Teheran, Purna Warta – Ketua Parlemen Iran mengatakan era tatanan internasional unipolar di mana konsesi diperoleh melalui kekerasan dan paksaan telah berakhir, dan memuji Rusia dan Tiongkok karena memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang didukung AS mengenai pemantauan sanksi terhadap Iran.
Mohammad Baqer Qalibaf membuat pernyataan tersebut dalam sebuah postingan di akun X-nya setelah pemungutan suara Dewan Keamanan pada hari Kamis, dengan mengatakan bahwa veto Rusia dan Tiongkok telah menolak penyalahgunaan politik terhadap dewan tersebut.
“Tatanan unipolar di mana satu pihak memberikan konsesi melalui kekerasan dan paksaan telah berakhir,” tulisnya.
“Veto Tiongkok dan Rusia menolak penyalahgunaan politik Dewan Keamanan dan menegaskan kembali supremasi hukum,” tambah Qalibaf.
“Kita harus membela multilateralisme; unilateralisme tidak menguntungkan kepentingan siapa pun,” kata juru bicara Parlemen Iran.
Pesannya muncul setelah Rusia dan Tiongkok memveto resolusi Dewan Keamanan yang didukung AS pada hari Kamis yang berupaya memperluas mandat panel ahli yang bertugas memantau sanksi PBB terhadap Iran.
Keputusan tersebut mendapat 11 suara setuju, namun veto dari dua anggota tetap menghalangi penerapannya.
Mandat panel tersebut akan berakhir pada tanggal 27 September. Para ahli belum ditunjuk pada tahun sebelumnya karena perbedaan pendapat di antara anggota Dewan Keamanan.
“Kami sangat mendesak rekan-rekan Barat untuk menghentikan tindakan mereka yang sangat berbahaya di front Iran, yang mengancam komplikasi lebih lanjut dalam penyelesaian krisis di Teluk Persia,” kata Vassily Nebenzia, Duta Besar Rusia untuk PBB kepada Dewan Keamanan setelah pemungutan suara.
Misi Iran di PBB juga berterima kasih kepada Rusia dan Tiongkok karena menentang rancangan resolusi AS yang “bermotif politik”.


