Al-Quds, Purna Warta – Hampir 5.000 warga Palestina telah dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka ketika pasukan Israel meningkatkan serangan di al-Khalil selama enam hari berturut-turut hingga Rabu. Pasukan Israel menggerebek rumah-rumah, meningkatkan penangkapan, dan memberlakukan pembatasan pergerakan yang lebih ketat di seluruh wilayah administratif al-Khalil, Tepi Barat bagian selatan.
Pemerintah Kota al-Khalil menyatakan pada Selasa malam bahwa sebanyak 4.969 warga Palestina dari 780 keluarga telah mengungsi akibat serangan Israel yang masih berlangsung.
Pasukan tambahan dan kendaraan militer Israel memasuki sejumlah kota di wilayah administratif tersebut serta kamp pengungsi al-Fawwar sekitar tengah malam. Mereka menggeledah rumah-rumah dan memperketat pembatasan.
Kamera media merekam tentara Israel menghentikan dan menggeledah warga Palestina serta memperlakukan mereka dengan kasar di dekat bundaran al-Jalda.
Perhimpunan Tahanan Palestina melaporkan bahwa pasukan Israel menangkap 85 warga Palestina di wilayah administratif al-Khalil antara Jumat dan Senin.
Serangan tersebut dimulai pada Jumat setelah dua warga Palestina menyerang sebuah pos pemeriksaan Israel, menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya.
Pasukan Israel memperluas operasi ke sejumlah wilayah administratif lainnya. Di Tulkarm, tentara menangkap jurnalis Hamza Salama Al-Safi, yang sebelumnya dibebaskan melalui pertukaran tahanan, bersama kedua saudaranya, Mu’min dan Mustafa.
Di Qalqilya, sebanyak 11 warga Palestina, sebagian besar di antaranya mantan tahanan, ditangkap setelah rumah-rumah mereka digeledah. Tentara Israel juga menggerebek Tammun, di sebelah selatan Tubas, serta Salem, di sebelah timur Nablus. Rumah-rumah di kedua wilayah tersebut digeledah di tengah pengerahan pasukan militer dalam jumlah besar.
Penggerebekan militer Israel secara terpisah di Burin, sebelah selatan Nablus, memicu bentrokan dengan para pemuda setempat. Menurut Quds News Network (QNN), dalam serangkaian serbuan baru-baru ini, pasukan Israel mengubah enam bangunan tempat tinggal dan sebuah kafe menjadi barak militer serta fasilitas interogasi lapangan.
Di Beit Fajjar, sebelah selatan Bethlehem, militer Israel menembakkan granat kejut dan gas air mata, sembari mengerahkan pasukan di sejumlah lingkungan permukiman.
Di Al-Shuyoukh, sebelah utara al-Khalil, pasukan rezim Israel menangkap empat warga Palestina yang sedang memanen buah zaitun. Mereka diidentifikasi sebagai tiga bersaudara, Abdullah, Abdul Basit, dan Muhammad Al-Mashni, serta Ayoub Al-Mashni. Menurut laporan, mereka dibawa ke permukiman Asfir.
Di Masafer Yatta, sebelah selatan al-Khalil, para pemukim Israel menyerang seorang warga Palestina hingga mengalami luka di wajah. Pasukan Israel juga menangkap seorang warga Palestina lainnya setelah para pemukim menyerangnya di dekat desa tersebut.
Pembatasan pergerakan di sekitar al-Quds yang diduduki juga diperketat. Pada Selasa malam, pasukan Israel mendirikan pos pemeriksaan di dekat pintu masuk Al-Ram. Sementara itu, tentara menutup pintu masuk dan keluar Hizma, di sebelah timur laut kota tersebut, sehingga kendaraan tidak dapat masuk maupun meninggalkan wilayah itu.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya operasi militer Israel, penangkapan, dan kekerasan oleh para pemukim di seluruh Tepi Barat yang diduduki, termasuk al-Quds Timur, sejak Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023.
Selama tiga tahun terakhir, pasukan Israel dan para pemukim telah membunuh lebih dari 1.210 warga Palestina dan melukai sekitar 13.350 lainnya di Tepi Barat yang diduduki.


