Warga Israel Akui Besarnya Biaya Akibat Perang Berkepanjangan dan Terkikisnya Kekuatan Militer

Pengakuan

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah media berbahasa Ibrani mengakui bahwa biaya yang ditimbulkan oleh terkikisnya kekuatan militer Israel mencapai jumlah yang sangat besar. Biaya tersebut, menurut laporan itu, setiap bulannya setara dengan harga sekitar tujuh pesawat tempur F-35.

Surat kabar Maariv dalam sebuah analisis yang diterbitkan di situsnya pada Sabtu menyatakan bahwa biaya akibat terkikisnya kekuatan militer Israel di berbagai front perang dan dalam berbagai operasi telah menjadi sangat besar.

Alon Ben David, wartawan dan analis militer Maariv, menulis bahwa biaya pengerahan pasukan cadangan Israel selama satu bulan pada tahun lalu mencapai sekitar 2,1 miliar shekel. Jumlah tersebut disebut setara dengan harga sekitar tujuh pesawat tempur F-35 atau 70 tank Merkava.

Pada awal analisisnya, Ben David juga menulis bahwa setelah hampir tiga tahun perang, militer Israel pada pekan tersebut memerintahkan agar seragam militer resmi atau seragam upacara kembali digunakan. Sebagian tentara disebut telah menjalani masa dinas dan diberhentikan tanpa pernah sempat mengenakan seragam tersebut. Bahkan personel tetap yang kembali bertugas disebut merasakan dampak tiga tahun perang: banyak di antara mereka masih mengenakan pakaian lama yang ukurannya sesuai tiga tahun sebelumnya, sementara sebagian lainnya sudah tidak dapat lagi mengenakan ukuran pakaian lama mereka.

Ia juga menyatakan bahwa dalam tiga tahun tersebut Angkatan Udara Israel telah melakukan penerbangan dengan intensitas yang menurutnya setara dengan sekitar sembilan tahun penerbangan normal. Ribuan tank dan kendaraan lapis baja disebut telah mengalami keausan, sementara jumlah amunisi yang digunakan militer disebut setara dengan jumlah amunisi yang digunakan selama sekitar 30 tahun sebelum perang.

Menurut analisis tersebut, berbagai persoalan material masih dapat diperbaiki. Namun, persoalan yang jauh lebih sulit ditangani adalah kekurangan dan penurunan kualitas sumber daya manusia di tubuh militer.

Analisis tersebut menyebut bahwa, berdasarkan angka resmi yang dikutip, militer Israel sendiri—di luar lembaga keamanan lainnya—mengalami 1.138 korban tewas dan 11.730 orang mengalami berbagai cedera fisik maupun psikologis. Teks tersebut menegaskan bahwa angka itu hanya merupakan statistik resmi yang telah diumumkan, sementara sejumlah media menyebut angka yang lebih tinggi. Analisis itu juga memperkirakan ribuan orang lainnya dapat masuk dalam daftar korban gangguan psikologis.

Dampak perang terhadap militer, menurut analisis tersebut, jauh lebih luas daripada angka korban resmi. Bahkan personel yang tidak dikategorikan sebagai korban cedera disebut mengalami dampak serius dalam kehidupan pribadi mereka.

Sebuah survei yang dilakukan militer Israel terhadap pasangan personel tetap menunjukkan bahwa gaya hidup berubah pada 75 persen keluarga. Meskipun dukungan terhadap kelanjutan dinas pasangan mereka di militer masih berada di atas 50 persen, ketika ditanya sejauh mana dinas militer pasangan memungkinkan mereka mengembangkan karier sendiri, hanya 10 persen yang memberikan jawaban positif.

Menurut Ben David, ketika ketegangan dan rasa darurat mulai mereda, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa militer Israel menghadapi risiko kehilangan sejumlah besar personel berpengalaman. Ia menyebut adanya sejumlah personel tetap yang telah ditawari posisi komando penting tetapi justru meminta posisi dengan tekanan lebih rendah atau bahkan memilih pensiun.

Situasi tersebut, menurut analisisnya, bukan berarti militer Israel telah kembali ke keadaan normal. Saat ini militer Israel rata-rata memiliki sekitar 53.000 tentara cadangan yang aktif setiap hari. Para tentara cadangan tersebut menanggung dampak besar di rumah, tempat usaha, dan tempat kerja mereka.

Militer Israel juga disebut masih dikerahkan di tiga wilayah keamanan—Gaza, Lebanon, dan Suriah—selain Tepi Barat yang menjadi salah satu sumber tekanan besar terhadap kebutuhan personel.

Rencana yang disebutkan dalam analisis tersebut adalah mempertahankan wilayah-wilayah keamanan itu dan memperkuat kehadiran militer di Tepi Barat dalam jangka panjang.

Karena itu, biaya yang ditimbulkan oleh pengerahan militer Israel di berbagai wilayah tersebut dinilai sangat besar. Biaya pasukan cadangan selama satu bulan pada tahun sebelumnya disebut mencapai sekitar 2,1 miliar shekel, atau setara dengan harga tujuh F-35 maupun 70 tank Merkava. Analisis tersebut mempertanyakan apakah pengerahan militer sebesar itu benar-benar diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *