Sistem Peringatan Rudal “Shoal” Dinonaktifkan/ Perwira Zionis: “Kami Bertindak Seperti Tikus Buta!”

Nonaktif

Al-Quds, Purna Warta – Militer rezim Zionis, karena kekhawatiran terhadap infiltrasi intelijen Iran, memblokir akses para pejabat lokal ke sistem pelacakan dan peringatan rudal Shoal di wilayah utara Palestina pendudukan. Langkah ini, menurut para pejabat tersebut, telah menempatkan wilayah utara dalam kondisi “kebutaan operasional”.

Baca juga: Kemungkinan Uni Emirat Arab Keluar dari Liga Arab Semakin Menguat

Menurut laporan  surat kabar Zionis Yedioth Ahronoth pada Kamis mengungkapkan bahwa Komando Front Dalam Negeri militer Israel baru-baru ini menutup akses para pejabat lokal ke sistem peringatan rudal “Shoal” (SHOAL), yaitu sistem komando dan kendali khusus untuk memantau jalur dan volume peluncuran rudal dari Lebanon.

Sistem ini berfungsi sebagai pusat komando dan kendali Front Dalam Negeri rezim Zionis dan dirancang untuk menciptakan koordinasi antara seluruh lembaga yang bertanggung jawab dalam kondisi darurat.

Kemampuan utama sistem tersebut adalah menentukan kemungkinan titik jatuh rudal, membedakan antara rudal yang berhasil dicegat dan yang jatuh, serta mengarahkan pasukan penyelamat dengan cepat ke lokasi insiden.

Militer Israel khawatir bahwa data operasional mengenai lokasi pasti jatuhnya rudal dapat sampai ke badan intelijen Iran melalui sistem ini. Data semacam itu dinilai dapat meningkatkan akurasi serangan kelompok perlawanan dalam setiap putaran konflik baru.

Kekhawatiran ini muncul di tengah meningkatnya sensor militer sejak perang 12 hari terakhir, di mana media dilarang mempublikasikan lokasi pasti serangan.

Namun, penonaktifan sistem Shoal memicu reaksi keras dari para pejabat lokal di wilayah utara Palestina pendudukan.

Dalam hal ini, “Asaf Langelben”, kepala Dewan Regional Galilea Atas, mengatakan:

“Sangat konyol bahwa Hizbullah tahu persis ke mana mereka menembak, sementara kami tidak tahu dan tidak bisa memberikan respons yang tepat.”

Wali Kota “Kiryat Shmona” juga memperingatkan:

“Sistem ini berkali-kali menyelamatkan nyawa warga Israel. Menghapusnya berarti membiarkan lebih banyak nyawa terancam di wilayah yang bahkan sekarang pun kekurangan perlindungan dan tempat perlindungan.”

Seorang perwira keamanan lokal juga mengatakan:

“Ketika sirene berbunyi, kami bertindak seperti tikus buta. Kami tidak tahu harus pergi ke mana.”

Perwira lain mengatakan kepada Yedioth Ahronoth:

“Di militer, alih-alih menangani bagaimana mengelola dan mencegah kebocoran informasi, mereka memilih solusi paling mudah.”

Media-media Israel menyebut kekhawatiran militer terhadap infiltrasi intelijen Iran bukan tanpa dasar. Menurut laporan Maariv, sejak Oktober 2023 hingga kini lebih dari 40 kasus telah dibuka terhadap sekitar 60 warga Israel atas tuduhan spionase untuk Iran dan poros perlawanan.

Baca juga: Anggota Kongres AS: Trump dan Netanyahu Harus Menghentikan Perang Terhadap Iran

Sementara itu, Haaretz minggu ini melaporkan bahwa data rahasia para peneliti Institut Studi Keamanan Nasional Israel (INSS)—think tank keamanan paling penting Israel—juga menjadi sasaran serangan siber.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa rezim Zionis kini lebih rentan dibanding sebelumnya terhadap serangan rudal kelompok perlawanan di wilayah utara.

Pada saat yang sama, sumber-sumber Zionis juga mengakui bahwa mereka tidak memiliki solusi untuk mencegat drone peledak Hizbullah, sebuah persoalan yang semakin memperlihatkan tantangan besar dan kelemahan struktural militer Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *