Gaza, Purna warta – Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 73.375 orang, sementara jumlah korban luka mencapai 174.220 orang.
Dilansir Shihab News Agency, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir, sebanyak 19 jenazah dan 35 korban luka telah dibawa ke rumah-rumah sakit di Jalur Gaza.
Dari jumlah korban tewas tersebut, 18 orang meninggal dunia akibat serangan terbaru Israel, sedangkan satu orang lainnya meninggal akibat luka-luka yang diderita dalam serangan sebelumnya.
Kementerian juga menyatakan bahwa sejumlah korban hingga kini masih berada di bawah reruntuhan bangunan maupun tergeletak di jalan-jalan. Tim penyelamat masih belum dapat menjangkau mereka karena kondisi di lapangan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober, sebanyak 1.250 warga Palestina telah tewas dan 4.110 orang mengalami luka-luka akibat serangan Israel. Selain itu, 804 jenazah berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan selama periode tersebut.
Kementerian kembali menegaskan bahwa sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza telah mencapai 73.375 orang, sementara 174.220 orang lainnya mengalami luka-luka.
Data terbaru tersebut menunjukkan bahwa korban jiwa di Jalur Gaza terus bertambah meskipun telah diberlakukan perjanjian gencatan senjata. Otoritas kesehatan Gaza menyatakan peningkatan jumlah korban setelah gencatan senjata disebabkan oleh serangan yang masih terjadi di sejumlah wilayah serta ditemukannya korban yang sebelumnya tertimbun reruntuhan bangunan akibat pemboman.
Banyak wilayah di Gaza masih menghadapi kesulitan dalam proses evakuasi korban. Tim pertahanan sipil dan tenaga medis menyebut keterbatasan alat berat, kerusakan infrastruktur, serta kondisi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif menjadi hambatan utama dalam pencarian jenazah dan penyelamatan korban yang masih tertimbun.
Organisasi-organisasi kemanusiaan internasional berulang kali memperingatkan bahwa sistem layanan kesehatan di Gaza berada dalam kondisi sangat terbatas. Banyak rumah sakit mengalami kerusakan, kekurangan obat-obatan, peralatan medis, bahan bakar, serta tenaga kesehatan, sehingga menyulitkan penanganan korban dalam jumlah besar.
Sementara itu, berbagai upaya diplomatik untuk mempertahankan gencatan senjata masih terus berlangsung melalui mediasi sejumlah negara. Perundingan juga mencakup pembahasan mengenai penyaluran bantuan kemanusiaan, pertukaran tahanan, mekanisme keamanan, serta rencana rekonstruksi Gaza setelah konflik.
Selain korban jiwa, perang telah menyebabkan kerusakan yang sangat luas terhadap infrastruktur sipil di Jalur Gaza. Ribuan bangunan tempat tinggal, sekolah, rumah sakit, fasilitas air bersih, jaringan listrik, dan jalan mengalami kerusakan berat, sementara sebagian besar penduduk Gaza telah beberapa kali mengungsi sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.
Di tingkat internasional, berbagai lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi kemanusiaan terus menyerukan perlindungan terhadap warga sipil, akses bantuan tanpa hambatan, serta penghormatan terhadap hukum humaniter internasional guna mencegah semakin besarnya korban di Jalur Gaza.


