Gaza, Purna Warta – Serangan baru Israel kembali menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan berusia sembilan tahun, di Jalur Gaza yang masih berada dalam pengepungan, sementara pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis memasuki hari ke-274 secara berturut-turut.
Baca juga: Ketua Partai Shas: Netanyahu Pembohong; Tidak Dapat Dipercaya
Menurut pernyataan yang dikeluarkan pada Minggu oleh Palestine Red Crescent Society, sedikitnya dua warga Palestina tewas ketika pasukan Israel menyerang sebuah bengkel di kawasan Sabra, sebelah selatan Kota Gaza. Jenazah para korban dilaporkan mengalami kehancuran parah akibat serangan tersebut, yang juga menyebabkan seorang warga Palestina lainnya terluka.
Saksi mata mengatakan bahwa sebuah pesawat nirawak Israel menembakkan sedikitnya tiga rudal ke bangunan yang menjadi lokasi bengkel tersebut di kawasan Al-Rayes, lingkungan Al-Rayes.
Sumber medis mengonfirmasi bahwa seorang anak perempuan berusia sembilan tahun meninggal akibat luka kritis yang dideritanya setelah terkena tembakan Israel di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah. Secara terpisah, seorang pria Palestina meninggal akibat luka yang ditimbulkan oleh tembakan Israel pada Jumat di sebelah timur kamp pengungsi Bureij. Seorang warga Palestina lainnya juga meninggal akibat luka yang disebabkan oleh serangan pesawat nirawak Israel di sebelah timur Khan Younis, Gaza selatan.
Sementara itu, pasukan pendudukan Israel terus melakukan penghancuran sistematis di wilayah utara, tengah, dan selatan Gaza dengan menghancurkan rumah-rumah serta menembaki kawasan sipil. Militer Israel meningkatkan penghancuran rumah dan bangunan Palestina di wilayah yang berada di bawah kendalinya, terutama di selatan Khan Younis dan timur Kota Gaza.
Para saksi melaporkan adanya ledakan besar akibat penghancuran bangunan di Khan Younis dan Kota Gaza. Pesawat nirawak Israel juga menjatuhkan bahan peledak di sekitar kawasan Qizan Rashwan, sementara tank-tank Israel menghantam lingkungan sekitar dengan tembakan berat.
Pada saat yang sama, kapal-kapal angkatan laut Israel melepaskan tembakan di lepas pantai Khan Younis, sementara serangan artileri menargetkan wilayah barat Rafah. Penerbangan pesawat nirawak secara terus-menerus dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Jalur Gaza, menebarkan ketakutan di tengah penduduk yang masih berada dalam pengepungan.
Gencatan Senjata Gagal Menghentikan Serangan
Gencatan senjata yang disebut telah disepakati antara Israel dan Hamas pada Oktober 2025 sepenuhnya gagal menghentikan serangan Israel. Sejak kesepakatan tersebut mulai berlaku, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.100 warga Palestina dan melukai lebih dari 3.535 orang lainnya.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 73.331 warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel sejak Oktober 2023, sementara sekitar 173.643 orang lainnya mengalami luka-luka.
Hampir seluruh dari sekitar 2,3 juta penduduk Gaza, yang sebagian besar telah mengalami pengungsian berulang kali, kini terkonsentrasi di wilayah pesisir sempit. Mereka hidup di dalam tenda darurat atau bangunan yang rusak di bawah kondisi blokade dan kontrol keamanan yang ketat.
Baca juga: Menteri Luar Negeri Mesir: Proyek “Israel Raya” Tidak Akan Terwujud
Selama periode gencatan senjata yang rapuh tersebut, pasukan Israel secara bertahap memperluas wilayah kendalinya dan kini diperkirakan menguasai sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza.
Perluasan wilayah tersebut menunjukkan, menurut laporan ini, adanya tujuan ekspansionis dari rezim pendudukan Israel serta penolakan untuk menghormati kesepakatan apa pun yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingan strategis dan tujuan politiknya.
Konteks Perkembangan Konflik Gaza
Serangkaian serangan terbaru ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 dan operasi militer besar Israel di Gaza setelahnya.
Kondisi kemanusiaan di Gaza terus menjadi perhatian internasional karena tingginya jumlah korban sipil, kerusakan infrastruktur, serta terbatasnya akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal.
Persoalan mengenai masa depan Gaza setelah perang masih menjadi salah satu isu utama dalam diplomasi internasional. Berbagai pihak menyerukan adanya penyelesaian politik jangka panjang, termasuk pengaturan pemerintahan Gaza, rekonstruksi wilayah, serta jaminan keamanan bagi warga Palestina dan Israel.


