Kemungkinan Uni Emirat Arab Keluar dari Liga Arab Semakin Menguat

Imarat

Dubai, Purna Warta – Di tengah keluarnya Uni Emirat Arab baru-baru ini dari OPEC, kini media melaporkan bahwa negara tersebut juga berencana keluar dari Liga Arab.

Baca juga: Anggota Kongres AS: Trump dan Netanyahu Harus Menghentikan Perang Terhadap Iran

Menurut laporan surat kabar Africa Intelligence menulis bahwa Uni Emirat Arab sedang merencanakan keluar dari Liga Arab. Kemungkinan inilah yang menjadi penyebab kekhawatiran “Nabil al-Fahmy”, Sekretaris Jenderal Liga Arab, dalam beberapa hari terakhir.

Menurut laporan ISNA, surat kabar tersebut menyebutkan bahwa sejak “Suhail Mohamed Faraj Al Mazrouei”, Menteri Energi Uni Emirat Arab, mengumumkan keluarnya negara itu dari OPEC, Liga Arab mulai khawatir akan kemungkinan terjadinya langkah serupa terhadap organisasi tersebut.

Nabil al-Fahmy, diplomat senior Mesir yang sejak Maret menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Liga Arab, khawatir bahwa langkah Emirat tersebut akan semakin melemahkan Liga Arab yang sebelumnya juga telah banyak dikritik karena dianggap tidak efektif.

Al-Fahmy baru-baru ini melakukan pembicaraan dengan “Anwar Gargash”, penasihat Presiden Uni Emirat Arab yang kini juga menjadi penasihat diplomatik “Mohammed bin Zayed Al Nahyan”, Presiden UEA, guna meyakinkannya agar mempertimbangkan kembali langkah tersebut.

Dalam konteks yang sama, ia juga melakukan pembicaraan dengan “Abdullah bin Zayed Al Nahyan”, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab.

Menurut surat kabar Africa Intelligence, Sekretaris Jenderal Liga Arab khawatir bahwa ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi—yang mendorong keputusan UEA keluar dari OPEC—akan membuka jalan bagi pembentukan blok Arab sekunder yang berpusat pada Emirat.

Baca juga: Mengapa “Project Freedom” Dihentikan? Kekhawatiran Akan Pecahnya Kembali Perang Membuat Washington Mundur

Dalam kaitan ini, “Hossam Zaki”, wakil Al-Fahmy dan mantan penasihat “Ahmed Aboul Gheit” untuk urusan Asia Barat, ditugaskan untuk berdialog dengan duta besar Emirat di Kairo serta perwakilan UEA di Liga Arab guna membujuk mereka membatalkan keputusan tersebut.

Surat kabar itu juga menulis bahwa hubungan antara Abu Dhabi dan Kairo belakangan melemah. Salah satu penyebab utamanya adalah konflik di Sudan, karena Uni Emirat Arab mendukung “Mohamed Hamdan Dagalo” yang dikenal sebagai “Hemedti”, komandan Pasukan Dukungan Cepat Sudan, sementara Mesir mendukung “Abdel Fattah al-Burhan”, ketua Dewan Kedaulatan Sudan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *