Laporan: AS Ajukan “Project Sunrise” untuk Bangun Kembali Gaza sebagai Metropolis Pesisir Berteknologi Tinggi

Pembangunan Gaza

Washington, Purna Warta – The Wall Street Journal, mengutip para pejabat Amerika Serikat, melaporkan pada Jumat bahwa presentasi PowerPoint setebal 32 halaman untuk bangun kembali Gaza yang diberi label “sensitif namun tidak diklasifikasikan” tersebut dikembangkan oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump, bersama dengan utusan AS untuk Asia Barat, Steve Witkoff.

Baca juga: Pasukan Israel Luncurkan Serbuan Darat ke Suriah Barat Daya, Dirikan Pos Pemeriksaan

Proposal itu menawarkan untuk bangun kembali Gaza dari kehancuran menjadi “Riviera” Asia Barat, lengkap dengan resor mewah di tepi pantai, jalur kereta berkecepatan tinggi, jaringan pintar yang dioptimalkan dengan kecerdasan buatan (AI), serta pusat-pusat transportasi modern.

Para pejabat AS mengatakan bahwa slide-slide presentasi tersebut telah dibagikan kepada negara-negara calon donor, seperti negara-negara Teluk Persia yang kaya, Turki, dan Mesir.

Namun, proposal tersebut tidak merinci pemerintah atau perusahaan mana yang akan membiayai proyek tersebut, maupun tidak menjelaskan pengaturan tempat tinggal bagi sekitar dua juta warga Palestina yang mengungsi selama fase rekonstruksi.

Rencana tersebut menyajikan peta jalan pembangunan selama lebih dari 20 tahun, yang dimulai dengan bantuan kemanusiaan berskala besar dan pembersihan puing-puing, kemudian dilanjutkan dengan proses pembangunan kembali secara bertahap dari Gaza bagian selatan menuju wilayah utara.

Tahap awal akan difokuskan pada Rafah dan Khan Younis, sebelum meluas ke wilayah tengah dan pada akhirnya ke Kota Gaza. Salah satu slide berjudul “New Rafah” menggambarkan kota ini sebagai pusat administrasi masa depan Gaza, yang akan menampung lebih dari 500.000 penduduk dengan lebih dari 100.000 unit hunian, lebih dari 200 sekolah, sedikitnya 75 fasilitas medis, serta 180 masjid dan pusat kebudayaan.

Total biaya inisiatif tersebut diperkirakan mencapai US$112,1 miliar dalam jangka sepuluh tahun, termasuk gaji sektor publik. Hampir US$60 miliar diperkirakan berasal dari hibah dan utang baru, dengan Amerika Serikat mengusulkan untuk “menjangkar” setidaknya 20 persen dari total pendanaan. Bank Dunia juga diperkirakan akan terlibat dalam pembiayaan proyek tersebut.

Proposal itu memperkirakan penurunan biaya pada dekade kedua, dengan rencana memonetisasi sekitar 70 persen garis pantai Gaza mulai tahun ke-10, yang berpotensi menghasilkan pengembalian jangka panjang sebesar US$55 miliar.

Baca juga: Pelapor Khusus PBB: Kesepakatan Gas Israel–Mesir Langgar Hukum Internasional di Tengah Perang Genosida di Palestina

Salah satu syarat krusial yang tercantum dalam dokumen tersebut adalah bahwa rekonstruksi Gaza bergantung pada pelucutan senjata gerakan perlawanan Palestina, Hamas.

Para pejabat AS menyatakan bahwa “jika kondisi keamanan memungkinkan, rencana ini dapat dimulai dalam waktu dua bulan”.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menekankan perlunya stabilitas jangka panjang untuk menarik investasi, dengan mengatakan, “Tidak mungkin meyakinkan siapa pun untuk menanamkan uang di Gaza jika mereka percaya perang lain akan terjadi dalam dua atau tiga tahun ke depan.”

Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa dukungan jangka panjang dari para donor dapat diamankan.

Laporan ini muncul di tengah keraguan yang disampaikan oleh sejumlah pejabat AS mengenai apakah negara-negara kaya bersedia mendukung inisiatif ambisius semacam itu dalam lanskap pascaperang yang masih rapuh.

Pada awal Februari, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat berupaya untuk “mengambil alih” Gaza dan mengusir penduduk Palestina guna mengubah wilayah yang hancur tersebut menjadi “Riviera” Asia Barat.

Proposal tersebut telah memicu gelombang kecaman tanpa henti di seluruh dunia sebagai bentuk dukungan terbuka terhadap pembersihan etnis.

Namun demikian, rezim Israel mendukung proposal Trump untuk Gaza, di mana serangan tanpa henti Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan 70.925 warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai sedikitnya 171.185 orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *