Al-Quds, Purna Warta – Media-media rezim Zionis melaporkan bahwa sirene peringatan bahaya berbunyi di permukiman Margaliot dan Manara di wilayah utara Palestina yang diduduki, menyusul kekhawatiran akan kemungkinan serangan drone.
Baca juga: Netanyahu Kembali Mengulangi Klaim terhadap Iran dan Poros Perlawanan
Menurut Al Jazeera, media-media Lebanon dengan mengutip kanal-kanal berita berbahasa Ibrani melaporkan bahwa sirene peringatan bahaya di permukiman Margaliot dan Manara, di kawasan Galilea Atas, utara Palestina yang diduduki, diaktifkan karena kekhawatiran terhadap serangan dan infiltrasi drone.
Belum ada informasi lebih lanjut mengenai insiden tersebut. Namun, militer rezim Zionis menyatakan telah meluncurkan rudal pencegat ke arah sebuah sasaran di wilayah udara Galilea Atas dan bahwa rincian insiden tersebut masih dalam penyelidikan.
Radio militer rezim Zionis mengklaim bahwa bunyinya sirene peringatan di Galilea Atas disebabkan oleh kesalahan identifikasi.
Peristiwa tersebut juga dilaporkan oleh media Israel pada 17 September 2026. Menurut The Times of Israel, sirene di Manara dan Margaliot berbunyi karena dugaan infiltrasi drone dari Lebanon. Sebuah rudal pencegat dilaporkan diluncurkan di kawasan tersebut, sementara militer Israel menyatakan masih menyelidiki insiden itu.
Dalam perkembangan lain, Lebanon24 melaporkan bahwa Komando Front Dalam Negeri Israel kemudian menyatakan bahwa insiden di kawasan Manara dan Margaliot telah berakhir. Kanal 12 Israel, menurut laporan tersebut, menyebut sirene itu sebagai akibat dari kesalahan identifikasi.
Insiden serupa juga terjadi pada awal September. Pada 2 September, sirene peringatan di sejumlah permukiman di Galilea Atas diaktifkan setelah adanya kekhawatiran mengenai masuknya sebuah objek udara dari Lebanon. Militer Israel kemudian menyatakan bahwa rudal pencegat telah diluncurkan terhadap sasaran udara yang diduga berasal dari Lebanon, sementara laporan selanjutnya menyebut insiden tersebut kemungkinan merupakan alarm palsu akibat kesalahan identifikasi objek di udara.
Sementara itu, ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel terus meningkat meskipun terdapat kesepakatan penghentian permusuhan. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan Israel terhadap sejumlah wilayah di Lebanon selatan terus dilaporkan. Pada 4 September, serangan udara Israel terhadap Kfar Reman, dekat Nabatieh, dilaporkan menewaskan tiga orang dan melukai sedikitnya 23 lainnya. Pada 6 September, serangan udara Israel di sejumlah wilayah Lebanon selatan kembali dilaporkan menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 20 lainnya.
Baca juga: Majelis Umum PBB Setujui Mahmoud Abbas Berpidato melalui Video
PBB juga melaporkan peningkatan aktivitas militer di wilayah operasi UNIFIL dan sekitarnya. Dalam pengarahan pada 8 September, PBB menyatakan bahwa UNIFIL mendeteksi 528 proyektil yang ditembakkan oleh militer Israel antara Kamis dan Senin, serta mencatat 62 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh Israel hanya pada hari Minggu. UNIFIL juga melaporkan adanya serangan udara dan operasi darat di sejumlah kawasan.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membahas serangan Israel yang sedang berlangsung terhadap Lebanon serta pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian permusuhan. Berri menyerukan tindakan untuk menghentikan serangan tersebut dan memperingatkan mengenai konsekuensi berbahaya apabila situasi terus dibiarkan.


