Al-Quds, Purna Warta – Analis militer harian Israel Haaretz, Amos Harel, menyatakan bahwa militer Israel menginstruksikan pasukannya di Lebanon selatan untuk menghentikan pertempuran setelah dua perintah dari Amerika Serikat. Menurutnya, “kabinet, seperti biasa, bersembunyi di balik militer tanpa secara terbuka bertanggung jawab atas serangan-serangan yang terjadi.”
Harel menjelaskan bahwa meskipun sejumlah menteri kabinet Israel terus melontarkan pernyataan keras, arah perkembangan situasi kini semakin jelas. Menurutnya, Presiden AS Donald Trump bertekad untuk melaksanakan memorandum kesepahaman dengan Iran dan mengakhiri konflik di kawasan Teluk. Trump, kata Harel, khawatir bahwa Israel dapat menggagalkan rencananya dengan memperluas perang di Lebanon.
Ia menilai bahwa kondisi saat ini merupakan skenario terburuk bagi Israel. Di satu sisi, jumlah tentara Israel yang tewas di Lebanon selatan terus bertambah. Di sisi lain, Israel menghadapi realitas kawasan yang rumit sehingga harus menerima sejumlah kesepakatan yang dianggap sulit, bersamaan dengan krisis politik domestik yang terus berlangsung.
Menurut Harel, masalah jangka panjang yang paling serius adalah semakin lebarnya jarak antara Israel dan pemerintahan Amerika Serikat. Meski Trump terkadang menyampaikan pesan yang bertolak belakang—mulai dari pujian terhadap Benjamin Netanyahu hingga kritik terselubung—Wakil Presiden AS JD Vance, menurutnya, telah menyampaikan posisi Washington secara lebih terbuka: Israel sebaiknya menerima penyelesaian yang ada karena tingkat ketergantungannya terhadap Amerika Serikat sangat besar.
Pertanyaan Mengenai Kehadiran Militer di Lebanon
Harel juga menyoroti munculnya pertanyaan serius mengenai kelanjutan kehadiran militer Israel di Lebanon selatan.
Menurutnya, pasukan Israel yang memasuki Lebanon pada awal Maret dengan alasan perang kedua melawan Iran sejauh ini hanya memperoleh hasil yang terbatas. Ia menilai bahwa mempertahankan pasukan dalam kondisi seperti itu semakin sulit, sementara belum ada solusi efektif untuk menghadapi serangan pesawat nirawak bersenjata.
Ia menambahkan bahwa penguasaan Perbukitan Ali al-Taher tidak mampu mencegah peluncuran roket ke wilayah utara Israel. Menurutnya, militer Israel tampak telah bergerak terlalu jauh ke kawasan yang tidak berkaitan langsung dengan tujuan awal operasi dan akibatnya mengalami korban jiwa tanpa pencapaian strategis yang jelas.
Harel menyatakan bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak dibahas secara terbuka dalam kabinet maupun disampaikan kepada publik Israel. Ia juga menilai suara kalangan militer tidak terdengar cukup kuat dalam proses pengambilan keputusan.
Menurutnya, banyak perwira senior memahami bahwa dalam kondisi perang saat ini tidak terdapat tujuan strategis yang realistis untuk dicapai. Sebagian besar operasi di lapangan, katanya, hanya berkisar pada pembangunan posisi militer dan penghancuran besar-besaran desa-desa di Lebanon selatan Sungai Litani.
Harel berpendapat bahwa pada dasarnya militer hanya mengikuti instruksi para pemimpin politik tanpa adanya evaluasi mendalam mengenai tujuan akhir maupun cara mencapainya.
Netanyahu Dinilai Terjebak dalam Krisis Politik
Harel juga menilai Netanyahu tengah menghadapi kesulitan politik dan pribadi yang tercermin dalam berbagai survei terbaru.
Menurutnya, ketika perang dengan Iran berakhir tanpa hasil yang dijanjikan, sementara tentara Israel terus tewas di Lebanon dan wilayah perbatasan masih menjadi sasaran serangan, akan semakin sulit bagi Netanyahu untuk meyakinkan bahkan para pendukung setianya bahwa Israel telah meraih kemenangan.
Ia juga memperingatkan bahwa Trump mungkin akan mengambil langkah-langkah tambahan terhadap Netanyahu apabila dianggap menghambat implementasi kesepakatan yang sedang dibangun. Salah satu kemungkinan yang disebut Harel adalah pembatasan pasokan persenjataan dari Amerika Serikat.
Haaretz: Israel Menghadapi Isolasi Akibat Kebijakan Perangnya
Dalam laporan terpisah, Haaretz menulis bahwa tanda-tanda pertama keretakan mulai muncul setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, yang menurut laporan tersebut berlangsung tanpa mempertimbangkan kepentingan Israel secara signifikan.
Surat kabar itu menyatakan bahwa dunia internasional yang terkejut oleh apa yang terjadi di Gaza pada akhirnya akan menuntut pertanggungjawaban Israel.
Haaretz juga memperingatkan bahwa tindakan seperti operasi militer lintas batas, pembunuhan terarah, pelanggaran kedaulatan negara lain, dan pengabaian terhadap hukum internasional dapat menimbulkan konsekuensi politik dan diplomatik yang semakin besar bagi Israel di masa depan.


