Haaretz: Israel Memata-Matai Pengguna Starlink

Israeil Starlink

Al-Quds – Purna Warta – Sebuah surat kabar Israel mengungkapkan bahwa rezim Zionis, dengan memanfaatkan teknologi pengawasan canggih yang dikembangkan oleh dua perusahaan Israel, mampu mengidentifikasi lokasi dan identitas pengguna layanan internet satelit “Starlink.” Para ahli menilai hal ini sebagai ancaman serius terhadap privasi dan keamanan digital global.

Menurut laporan Haaretz, rezim Zionis mengandalkan sistem spyware canggih yang dirancang dan dibangun oleh dua perusahaan Israel, yang dapat mengakses identitas pengguna Starlink sekaligus data lokasi mereka.

Laporan tersebut menegaskan bahwa alat-alat ini mampu mengidentifikasi terminal yang aktif, perangkat yang terhubung, bahkan identitas pengguna melalui nomor telepon atau akun media sosial—tanpa perlu meretas jaringan Starlink itu sendiri.

Haaretz menyebut bahwa salah satu perusahaan tersebut, bernama “TargeTeam,” telah mengembangkan sistem yang mampu melacak sekitar satu juta terminal Starlink. Pengungkapan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian global bahwa Starlink dalam beberapa tahun terakhir dianggap sebagai alat yang dapat digunakan untuk intervensi ilegal dalam urusan negara dan pengawasan.

Donika El-Kurbeil, direktur teknologi di Amnesty International, menyebut perkembangan ini sebagai ancaman serius terhadap keamanan dan privasi pengguna, serta memperingatkan bahwa alat tersebut berpotensi digunakan untuk pelacakan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Haaretz juga menambahkan bahwa perusahaan Israel memasarkan teknologi ini secara eksklusif kepada lembaga pemerintah untuk keperluan “kontra-terorisme” dan “pengawasan perbatasan,” meskipun para pakar menilai klaim tersebut hanya menjadi kedok untuk memperluas kemampuan pengawasan siber Israel. Laporan ini juga mengingatkan pada skandal spyware sebelumnya seperti Pegasus dan kasus akses ilegal terhadap komunikasi jurnalis maupun warga sipil yang telah memicu kontroversi internasional.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa beberapa negara, termasuk China, Rusia, dan Iran, sebelumnya telah mengembangkan kemampuan untuk mendeteksi atau mengganggu terminal Starlink.

Namun, perusahaan-perusahaan Israel tersebut menolak memberikan jawaban atas pertanyaan Haaretz mengenai cara kerja alat-alat ini, sementara SpaceX dan Starlink juga tidak memberikan tanggapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *