Washington, Purna Warta – The New York Times menjadikan Bahrain sebagai contoh ketergantungan negara-negara Teluk pada payung perlindungan Amerika Serikat. Surat kabar tersebut menekankan bahwa selama puluhan tahun Bahrain menjadi tuan rumah bagi pangkalan angkatan laut Amerika Serikat terbesar di kawasan, dengan harapan pangkalan tersebut dapat memberikan perlindungan kepada Bahrain. Namun, dalam perang regional ini, pangkalan tersebut, seperti halnya pangkalan dan fasilitas Amerika Serikat lainnya di negara-negara Teluk, juga menjadi sasaran serangan berulang Iran dan nyaris hancur.
Surat kabar tersebut, dengan mengutip seorang pejabat militer Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa sebagian besar pelaut yang ditempatkan di pangkalan tersebut telah dipindahkan ke Florida, sementara hanya sejumlah kecil personel yang masih berada di sana.
Kegagalan Strategis Amerika Serikat dan Negara-Negara Teluk dalam Menghadapi Iran
Laporan tersebut selanjutnya menyebutkan bahwa perang ini telah menimbulkan kerugian besar bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di kawasan. Penutupan secara efektif Selat Hormuz oleh Iran disebut sebagai kekalahan strategis besar sekaligus kemunduran ekonomi bagi negara-negara Teluk yang menjadi eksportir energi.
The New York Times menyatakan bahwa ketidakmampuan militer Amerika Serikat untuk menangkal serangan Iran menunjukkan kegagalan strategis lainnya yang dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi negara-negara Teluk dan kemampuan Amerika Serikat dalam memproyeksikan kekuatannya.
Media Amerika tersebut menambahkan bahwa, meskipun demikian, Bahrain dan negara-negara Teluk lainnya, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, tidak memiliki satu alternatif tunggal dan terpadu sebagai penjamin keamanan mereka.
Laporan tersebut menegaskan bahwa negara-negara Teluk telah menghabiskan miliaran dolar untuk membeli persenjataan canggih. Namun, militer mereka berukuran lebih kecil dan lebih lemah dibandingkan militer Iran. Sementara itu, China dan Rusia, meskipun memiliki hubungan erat dengan negara-negara Teluk, tidak memberikan bantuan kepada mereka.
Menurut laporan tersebut, upaya negara-negara Teluk untuk menemukan jalur keamanan alternatif dan mencapai kemandirian pertahanan yang lebih besar masih berada pada tahap uji coba. Hal ini karena berbagai kesepakatan yang bertujuan meningkatkan keamanan regional, seperti pakta pertahanan baru antara Arab Saudi dan Pakistan, belum benar-benar teruji.
Negara-Negara Teluk Menyadari Bahwa Mereka Bukan Prioritas Amerika Serikat
The New York Times menekankan bahwa masih belum jelas apakah negara-negara tersebut bersedia dan mampu memberikan bantuan kepada negara-negara Teluk. Oleh karena itu, pilihan yang dinilai paling realistis bagi negara-negara Teluk adalah membangun kemitraan pertahanan yang “melengkapi payung keamanan Amerika, tetapi tidak menggantikannya”.
Media Amerika tersebut mencatat bahwa serangan Iran terhadap perekonomian negara-negara Teluk yang kaya minyak telah menimbulkan kerugian dan merusak citra mereka sebagai tempat perlindungan yang aman di kawasan yang dilanda kekacauan. Perang ini juga menunjukkan bahwa sistem pertahanan canggih di negara-negara Teluk tidak selalu mampu bertahan terhadap serangan, sementara Iran dapat menggunakan sejumlah besar pesawat nirawak yang relatif murah untuk menimbulkan kerugian besar terhadap negara-negara tersebut.
Surat kabar tersebut, dengan mengutip Christian Alexander, peneliti senior di Rabdan Security and Defence Institute, sebuah lembaga penelitian pemerintah di Uni Emirat Arab, menulis bahwa ketika menghadapi serangan balasan Iran yang intens, Amerika Serikat memprioritaskan perlindungan terhadap pasukannya sendiri dan Israel. Prioritas tersebut tidak sejalan dengan kebutuhan negara-negara Teluk untuk melindungi bandara, pelabuhan, dan fasilitas desalinasi air mereka.
The New York Times juga melaporkan bahwa kekurangan rudal pencegat Amerika Serikat pada pekan-pekan awal perang menjadi tantangan besar bagi negara-negara Teluk dan mendorong mereka untuk meminta bantuan dari Ukraina serta negara-negara Eropa lainnya. Namun, meskipun demikian, negara-negara tersebut tetap tidak mampu menunjukkan kemampuan pertahanan yang memadai dalam menghadapi serangan Iran.


