Purna Warta – Buruh pelabuhan dan mahasiswa Italia memblokir Pelabuhan Livorno sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina pada 22 September 2025.
Sejumlah pelabuhan besar di seluruh dunia berencana melakukan aksi mogok kerja pada 30 Oktober untuk menghentikan pengiriman militer ke wilayah-wilayah yang dilanda perang, khususnya pengiriman kargo yang mendukung perang genosida rezim Israel terhadap Palestina.
Laporan pada Rabu, yang mengutip informasi dari serikat-serikat pekerja penyelenggara, menunjukkan bahwa buruh dermaga dan pelabuhan di 111 pelabuhan yang tersebar di 22 negara akan bergabung dalam aksi mogok terkoordinasi tersebut.
Para pekerja akan menghentikan aktivitas kerja selama beberapa jam hingga satu hari penuh pada Jumat di sejumlah pelabuhan utama, mulai dari Marseille hingga Mumbai, Hamburg hingga Montevideo, serta Melbourne hingga Oakland.
Lebih dari 25 serikat buruh pelabuhan secara resmi telah menyatakan akan bergabung dalam aksi mogok tersebut, sementara puluhan serikat pekerja dari sektor lain telah menyatakan dukungan mereka.
Para pekerja yang mogok akan menuntut penghentian pengangkutan senjata dan kargo militer melalui pelabuhan-pelabuhan mereka, terutama pengiriman yang dimiliki oleh atau terkait dengan rezim Israel dan berpotensi digunakan untuk melakukan genosida terhadap Gaza serta wilayah Palestina lainnya.
Serikat buruh pelabuhan utama Prancis menyatakan bahwa aktivitas pelabuhan di seluruh negeri akan terhenti hingga 95 persen pada Jumat. Sementara itu, serikat-serikat pekerja di Italia, India, Yunani, dan Turki menyatakan bahwa penghentian kerja akan berlangsung selama 24 jam.
Aksi unjuk rasa juga telah direncanakan di berbagai kota pelabuhan untuk memprotes tindakan Israel yang terus berlangsung di Palestina. Sejumlah kelompok masyarakat menyatakan akan turut serta dalam demonstrasi tersebut.
“Pelabuhan untuk perdamaian dan rakyat, bukan landasan peluncuran perang,” demikian slogan yang direncanakan untuk aksi mogok pada Jumat, menurut sebuah akun di platform X.
Aksi mogok ini berlangsung ketika gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (Boycott, Divestment, and Sanctions/BDS), sebuah kampanye yang dipimpin Palestina untuk mendorong pemberlakuan sanksi terhadap rezim Israel, menyatakan melalui akun X-nya pekan lalu bahwa buruh dermaga dan pelabuhan di sejumlah pelabuhan internasional utama akan mengambil tindakan menentang militerisasi, genosida Israel terhadap rakyat Palestina, serta perang-perang agresi yang dilancarkan AS dan Israel.


