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar dan Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab setelah serangan balasan Iran menargetkan posisi militer Amerika di berbagai wilayah Asia Barat.

Citra satelit dilaporkan menunjukkan bahwa kedua instalasi tersebut sebagian besar telah dikosongkan dari pesawat dan sejumlah aset militer AS setelah serangan tersebut. Al Udeid, yang menjadi salah satu pusat utama operasi Komando Sentral AS di kawasan, serta Al Dhafra, yang berfungsi sebagai pusat penting untuk pengintaian, pengisian bahan bakar udara, dan operasi udara regional, sebelumnya memiliki peran penting dalam mendukung operasi militer AS-Israel terhadap Iran.

Menurut kronologi dalam laporan tersebut, konflik dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap wilayah Iran. Iran kemudian merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap aset militer AS dan Israel di berbagai wilayah Asia Barat, sekaligus memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz. Laporan tersebut menyatakan bahwa meskipun Iran dan AS kemudian menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad pada 17 Juni untuk mengakhiri perang di seluruh front, agresi militer AS berikutnya mendorong Teheran kembali melancarkan serangan rudal dan drone serta memberlakukan kembali pembatasan di jalur perairan strategis tersebut.

Relokasi pesawat tanker dari Israel juga disebut berlangsung setelah muncul laporan bahwa Pentagon mempertimbangkan pengurangan kehadiran militer AS di Kuwait menyusul serangkaian serangan rudal dan drone Iran yang menimbulkan kerugian signifikan bagi pasukan Amerika. Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip dalam artikel tersebut, serangan-serangan itu memicu perdebatan mengenai masa depan kehadiran militer AS di kawasan Teluk Persia.

Mantan Duta Besar AS untuk Kuwait Douglas Silliman mengatakan bahwa serangan tersebut membuat masyarakat Kuwait mulai memandang kehadiran AS sebagai sebuah beban keamanan. Ia menyatakan bahwa pihak-pihak terkait sedang berusaha menentukan bentuk pengaturan pertahanan yang paling tepat untuk masa depan.

Tekanan juga meningkat di dalam Israel

Sementara itu, ketegangan yang muncul akibat perang AS-Israel di kawasan juga disebut menambah tekanan terhadap Israel. Sebuah studi terbaru yang dilakukan para peneliti Universitas Tel Aviv menemukan bahwa lebih dari 90.000 orang meninggalkan wilayah pendudukan Israel selama sedikitnya tiga bulan berturut-turut pada 2025, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan tingkat emigrasi yang sangat tinggi.

Profesor Itai Ater mengatakan bahwa angka tersebut menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Menurutnya, semakin banyak warga, termasuk dokter, pekerja sektor teknologi, dan akademisi, yang tidak lagi menganggap Israel sebagai tempat tinggal mereka atau mulai meragukan masa depannya di sana. Ia juga mengatakan sebagian warga menunggu perkembangan politik dan pemilu sebelum menentukan apakah akan tetap tinggal.

Fenomena tersebut menjadi salah satu indikator tekanan sosial dan ekonomi yang dihadapi Israel di tengah konflik berkepanjangan. Selain biaya militer dan keamanan, meningkatnya emigrasi tenaga profesional berpotensi memengaruhi sektor kesehatan, teknologi, akademik, serta perekonomian dalam jangka panjang.

Namun, relokasi pesawat tanker dari Bandara Ben Gurion tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengurangan komitmen militer AS terhadap Israel. Berdasarkan informasi dalam laporan tersebut, pemindahan sebagian pesawat juga secara langsung dikaitkan dengan kebutuhan operasional Bandara Ben Gurion selama periode penerbangan yang padat. Oleh karena itu, dampak strategis keputusan tersebut perlu dibedakan dari alasan operasional yang dilaporkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *