Riyadh, Purna Warta – Kementerian Luar Negeri Pakistan, bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir ke Arab Saudi, mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penandatanganan “Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah” antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki. Berdasarkan kesepakatan strategis yang ditandatangani oleh para pemimpin ketiga negara tersebut, setiap serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh pihak.
Pertemuan trilateral mengenai “Pertahanan Bersama Makkah al-Mukarramah” berlangsung pada Jumat, 16 Mordad [7 Agustus], di Istana al-Safa di Kota Makkah. Pertemuan tersebut dihadiri Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, serta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Menurut pernyataan yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri Pakistan, pertemuan tersebut diselenggarakan atas undangan Raja Salman bin Abdulaziz selaku Penjaga Dua Masjid Suci. Selain meninjau hubungan bilateral dan trilateral antara Riyadh, Islamabad, dan Ankara, para pemimpin juga membahas perkembangan terbaru serta berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama.
Rincian Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah
Bagian utama pernyataan tersebut menyebutkan bahwa ketiga pemimpin, dengan berlandaskan hubungan historis yang telah berlangsung lama, solidaritas Islam, serta kepentingan strategis bersama, menandatangani Makkah Joint Defence Agreement atau Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah.
Pokok-pokok utama perjanjian tersebut meliputi:
Pencegahan kolektif: membangun dan memperkuat daya tangkal bersama terhadap segala bentuk tindakan agresi dari luar.
Pertahanan timbal balik: menegaskan bahwa “setiap serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya.”
Pengembangan kerja sama militer: memperluas hubungan dan kerja sama di bidang pertahanan, persenjataan, dan keamanan antara Riyadh, Ankara, dan Islamabad.
Stabilitas regional: bekerja sama untuk memperkuat keamanan kolektif serta meningkatkan perdamaian dan stabilitas di kawasan dan sekitarnya.
Penandatanganan perjanjian trilateral tersebut berlangsung ketika sejumlah pejabat senior politik dan militer Pakistan, termasuk Jenderal Asim Munir, turut mendampingi Perdana Menteri Shehbaz Sharif dalam kunjungan ke Arab Saudi. Kehadiran pimpinan militer Pakistan menunjukkan bahwa dimensi pertahanan dan keamanan menjadi salah satu unsur penting dalam kesepakatan tersebut.
Secara strategis, klausul bahwa serangan terhadap satu negara dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota merupakan unsur paling signifikan dalam perjanjian tersebut. Klausul ini menciptakan bentuk komitmen pertahanan kolektif di antara tiga negara yang memiliki kapasitas militer dan posisi geopolitik penting di dunia Islam.
Bagi Pakistan dan Turki, kerja sama ini memperluas koordinasi keamanan dengan Arab Saudi, sementara bagi Riyadh, keterlibatan Ankara dan Islamabad memberikan tambahan dimensi strategis terhadap kebijakan pertahanannya. Pakistan merupakan negara dengan kemampuan nuklir, Turki merupakan anggota NATO dengan industri pertahanan yang berkembang, sedangkan Arab Saudi memiliki posisi ekonomi dan geopolitik penting di kawasan Teluk.
Namun, penerapan praktis klausul pertahanan bersama tersebut akan sangat bergantung pada rincian mekanisme yang disepakati, termasuk definisi “serangan bersenjata”, bentuk respons bersama, serta prosedur pengambilan keputusan apabila salah satu negara menghadapi ancaman. Karena itu, dampak keamanan regional dari perjanjian tersebut akan lebih jelas setelah rincian implementasinya dipublikasikan.


