Tehran, Purna Warta – Dua tahun lalu pada hari ini, mantan Presiden Iran Ibrahim Raisi bersama para pendampingnya gugur syahid dalam kecelakaan helikopter di wilayah barat laut Iran ketika kembali dari Azerbaijan, tempat ia melakukan kunjungan untuk meresmikan sebuah bendungan bersama Presiden Azerbaijan.
Raisi menjadi presiden kedua Iran yang wafat saat masih menjabat, setelah Mohammad-Ali Rajai yang gugur syahid akibat serangan bom kelompok teroris MKO di Teheran pada tahun 1981.
Dikenal karena kepribadiannya yang lembut dan pengabdiannya tanpa pamrih, kenangan tentang dirinya tetap hidup sebagai simbol kesejahteraan rakyat, pemerintahan berlandaskan keadilan, serta komitmen teguh terhadap Palestina.
Pada peringatan kedua kesyahidannya, bangsa Iran mengenang seorang pemimpin yang oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei disebut sebagai sosok yang “tidak membedakan antara siang dan malam dan bekerja tanpa henti untuk menyelesaikan masalah rakyat.”
Pemimpin Revolusi Islam menyebut kehilangan itu sebagai “duka yang berat… yang tak dapat benar-benar tergantikan,” sambil menggunakan ungkapan penghormatan “pemimpin tercinta dan tak kenal lelah” untuk mengenang presiden syahid tersebut.
Presiden Raeisi bukan sekadar figur politik, tetapi seorang pemimpin yang mendefinisikan ulang politik dan pelayanan publik melalui model pemerintahan khas yang berakar pada tradisi Islam-Iran.
Filosofinya bertumpu pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab dan pencari keadilan — bukan sekadar konsumen — serta menempatkan kehadiran langsung di lapangan di atas pengambilan keputusan dari balik meja kantor.
Anak dari Mashhad
Lahir pada 14 Desember 1960 di Mashhad — kota suci tempat makam Imam Reza berada — Raisi menapaki karier dalam sistem peradilan Republik Islam Iran dengan reputasi sebagai sosok yang adil dan manusiawi.
Dari tahun 2004 hingga 2014, ia menjabat sebagai wakil kepala kehakiman dan memperoleh penghormatan dari berbagai kalangan politik berkat pendekatan kemanusiaannya.
Sebagai Jaksa Agung (2014–2016) dan kemudian penjaga kompleks makam suci Imam Reza, ia berhasil melakukan berbagai reformasi yang belum pernah dilakukan sebelumnya di lembaga tersebut.
Penunjukan terpentingnya terjadi pada Maret 2019 ketika Ayatullah Khamenei memilihnya memimpin lembaga kehakiman Iran. Sebagai kepala kehakiman, Raeisi meluncurkan kampanye antikorupsi yang mendapat pujian luas dan memberlakukan undang-undang untuk melindungi perempuan dari kekerasan domestik.
Popularitasnya meningkat pesat selama memimpin lembaga kehakiman, membuka jalan menuju panggung politik nasional sebagai presiden.
Pemilu Presiden yang Mengubah Segalanya
Pada 2017, Raeisi maju melawan Hassan Rouhani dan memperoleh 15,7 juta suara dibanding 23,5 juta suara untuk Rouhani — hasil yang menempatkannya sebagai tokoh nasional.
Pada 2021, lanskap politik berubah. Raisi memenangkan pemilu secara telak dengan 17,9 juta suara dari total 28,9 juta suara sah dan menjadi presiden kedelapan Iran, resmi mulai menjabat pada 3 Agustus 2021.
Kemenangannya datang di tengah tantangan besar: kesulitan ekonomi akibat sanksi ilegal AS, meningkatnya ketegangan dengan Washington, dan dampak berkepanjangan pandemi COVID-19.
Namun Raisi menghadapi tantangan itu dengan semangat tanpa lelah yang menjadi ciri sepanjang kariernya. “Saya tidak akan menyia-nyiakan satu momen pun,” janjinya.
Tur 20 Hari yang Menunjukkan Kepemimpinannya
Pemimpin Revolusi Islam pernah menceritakan sebuah momen yang menggambarkan esensi kepemimpinan Raisi.
Setelah kembali dari perjalanan kerja ke berbagai provinsi selama 20 hari pada pukul 03.00 dini hari, presiden merasa tidak bisa tidur di Teheran. Alih-alih beristirahat, malam itu juga ia pergi ke Karaj untuk menghadiri peletakan batu pertama sebuah proyek pada pagi harinya, hanya tidur satu atau dua jam.
“Semua pekerjaan ini,” ujar Pemimpin Revolusi setelah kesyahidan Raeisi, mengagumi seorang pria yang menganggap kelelahan sebagai hal yang tidak penting.
Itu bukan pengecualian, melainkan kebiasaan. Dalam masa kepresidenannya yang singkat selama tiga tahun, Raeisi menempuh hampir 40.000 kilometer ke seluruh provinsi Iran — sebagian besar dilakukan pada hari Jumat yang seharusnya menjadi hari liburnya.
