Al-Quds, Purna Warta – Pemimpin gerakan perlawanan Hamas di Jalur Gaza mengatakan bahwa rezim pendudukan Israel tidak mematuhi kewajiban apa pun dan mengingkari seluruh perjanjian yang telah ditandatanganinya.
Baca juga: Putra Pemimpin Senior Hamas Terluka, Lima Lainnya Tewas Dalam Serangan Israel di Gaza
Khalil al-Hayya menyatakan pada Rabu malam bahwa perundingan telah mencapai jalan buntu akibat sikap keras kepala para pejabat Israel dan penolakan mereka untuk menghormati perjanjian gencatan senjata Sharm el-Sheikh.
Ia menegaskan bahwa rezim Tel Aviv tidak mematuhi kewajiban apa pun dan bahwa negara-negara penjamin gencatan senjata, yaitu Qatar, Mesir, Amerika Serikat, dan Turki, bersama mediator lainnya, harus menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.
Al-Hayya menyoroti bahwa Hamas telah lama mengajukan berbagai proposal dan memenuhi kewajibannya, sementara otoritas Israel gagal memenuhi kewajiban mereka.
Ia menekankan bahwa penolakan Israel untuk memenuhi komitmennya menjadi hambatan bagi kelanjutan tahap kedua gencatan senjata.
“Bagaimana mungkin melanjutkan ke tahap kedua gencatan senjata Gaza,” ujar al-Hayya, “sementara komite teknokratis yang akan mengelola urusan wilayah tersebut bahkan belum menerima izin untuk memasuki kawasan itu?”
Pemimpin Hamas tersebut kemudian menyerukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan masyarakat internasional agar memaksa Israel untuk sepenuhnya melaksanakan gencatan senjata Gaza.
“Kami ingin penghentian permusuhan ini tetap berlangsung, transisi menuju tahap rekonstruksi, dan penarikan pasukan pendudukan Israel,” tegas al-Hayya.
Baca juga: Pengadilan Israel Menolak Banding Dua Aktivis Armada Bantuan Gaza yang Ditahan
Sejak gencatan senjata Gaza diumumkan pada 11 Oktober tahun lalu, jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel telah mencapai 837 orang, sementara jumlah korban luka meningkat menjadi 2.381 orang.
Selama periode tersebut, 769 jenazah telah ditemukan dari reruntuhan.
Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mencatat jumlah warga Palestina yang tewas oleh pasukan Israel sejak pecahnya perang genosida di wilayah pesisir yang terkepung itu pada 7 Oktober 2023 mencapai 72.619 orang.


