Al-Quds, Purna Warta – Ketua partai ultra-Ortodoks Shas menyatakan kemungkinan dukungan terhadap pencalonan Gadi Eisenkot sebagai perdana menteri, serta menyebut Benjamin Netanyahu sebagai sosok pembohong yang tidak dapat dipercaya.
Baca juga: Menteri Luar Negeri Mesir: Proyek “Israel Raya” Tidak Akan Terwujud
Menurut laporan kantor berita Al-Nashra, Yitzhak Yosef, pemimpin gerakan Talmud dan kelompok ultra-Ortodoks Shas, menggambarkan Netanyahu sebagai “pembohong dan tidak dapat dipercaya”. Ia juga mengatakan bahwa ada kemungkinan partainya akan mendukung Gadi Eisenkot, ketua partai Yashar, dalam pemilu mendatang.
Yosef, yang berasal dari kelompok yang selama ini menjadi sekutu politik Netanyahu, mengatakan bahwa Shas telah mengalami perselisihan dengan perdana menteri dan kabinetnya terkait isu wajib militer bagi kelompok Talmud. Menurutnya, Netanyahu telah menipu mereka dalam persoalan undang-undang wajib militer dan sejumlah isu lainnya.
Dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel, Rabbi Yosef menyatakan:
“Bisa jadi pada pemilu mendatang kami akan bergabung dengan Eisenkot dan bahkan mendukungnya sebagai perdana menteri.”
Menanggapi pernyataan tersebut, Eisenkot membantah adanya kesepakatan politik semacam itu. Dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel, ia mengatakan bahwa kerja sama politik hanya mungkin dilakukan berdasarkan prinsip dukungan terhadap wajib militer bagi seluruh kelompok masyarakat Israel, dan tidak ada kompromi mengenai masalah tersebut.
Eisenkot menambahkan: “Saya sangat berharap Partai Shas dan partai-partai lainnya kembali bersikap rasional dan memahami bahwa menyerah kepada Netanyahu, terutama pada minggu yang menentukan ini, akan melemahkan Israel dan militernya. Bahkan jika mereka memperoleh beberapa konsesi pada minggu ini akibat tekanan yang tidak mampu ditahan Netanyahu, saya berharap akan ada anggota Knesset yang mampu mengendalikan dirinya.”
Pernyataan dari pemimpin Shas tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan antara pemerintah Netanyahu dan partai-partai ultra-Ortodoks Yahudi terkait isu wajib militer bagi komunitas Haredi (Yahudi ultra-Ortodoks). Selama bertahun-tahun, sebagian besar pelajar yeshiva (seminari agama Yahudi) memperoleh pengecualian dari wajib militer, tetapi keputusan pengadilan dan tekanan politik dalam beberapa tahun terakhir mendorong perubahan kebijakan tersebut.
Konflik mengenai wajib militer menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap stabilitas koalisi pemerintahan Netanyahu. Partai-partai ultra-Ortodoks seperti Shas dan United Torah Judaism secara tradisional menjadi pendukung utama Netanyahu, tetapi mereka menolak kebijakan yang dianggap memaksa anggota komunitas religius untuk masuk ke militer.
Di sisi lain, kelompok oposisi dan sebagian kalangan militer Israel menilai bahwa beban wajib militer harus dibagi secara lebih merata, terutama karena perang di Gaza meningkatkan kebutuhan personel militer. Para kritikus mengatakan bahwa pengecualian bagi kelompok ultra-Ortodoks menciptakan ketidakadilan terhadap warga Israel lainnya yang harus menjalani dinas militer.


