Al-Quds, Purna Warta – Bersamaan dengan berlangsungnya perundingan antara Tehran dan Washington di Swiss, serta di tengah upaya diplomatik untuk memperkuat penghentian operasi militer di Lebanon, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menegaskan dukungannya terhadap kelanjutan operasi militer di Lebanon.
Menurut laporan yang dikutip media Israel, Ben-Gvir dalam wawancaranya dengan Kanal 11 Israel (Kan) pada Senin pagi mengulangi sikap kerasnya terhadap Lebanon. Ia mengklaim bahwa Tel Aviv harus memiliki kebebasan penuh untuk bertindak di Lebanon selatan dan menjadikan wilayah tersebut sebagai “arena bermain” bagi Israel.
Mengulangi tuduhan Israel terhadap Hizbullah, Ben-Gvir menyatakan bahwa jika militer Israel diberikan kebebasan operasi yang lebih luas, tujuan-tujuan militernya dapat dicapai bahkan dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit.
Menteri tersebut juga menegaskan penolakannya terhadap setiap kesepakatan yang dapat membatasi operasi militer Israel. Ia mengaku telah menyarankan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar tetap menjaga hubungan baik dengan Presiden AS Donald Trump, namun tidak menyetujui gencatan senjata di Lebanon.
Menurut Ben-Gvir, Israel tidak boleh menciptakan kondisi yang memungkinkan Hizbullah membangun kembali kemampuan militernya. Karena itu, ia menekankan pentingnya kelanjutan operasi militer Israel di Lebanon selatan.
Perdebatan di Israel Mengenai Penempatan Pasukan
Pernyataan Ben-Gvir muncul ketika media-media Israel melaporkan adanya perkembangan baru di front Lebanon dan pembahasan berbagai skenario mengenai penempatan pasukan Israel di Lebanon selatan.
Menurut laporan Channel 12, kalangan politik dan keamanan Israel tengah membahas kemungkinan melakukan “penarikan terbatas” dari sejumlah wilayah di belakang apa yang disebut sebagai “Garis Kuning” di Lebanon selatan, termasuk kawasan Qal’at al-Shaqif.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa dalam 24 jam terakhir, bersamaan dengan konsultasi antara Washington dan Tel Aviv, berbagai pertemuan tingkat politik dan keamanan telah diselenggarakan untuk membahas situasi tersebut.
Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan itu membantah adanya permintaan resmi dari Amerika Serikat agar Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan. Namun, mereka mengakui bahwa skenario “penarikan bertahap” sedang dipertimbangkan oleh pihak Israel.
Menurut Channel 12, terdapat perbedaan pandangan di antara para pejabat Israel. Sebagian menilai bahwa mempertahankan wilayah-wilayah tersebut memiliki nilai simbolis dan strategis sehingga tidak boleh ditinggalkan. Sebagian lainnya memandang bahwa penarikan terbatas dapat membantu mengurangi tekanan politik dan diplomatik yang dihadapi Israel.
Penghentian Operasi di Ali al-Taher
Pada saat yang sama, militer Israel mengumumkan pencabutan pembatasan yang sebelumnya diberlakukan di wilayah perbatasan utara mulai pukul 06.00 pagi waktu setempat. Langkah tersebut digambarkan sebagai kembalinya kawasan tersebut ke kondisi normal.
Sementara itu, Kan melaporkan bahwa setelah instruksi dari Netanyahu untuk menghentikan operasi militer di Lebanon, militer Israel juga menghentikan operasinya di kawasan Ali al-Taher, Provinsi Nabatieh.
Menurut media-media berbahasa Ibrani, perkembangan ini terjadi menjelang dimulainya putaran baru kontak dan pembicaraan mengenai Lebanon selatan yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada hari Selasa.
Tel Aviv disebut berupaya menampilkan setiap perubahan dalam penempatan pasukannya di Lebanon selatan sebagai bagian dari negosiasi dengan pemerintah Lebanon dan inisiatif politik yang lebih luas, bukan sebagai hasil tekanan dari Amerika Serikat.
Sejumlah sumber juga menyebut bahwa Israel masih bersikeras mempertahankan kehadirannya di sepanjang “Garis Kuning”, yang dianggap penting untuk menjamin keamanan permukiman Israel di wilayah utara sekaligus mempertahankan posisi tawar dalam proses negosiasi.
Negosiasi dan Rencana Pengalihan Kontrol
Putaran pembicaraan berikutnya merupakan kelanjutan dari negosiasi yang dimulai bulan lalu dengan mediasi Amerika Serikat. Dalam proses tersebut, Israel berupaya mengaitkan setiap penarikan lebih lanjut dari Lebanon selatan dengan langkah-langkah konkret yang harus diambil militer Lebanon terhadap Hizbullah.
Di saat yang sama, sejumlah sumber keamanan Israel mengungkapkan bahwa sedang dipertimbangkan sebuah rencana untuk menyerahkan kendali atas kawasan uji coba di desa Tebnit kepada militer Lebanon.
Di pihak lain, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa Israel harus menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon. Ia juga menolak keberadaan zona keamanan apa pun yang memungkinkan pasukan Israel tetap berada di Lebanon selatan.


