Pemerintah Membantah Daya Beli Melemah Meski Ada Fenomena Rojali dan Rohana

Jakarta, Purna Warta – Fenomena rombongan jarang beli (Rojali) dan rombongan hanya nanya (Rohana) di pusat perbelanjaan menjadi sorotan, dan beberapa pihak menganggapnya sebagai tanda melemahnya daya beli masyarakat. Namun, pandangan ini dibantah oleh pemerintah.

Baca juga: Pemerintah Tekankan Pasang Patok Tanah Bagi Masyarakat Pemilik Sertifikat

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi, menyatakan bahwa fenomena tersebut hanya terjadi pada ekonomi konvensional atau transaksi jual beli langsung. Menurut Hasan, model ekonomi saat ini sudah berkembang pesat, terutama dengan maraknya belanja online.

“Jadi kalau fenomena-fenomena parsial tadi yang disampaikan, apa istilahnya tadi? Rojali, Rohana, kita mungkin masih melihatnya dalam ekonomi konvensional. Sementara sekarang ekonomi itu berkembang sekali kan? Model dan cara jual beli juga berkembang,” jelas Hasan dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa transaksi jual beli tidak lagi terpusat di toko-toko fisik.

“Mungkin jual belinya tidak lagi di toko-toko konvensional tapi mungkin sudah lewat marketplace, lewat platform yang lain,” katanya.

Sebagai bukti bahwa masyarakat tidak menahan belanja, Hasan menyoroti pertumbuhan sektor logistik. Ia memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan sektor ini. Peningkatan pengiriman barang menjadi indikasi kuat bahwa transaksi jual beli tetap berlangsung.

“Sektor logistik kita tumbuh loh. Coba lihat datanya. Dalam laporan BPS, sektor logistik kita tumbuh artinya kalau sektor logistik dan pengiriman barang tumbuh kan yang dikirim itu barang. Kalau yang dikirim barang atau yang dikirim atau ada pergerakan orang, itu kan artinya ada jual beli,” sebut Hasan.

Baca juga: Peran LPS Bertambah: Menjamin Polis dan Resolusi Perusahaan Asuransi

Berdasarkan data BPS, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh sebesar 8,52% pada kuartal II 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan jumlah penumpang dan barang yang diangkut, dan berkontribusi sebesar 0,40% terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 yang mencapai 5,12%. Data BPS juga mencatat pertumbuhan transaksi belanja online sebesar 7,55% pada kuartal II 2025 dibandingkan kuartal sebelumnya, yang mendukung argumen Hasan mengenai pergeseran pola belanja masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *