Iran: Kemampuan Pertahanan Merupakan Pilar Keamanan Nasional, Tidak Dapat Dinegosiasikan

Esmail

Tehran, Purna Warta – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa kemampuan pertahanan negaranya merupakan bagian penting dari keamanan nasional dan tidak dapat menjadi bahan negosiasi ataupun kompromi. Ia juga menolak pernyataan bersama yang dinilainya sebagai “campur tangan” yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat dan Dewan Kerja Sama Teluk Persia (GCC).

Dalam unggahannya di platform media sosial X pada hari Jumat, Baghaei mengecam pernyataan yang diterbitkan setelah Pertemuan Tingkat Menteri Amerika Serikat dan GCC yang diselenggarakan pada hari Kamis di Manama. Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai “distorsi terhadap kenyataan” dan sebagai upaya menghidupkan kembali kebijakan-kebijakan yang sebelumnya telah gagal dalam menangani persoalan keamanan kawasan.

“Keamanan negara dan martabat nasional tidak dapat dinegosiasikan maupun dijadikan syarat dalam bentuk apa pun,” ujarnya, merujuk pada isi pernyataan bersama yang berupaya menggambarkan kemampuan pertahanan Iran sebagai sebuah “ancaman”.

“Sebagaimana hak yang melekat untuk melakukan pembelaan diri yang sah tidak pernah dapat dijadikan subjek perundingan, demikian pula sarana untuk melaksanakan hak tersebut tidak dapat menjadi bahan kompromi dengan pihak mana pun,” tambahnya.

Baghaei menegaskan bahwa Iran memiliki kepentingan yang lebih besar dibanding negara mana pun dalam menjaga stabilitas kawasan.

“Tidak diragukan lagi, Iran lebih berkepentingan daripada pihak mana pun dalam menjaga keamanan kolektif kawasan,” tulisnya.

Juru bicara tersebut juga memperingatkan bahwa apabila Dewan Kerja Sama Teluk Persia (GCC) meyakini bahwa cara mengatasi persoalan keamanan adalah dengan bergantung kepada “pelanggar keamanan terbesar”, maka hal itu justru bertentangan dengan tujuan yang ingin dicapai serta merupakan “ironi yang pahit dan bukti mengecewakan atas kegagalan mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang baru saja terjadi.”

Baghaei juga mengkritik sejumlah negara Teluk Persia yang, menurutnya, telah melanggar prinsip bertetangga yang baik dan kaidah dasar hukum internasional dengan mendukung agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Ia mempertanyakan alasan negara-negara tersebut mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk melancarkan serangan yang disebutnya sebagai tindakan kriminal terhadap Iran, sementara pada saat yang sama menutup mata terhadap perlombaan senjata yang destruktif serta pembelian dan penumpukan persenjataan canggih senilai ratusan miliar dolar yang, menurutnya, tidak memiliki tujuan pertahanan yang sah.

“Mengapa mereka mengabaikan agresi berulang Israel terhadap negara-negara di kawasan serta pendudukan wilayah Palestina dan Lebanon? Mengapa mereka tetap diam terhadap persenjataan nuklir rezim pendudukan yang berada di luar pengawasan internasional, sementara kemampuan pertahanan konvensional sebuah negara yang berulang kali diancam dan diserang, bahkan dari wilayah negara-negara tetangganya, justru digambarkan sebagai ancaman?” tanya Baghaei.

Ia kembali menegaskan bahwa kemampuan militer Iran berfungsi sebagai daya tangkal terhadap agresi dari luar sekaligus berkontribusi dalam menjaga stabilitas kawasan.

“Harus dipahami oleh semua pihak bahwa kemampuan militer Iran menjamin hak melekat bangsa Iran untuk melakukan pembelaan diri yang sah terhadap agresi dan kejahatan, sekaligus berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujar juru bicara tersebut.

Sebelumnya pada hari Jumat, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras pernyataan bersama Amerika Serikat dan GCC sebagai pernyataan yang “mencampuri urusan, tidak bertanggung jawab, dan provokatif,” serta memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak terus menyelaraskan kebijakan mereka dengan Washington dalam sikap yang dinilai bermusuhan terhadap Iran.

Dalam pernyataannya, kementerian tersebut juga menolak klaim Washington mengenai “komitmen jangka panjang Amerika Serikat” terhadap keamanan negara-negara Teluk Persia sebagai “sekadar retorika dan pembalikan fakta.” Iran menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan justru menjadi beban bagi masyarakat setempat dan merupakan salah satu penyebab utama ketidakamanan di kawasan tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *