Al-Quds, Purna Warta – Pasukan Israel menyerang sejumlah jurnalis, termasuk koresponden Press TV, Naqqa Hamed, yang sedang meliput penggerebekan di Kamp Pengungsi Qalandiya, Tepi Barat yang diduduki. Pasukan Israel menggunakan granat kejut dan gas air mata terhadap para wartawan yang mengenakan rompi dan helm bertanda pers saat mereka mendokumentasikan operasi tersebut.
Pasukan Israel menargetkan para jurnalis ketika melanjutkan operasi penggerebekan untuk hari kedua berturut-turut di Kamp Pengungsi Qalandiya, yang terletak di utara Yerusalem Timur yang diduduki. Otoritas Palestina melaporkan adanya korban luka, penangkapan, serta kerusakan rumah-rumah warga akibat operasi tersebut.
Serangan terhadap para wartawan terjadi ketika mereka sedang meliput operasi militer Israel dan berbagai dugaan pelanggaran yang berlangsung di kamp pengungsi tersebut. Laporan menyebutkan bahwa serangan dilakukan menggunakan granat kejut, meskipun para jurnalis telah mengenakan identitas pers secara jelas.
Insiden ini terjadi setelah serangan sebelumnya pada Desember lalu, ketika koresponden Press TV, Naqqa Hamed, mengalami luka akibat tembakan peluru karet yang dilepaskan pasukan Israel saat ia sedang melakukan siaran langsung dari Kamp Qalandiya.
Kepala Komite Layanan Rakyat Kamp Pengungsi Qalandiya yang berafiliasi dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Mohammad Aslan, mengatakan tiga warga Palestina mengalami luka serius, termasuk satu orang yang mengalami patah tulang tengkorak akibat pemukulan berat.
Sekitar 60 orang lainnya mengalami sesak napas akibat menghirup gas air mata. Selain itu, rumah-rumah warga digeledah, sementara harta benda, termasuk uang tunai dan perhiasan emas, dilaporkan turut disita selama penggerebekan, kata Aslan.
Ia menggambarkan kondisi di dalam kamp sebagai “sangat sulit”, seraya menyatakan bahwa pasukan Israel telah mengubah sekitar delapan rumah warga menjadi pos militer serta menahan sekitar 20 warga Palestina.
“Sungguh memalukan bahwa dunia menyaksikan apa yang terjadi di Kamp Pengungsi Qalandiya namun tetap berdiam diri. Kami berharap masyarakat internasional segera menghentikan sikap diamnya terhadap penyiksaan dan perlakuan buruk yang dialami para penduduk,” ujar Aslan.
Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan bahwa tim medisnya telah memberikan perawatan kepada 10 orang yang terluka akibat serangan Israel dan mengevakuasi sebagian dari mereka. Organisasi itu juga menyebut bahwa pasukan Israel menghalangi tim medis memasuki kamp sepanjang malam, sehingga sejumlah pasien tidak dapat dijangkau.
Sumber-sumber lokal juga melaporkan bahwa pasukan Israel memasang bahan peledak di dalam sebuah rumah warga Palestina setelah mengosongkannya, yang mengakibatkan sebagian bangunan hancur sebelum pemilik rumah tersebut ditangkap.
Pasukan Israel telah meningkatkan intensitas penggerebekan di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023. Menurut otoritas Palestina, operasi-operasi tersebut telah menewaskan lebih dari 1.100 warga Palestina, melukai ribuan lainnya, serta memicu penangkapan massal, penghancuran rumah, dan pengungsian lebih lanjut.


