Hamas Kecam Serangan Mematikan Terhadap Sekolah di Gaza: ‘Israel Sengaja Targetkan Warga Sipil’

Sekolah

Gaza, Purna Warta – Hamas mengecam serangan artileri Israel yang disebut “brutal” terhadap sebuah sekolah di Kota Gaza pada Jumat, yang menewaskan sejumlah warga Palestina. Hamas menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan perang lain yang dilakukan secara “sengaja” serta pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata.

Baca juga: Laporan: AS Ajukan “Project Sunrise” untuk Bangun Kembali Gaza sebagai Metropolis Pesisir Berteknologi Tinggi

Dalam pernyataan pada Sabtu, kelompok perlawanan yang berbasis di Gaza itu juga menyoroti “keheningan dan kegagalan internasional” dalam menghentikan kejahatan-kejahatan tersebut.

“Serangan artileri yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel yang fasis terhadap sebuah sekolah yang menampung warga sipil pengungsi di kawasan Al-Tuffah, timur Kota Gaza, yang mengakibatkan tewasnya sejumlah warga—sebagian besar anak-anak—merupakan kejahatan brutal terhadap warga sipil tak berdosa dan pelanggaran terang-terangan serta berulang terhadap perjanjian gencatan senjata,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Rezim Israel, lanjut Hamas, “terus melanggar gencatan senjata dengan secara sengaja dan berkelanjutan menargetkan warga sipil di Jalur Gaza, yang telah menyebabkan lebih dari 400 syahid sejak perjanjian diumumkan lebih dari dua bulan lalu, di tengah keheningan dan kegagalan internasional untuk bertindak terhadap kejahatan-kejahatan ini.”

Hamas menegaskan bahwa pendudukan Israel tidak hanya menargetkan warga sipil, tetapi juga memperparah bencana kemanusiaan dengan mencegah ambulans serta tim medis mencapai lokasi serangan untuk menyelamatkan dan merawat para korban luka.

Kelompok perlawanan itu memperingatkan bahwa perilaku kriminal tersebut “merupakan kejahatan perang berlapis serta pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional”.

Hamas juga mendesak para mediator yang menjamin perjanjian tersebut serta pemerintahan Amerika Serikat untuk menjalankan tanggung jawab mereka terkait pelanggaran-pelanggaran ini dan segera melakukan intervensi guna menghentikan upaya kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu—yang disebut sebagai kabinet penjahat perang—dalam memberlakukan ketentuan-ketentuan yang bertentangan dan secara jelas merusak perjanjian tersebut.

Serangan Israel pada Jumat terhadap sebuah sekolah yang dijadikan tempat penampungan pengungsi di dekat Rumah Sakit Mohammad al-Durra, timur kawasan al-Tuffah, menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina dan melukai beberapa lainnya.

Para saksi mata mengatakan kepada media lokal bahwa sejumlah jenazah ditemukan dalam kondisi terpotong-potong.

Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, Israel telah melanggar perjanjian tersebut sedikitnya 738 kali, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza.

Baca juga: Pasukan Israel Luncurkan Serbuan Darat ke Suriah Barat Daya, Dirikan Pos Pemeriksaan

Kantor tersebut menyebutkan bahwa Israel menembaki warga sipil sebanyak 205 kali, melakukan penggerebekan ke kawasan permukiman di luar garis kuning sebanyak 37 kali, membombardir dan menembaki Gaza sebanyak 358 kali, serta menghancurkan properti warga dalam 138 insiden.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan bahwa sedikitnya 394 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak 11 Oktober, hari penuh pertama gencatan senjata, sementara 1.075 lainnya mengalami luka-luka.

Pemimpin Hamas Ghazi Hamas pada Selasa mengatakan bahwa Israel telah melakukan lebih dari 813 pelanggaran gencatan senjata.

Ia menambahkan bahwa sejak perjanjian gencatan senjata diberlakukan, sekitar 400 orang telah tewas, dengan lebih dari 95 persen di antaranya merupakan warga sipil.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina, yang mencatat korban sejak 7 Oktober 2023, mengonfirmasi bahwa lebih dari 70.600 warga Palestina—termasuk lebih dari 20.150 anak-anak—telah tewas selama genosida Israel terhadap Gaza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *