Barak: Setelah Dua Setengah Tahun Perang, Hamas, Hizbullah, dan Iran Belum Terkalahkan

Barak 1

Al-Quds, Purna Warta – Mantan perdana menteri rezim Zionis mengkritik kinerja kabinet Benjamin Netanyahu dalam menghadapi berbagai front perang serta kegagalan Tel Aviv mencapai tujuan-tujuannya.

Menurut laporan Kantor Berita Al Mayadeen, Ehud Barak, mantan perdana menteri rezim Zionis, menegaskan bahwa setelah dua setengah tahun perang, Hamas masih tetap bertahan di Gaza, Hizbullah tetap eksis di Lebanon, dan sistem pemerintahan di Iran juga masih berdiri kokoh.

Ia menambahkan bahwa slogan-slogan seperti “kemenangan mutlak” dan “kami telah menghancurkan mereka untuk beberapa generasi” hanyalah retorika kosong yang justru membawa kerugian.

Ehud Barak sebelumnya juga pernah menggambarkan Netanyahu sebagai “binatang yang terjebak dalam perangkap” dan memperingatkan bahwa Netanyahu akan melakukan segala cara untuk melarikan diri dari krisis politik dan hukum yang menjeratnya.

Ia menyatakan bahwa apabila Netanyahu beberapa hari sebelum pemilu merasa yakin akan mengalami kekalahan, maka ia mungkin akan membuka front perang baru terhadap Iran, Gaza, atau Tepi Barat guna memberlakukan keadaan darurat dan menunda pemilu selama enam bulan.

Fakta dan perkembangan terkait

Dalam beberapa bulan terakhir, kritik terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu semakin meningkat, baik dari kalangan oposisi Israel maupun mantan pejabat militer dan keamanan. Sejumlah mantan komandan militer Israel menilai bahwa perang berkepanjangan di Gaza belum mampu mencapai tujuan utama yang diumumkan pemerintah, termasuk penghancuran total Hamas dan pemulangan seluruh tawanan Israel.

Perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menimbulkan tekanan ekonomi dan sosial besar di Israel. Ribuan warga di wilayah utara dekat perbatasan Lebanon masih menghadapi ancaman serangan Hizbullah, sementara sebagian penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat ketidakstabilan keamanan.

Di front Lebanon, Hizbullah terus mempertahankan kemampuan militernya meskipun menjadi sasaran serangan udara dan operasi militer Israel. Kelompok tersebut secara rutin melancarkan serangan roket, drone, dan rudal anti-tank ke wilayah utara Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Gaza dan respons terhadap operasi militer Israel.

Sementara itu, ketegangan antara Israel dan Iran juga terus meningkat. Pemerintah Israel berulang kali menuduh Iran mendukung kelompok-kelompok perlawanan di kawasan seperti Hamas, Hizbullah, dan kelompok bersenjata lainnya di Suriah serta Irak. Di sisi lain, Iran menegaskan dukungannya terhadap “poros perlawanan” dan menyatakan bahwa tekanan militer Israel tidak akan mengubah keseimbangan regional.

Krisis politik internal Israel juga semakin dalam akibat perpecahan terkait strategi perang, isu wajib militer, penanganan tawanan, dan tuduhan korupsi terhadap Netanyahu. Gelombang demonstrasi anti-pemerintah masih terus berlangsung di berbagai kota Israel, dengan para demonstran menuntut pemilu dini dan pengunduran diri Netanyahu.

Sejumlah analis politik Israel memperingatkan bahwa perang berkepanjangan tanpa hasil strategis yang jelas dapat memperburuk isolasi internasional Israel, melemahkan ekonomi domestik, dan meningkatkan tekanan diplomatik dari sekutu-sekutu Barat yang mulai menyerukan solusi politik jangka panjang di Gaza dan kawasan sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *