Iran Menghormati Warisan Persatuan Imam Musa al-Sadr

Teheran, Purna Warta – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memberikan penghormatan kepada Imam Musa al-Sadr atas perannya dalam mempromosikan persatuan dan kegigihan.

Baca juga: Araqchi Kecam Pembunuhan PM dan Pejabat Yaman oleh Israel

Menandai peringatan 47 tahun hilangnya Imam Musa al-Sadr, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa perjalanan dan warisan ulama yang hilang tersebut tetap hidup dan menginspirasi.

“Di era ketika kawasan kita menghadapi ketidakamanan yang semakin meningkat dan stabilitas serta integritas bangsa-bangsa menjadi sasaran hasutan yang belum pernah terjadi sebelumnya, gagasan dan pandangan Imam Musa al-Sadr bersinar seperti obor yang terang, membimbing kita menuju persatuan, empati, dan keteguhan,” tulis Baqaei dalam sebuah pesan di akun X miliknya pada Minggu malam.

Sadr adalah seorang ulama Syiah keturunan Iran yang sangat dihormati, yang mendirikan Gerakan Amal (Harapan) Lebanon pada tahun 1974. Ia pergi ke Lebanon pada tahun 1959 untuk memperjuangkan hak-hak Muslim Syiah di kota pelabuhan Tyre, yang terletak sekitar 80 kilometer (50 mil) di selatan Beirut.

Ulama Syiah terkemuka tersebut menghilang pada 31 Agustus 1978, saat melakukan kunjungan resmi ke ibu kota Libya, Tripoli.

Ia didampingi oleh Sheikh Mohammad Yaqoub dan jurnalis Abbas Badreddine.

Baca juga: Iran Siap Bekerja Sama dengan Pakistan untuk Pastikan Perdamaian dan Kemakmuran Regional

Lebanon masih menganggap mantan pejabat Libya bertanggung jawab atas hilangnya ketiganya.

Sejak Muammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh pada tahun 2011, Lebanon dan Iran telah berulang kali mendesak pemerintah Libya untuk meluncurkan penyelidikan atas hilangnya Sadr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *