Purna Warta – Sejak dimulainya perang Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan-tujuan yang diumumkan dari operasi tersebut gagal tercapai, tetapi juga semakin banyak bukti yang menunjukkan kebuntuan strategis serta kegagalan militer dan politik pihak-pihak penyerang mulai terlihat.
Baca juga: Tiga Kapal Tanker Iran Lainnya Berhasil Menembus Blokade Laut Amerika
Kantor berita Mehr melaporkan bahwa perang ini, yang dimulai dengan serangan besar-besaran dan pembunuhan warga sipil termasuk para pelajar tak berdosa, dengan cepat berkembang menjadi krisis kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi berskala luas serta memicu berbagai reaksi dari media internasional. Meskipun gencatan senjata selama dua minggu sempat tercapai dan kemudian diperpanjang oleh Donald Trump, jalan menuju berakhirnya agresi secara nyata masih panjang dan rumit.
Media-media dunia, masing-masing dengan pendekatan tersendiri, berupaya membentuk narasi perang ini. Menelaah pantulan pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi sebenarnya dari perang dan prospeknya ke depan.
Media Barat
Media analisis The Conversation dalam laporannya yang mengutip pandangan para pakar internasional menulis bahwa perang dua bulan terakhir telah memperlihatkan keterbatasan inheren kekuatan Amerika Serikat dalam menghadapi ketahanan Iran. Menurut Christian Emery, pakar hubungan internasional dari University College London, tidak adanya keselarasan strategis antara tujuan Washington dan Tel Aviv telah mengubah seluruh operasi menjadi sebuah “kegagalan strategis besar”.
Laporan itu menambahkan bahwa meskipun Amerika dan Israel memiliki keunggulan militer mutlak, keduanya mengejar tujuan berbeda dan meremehkan kemampuan Iran dalam bertahan menghadapi tekanan. Para analis keamanan dari City St George’s University London menegaskan bahwa Iran tidak perlu meraih kemenangan militer penuh; cukup dengan “bertahan”, Teheran telah mampu menggagalkan harapan Washington untuk memperoleh kemenangan telak.
The Conversation juga menyoroti perubahan narasi Gedung Putih yang kini mengklaim operasi “Epic Rage” telah berakhir sebulan lalu dan kehadiran militer saat ini hanya merupakan “misi kemanusiaan”. Pergantian istilah ini terjadi bersamaan dengan tekanan Kongres berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Perang.
Dalam bagian lain analisis tersebut, disebutkan dampak ekonomi perang termasuk inflasi 50 persen di Iran. Di akhir laporan disebutkan pula bahwa China memperoleh keuntungan dari melemahnya pengaruh Amerika di Timur Tengah, sementara Menteri Luar Negeri Iran dalam kunjungannya ke Beijing kembali menegaskan hak sah Teheran untuk menggunakan energi nuklir secara damai.
Baca juga: Sistem Peringatan Rudal “Shoal” Dinonaktifkan/ Perwira Zionis: “Kami Bertindak Seperti Tikus Buta!”
Sementara itu, harian The Guardian dalam analisisnya menulis bahwa ketergantungan semata pada kekuatan militer dan tekanan ekonomi oleh Donald Trump tidak membawa Amerika Serikat menuju hasil apa pun terkait Iran dan menyerukan pendekatan yang lebih realistis dalam perundingan. Menurut media Inggris tersebut, Washington mengajukan tuntutan yang hampir setara dengan “pelucutan senjata sepihak” Iran dalam bidang nuklir, misil, dan jaringan proksinya. Padahal Teheran memandang kemampuan tersebut sebagai jaminan kelangsungan hidupnya, sehingga tekanan lebih besar justru memperkuat tekad Iran mempertahankan instrumen pencegahannya.
The Guardian menambahkan bahwa diplomasi koersif seperti yang pernah diterapkan di Bosnia dan Kosovo hanya berhasil ketika tuntutannya tidak mengancam eksistensi pihak lawan. Rekam jejak Trump yang menarik Amerika keluar dari kesepakatan nuklir JCPOA telah memperdalam ketidakpercayaan Iran terhadap komitmen Washington. Oleh karena itu, untuk memecah kebuntuan, Amerika perlu memberikan jaminan dan insentif ekonomi yang signifikan termasuk pencabutan sanksi.
Laporan itu menyimpulkan bahwa jika perundingan komprehensif tidak memungkinkan, bentuk kesepakatan paling realistis adalah pemulihan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dan penghentian ketegangan militer. The Guardian menegaskan bahwa meskipun kesepakatan semacam itu bukan kemenangan penuh, setidaknya dapat menghentikan erosi lebih lanjut terhadap kekuatan Amerika. Di akhir analisis, media tersebut menyebut sikap keras Trump sebagai bentuk “kesombongan” yang menganggap kekuatan militer dapat menggantikan diplomasi nyata, sesuatu yang menurut mereka berulang kali berakhir gagal mulai dari Irak hingga Ukraina.
