Al-Quds, Purna Warta – Kota Yerusalem, dan khususnya Masjid Al-Aqsa, kembali menjadi saksi peningkatan signifikan dan terencana dalam kebijakan penjajahan rezim Zionis. Peningkatan kali ini terjadi melalui pengumuman resmi perpanjangan jam akses pemukim Zionis ke halaman Masjid Al-Aqsa, bahkan hingga malam hari. Langkah ini dianggap sebagai tahap lanjut dalam upaya menerapkan “pembagian waktu” dan mempersiapkan perubahan mendasar terhadap identitas religius dan sejarah tempat suci tersebut.
Baca juga: Tepi Barat Masih Dibawah Serangan dan Blokade
Pernyataan ini disampaikan oleh Yariv Levin, Menteri Kehakiman dan Wakil Perdana Menteri Israel, saat upacara menyalakan lilin terakhir Hanukkah di depan Bab al-Maghariba—salah satu pintu utama yang menjadi titik akses pemukim. Dalam pidatonya, Levin memaparkan apa yang disebutnya sebagai “capaian” di Masjid Al-Aqsa dan secara terbuka menyatakan tekad pemerintah untuk memperluas jam masuk serta pelaksanaan ritual Talmud Yahudi, termasuk pada sore dan malam hari. Langkah ini bertujuan mempermudah partisipasi pemukim dan menormalkan keberadaan mereka.
Menurut Ziad Abhihis, peneliti masalah Yerusalem, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah saat ini memandang serangan terhadap Masjid Al-Aqsa bukan sebagai tindakan keamanan atau sementara, melainkan bagian dari proyek politik–religius yang terstruktur. Ia menambahkan bahwa akar kebijakan ini dapat ditelusuri pada upaya legislatif tahun 2012 dan 2013, ketika anggota Partai Mafdal mengusulkan pembagian waktu penuh Masjid Al-Aqsa. Meskipun saat itu tidak menjadi undang-undang, langkah tersebut kemudian dijalankan secara bertahap dan paksa di lapangan.
Menurut peneliti tersebut, apa yang terjadi saat ini menandai transisi proyek pembagian waktu dari tahap uji coba ke tahap pelaksanaan yang teratur dan terencana. Tujuan jangka menengahnya adalah memaksakan kesetaraan waktu antara Muslim dan Yahudi dalam akses ke masjid, yang pada kenyataannya merupakan tahap transisi menuju penghapusan total identitas Islam Masjid Al-Aqsa.
Perkembangan ini terjadi sementara dalam beberapa tahun terakhir, pejabat Israel, termasuk Benjamin Netanyahu, berulang kali mengklaim berusaha mempertahankan status quo. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya: peningkatan bertahap jam serangan, pelaksanaan akses selama bulan Ramadan, dan perluasan pembatasan terhadap jemaah Muslim.
Sejak 2008, ketika serangan terhadap Masjid Al-Aqsa dibatasi sekitar tiga jam per hari, waktu tersebut meningkat menjadi lebih dari enam jam pada 2024, dan kini pembicaraan telah mencakup penambahan jam malam; perubahan ini secara jelas menunjukkan lonjakan pengendalian waktu terhadap Masjid Al-Aqsa.
Secara keseluruhan, yang terjadi saat ini di Yerusalem bukan sekadar perselisihan terkait jam kunjungan atau pengaturan administratif, melainkan pertarungan penuh mengenai identitas, kedaulatan, dan masa depan salah satu simbol paling suci dalam Islam. Pertarungan ini, jika tidak direspons secara efektif, berpotensi mengukuhkan realitas yang tidak dapat dikembalikan lagi.