Media Arab dan Regional
Al-Quds Al-Arabi dalam artikelnya berjudul “Perang terhadap Iran Memecah Tatanan Arab” membahas dampak konflik Iran-Amerika terhadap negara-negara Arab Teluk. Artikel itu menyebut dalam dua hari terakhir muncul tanda-tanda optimisme di dunia dan kawasan Arab terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan cepat antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk pembicaraan intensif mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Media tersebut menilai perang terhadap Iran sedang mengguncang tatanan Arab. Kemunculan faktor geografis dalam menghadapi superioritas teknologi disebut bukan hanya kejutan besar, tetapi juga mempercepat munculnya unsur-unsur krisis dalam sistem Arab yang sebelumnya telah terguncang oleh perang Gaza serta konflik Lebanon dan Yaman. Artikel itu menambahkan bahwa perang Amerika dan Israel terhadap Iran juga menimbulkan kerugian besar bagi negara-negara Teluk seperti Saudi Arabia, Qatar, Bahrain, Kuwait, United Arab Emirates, dan Oman yang sebelumnya mengandalkan perlindungan keamanan Amerika.
Sementara itu, Al Jazeera melaporkan saling tuding antara Amerika dan Iran terkait bentrokan terbaru di Selat Hormuz. Iran menuduh militer Amerika melanggar gencatan senjata melalui serangan udara terhadap wilayah pesisir dan kapal tanker Iran, sedangkan Washington mengklaim Iran menyerang pasukan Amerika sehingga mereka terpaksa membela diri. Dalam versi awal Iran, insiden bermula dari serangan Amerika terhadap sebuah tanker Iran, lalu pasukan Iran menyerang kapal perang Amerika. Disebutkan pula tiga kapal perusak Amerika menjadi sasaran rudal dan drone Angkatan Laut Iran.
Media Arabi21 dalam analisisnya menyatakan bahwa hambatan utama tercapainya kesepakatan antara Amerika dan Iran adalah krisis kepercayaan. Menurut mereka, proses negosiasi selalu berputar dalam siklus yang sama: dimulai dengan diplomasi, berpindah ke media, diikuti ancaman kekuatan, inisiatif yang tidak jelas, lalu kembali lagi ke diplomasi melalui mediator sebelum kembali ke perang narasi media. Selama kecurigaan terus berlangsung, krisis ketidakpercayaan akan tetap menjadi hambatan utama diplomasi.
Media China dan Rusia
Analis militer Elijah Magnier dalam wawancara dengan Sputnik menyatakan bahwa setelah bentrokan terbaru di Selat Hormuz, kemungkinan terbesar adalah berlanjutnya ketegangan dalam bentuk “eskalasi terkendali” ketimbang perang besar-besaran. Menurutnya, meskipun perang luas masih mungkin terjadi, kedua pihak saat ini belum ingin memasuki konfrontasi langsung berskala penuh.
Ia menjelaskan bahwa ketegangan kemungkinan akan berlanjut melalui insiden maritim, serangan kelompok sekutu kedua pihak, operasi siber, serangan terbatas, dan baku tembak terukur yang bertujuan meningkatkan tekanan tanpa memicu perang regional.
Sementara itu, versi Arab dari jaringan RT dalam laporannya berjudul “Harapan Kesepakatan Iran dan Amerika di Tengah Tantangan Regional” menulis bahwa meskipun ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut, negosiasi Iran-Amerika menunjukkan tanda-tanda kemajuan dan disebut beberapa analis sebagai “tanda awal harapan”.
Menurut Alexei York dari Pusat Studi Timur Tengah, masih ada peluang tercapainya “kesepahaman simbolis” dengan bahasa yang ambigu sehingga kedua pihak dapat mengklaim kemenangan politik sambil meredam klaim lawan. Laporan itu juga menyebut adanya pembahasan awal mengenai pengurangan sanksi sebagai imbalan pembentukan “koridor aman”.
Namun para ahli memperingatkan bahwa kesepakatan sementara hanya bersifat taktis dan belum mampu mengurangi seluruh ketegangan kawasan. Isu-isu utama seperti masa depan program nuklir Iran dan pemulihan penuh lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi tantangan besar. Meski demikian, perkembangan ini menunjukkan bahwa Iran dan Amerika masih berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka demi mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan.