Ketika pejabat lain beristirahat, ia berjalan di tengah para petani, buruh pabrik, dan penduduk desa di wilayah-wilayah paling terpencil dan miskin di Iran.
Mengapa Disebut “Tercinta dan Tak Kenal Lelah”
Ayatollah Khamenei menggunakan ungkapan “pemimpin tercinta dan tak kenal lelah” secara belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelumnya beliau tidak pernah menggunakan bahasa seperti itu untuk pejabat mana pun, menunjukkan kedalaman penghormatannya terhadap etos kerja dan integritas Raisi.
Dalam pertemuan Agustus 2023, Pemimpin Revolusi mengatakan: “Gaya hidup sederhana dan minim formalitas dalam perilaku pribadi dan kerja pemerintahan Raeisi, khususnya sang presiden sendiri, sangat mengesankan bagi saya.”
Kesederhanaan itu bukan pencitraan, melainkan cerminan alami seorang pria yang melihat dirinya sebagai pelayan rakyat, bukan penguasa politik.
Ketika kabar kecelakaan helikopter tersebar pada 19 Mei 2024, rakyat Iran berkumpul di Lapangan Valiasr Teheran untuk mendoakan keselamatan presidennya. Ketika kesyahidannya dipastikan sehari kemudian, seluruh bangsa berduka untuk seorang pria yang memberikan segalanya — termasuk nyawanya — demi melayani negara dan rakyatnya.
Pelayan Rakyat: Ikatan Tak Terputus dengan Masyarakat
Yang paling membedakan Raeisi adalah ikatannya yang kuat dengan rakyat biasa.
Ia meninggalkan seluruh protokol seremonial dan memilih berjalan di tengah masyarakat umum. Kunjungan-kunjungan ke provinsi bukan sekadar kesempatan berfoto, melainkan kunjungan kerja ke daerah-daerah tertinggal, tempat ia mendengar langsung keluhan rakyat dan menindaklanjutinya hingga ditemukan solusi.
Raeisi meyakini bahwa bertemu rakyat, melihat kondisi hidup mereka, dan berbicara langsung dengan mereka adalah syarat memahami persoalan masyarakat.
Menurut para ajudan dekatnya, ia menolak laporan yang telah disaring dan ringkasan birokratis. Seorang pemimpin, menurutnya, harus menyaksikan langsung realitas di lapangan.
Filosofi itu tampak dalam aktivitasnya yang terus bergerak. Ia bepergian selama pandemi COVID-19, mengunjungi rumah sakit dan apotek di seluruh negeri. Ia berdiri di jalur produksi pabrik, bukan di ruang VIP. Ia makan sederhana bersama para pekerja, bukan dalam jamuan kenegaraan.
Ia bahkan mengunjungi desa-desa yang sangat terpencil hingga sebelumnya petugas protokol kepresidenan belum pernah memetakan rute ke sana.
Kesaksian Seorang Seniman Film
Mahmoud Gabarlo, seniman dan kritikus film Iran, menulis dengan penuh emosi tentang pertemuannya dengan Raisi.
Ia diundang ke acara buka puasa bersama para seniman dan budayawan dengan membawa pandangan kritis terhadap kebijakan budaya pemerintahan ke-13. Namun yang ia temukan justru membuatnya terkesan.
“Terlepas dari tulisan-tulisan kritis saya… saya menyaksikan perilaku Presiden Raeisi yang jujur dan penuh kebaikan terhadap semua kalangan budaya dan seni meskipun mereka memiliki pandangan berbeda,” tulis Gabarlo. “Tak seorang pun bisa melupakan salamnya yang hangat dan tulus.”
Sebagai warga Iran, tambahnya, “mustahil bagi saya untuk tidak berduka atas wafatnya seorang presiden yang memiliki sifat kasih sayang, kesederhanaan, dan ketulusan dalam melayani rakyat.”
Kisah Aktivis Buruh
Sayyid Amir Meernaseri, aktivis buruh di perusahaan angkutan Hapco, setidaknya lima kali bertemu dengan Raeisi.
“Ayatullah Raisi berbicara dengan sangat santai dan lembut agar kami merasa nyaman dan tidak canggung. Ia menempatkan dirinya setara dengan para pekerja sehingga kami bisa terbuka menyampaikan masalah,” katanya.
Ketika Raeisi mengunjungi pabrik Hepco, menurut protokol seharusnya direktur utama yang pertama memberi laporan. Namun presiden justru meminta bertemu para pekerja biasa.
“Ia memastikan kami tidak merasa asing atau cemas berada di hadapan pejabat tinggi.”
Meernaseri juga mengungkapkan bahwa Raeisi sudah memperjuangkan masalah Hepco sejak masih menjabat kepala kehakiman, jauh sebelum menjadi presiden.
Rumah Sederhana Sang Ibu
Kesaksian paling kuat tentang kesederhanaan pribadi Raisi muncul setelah kesyahidannya. Sebuah video viral memperlihatkan rumah sederhana ibunya yang lanjut usia, Sayidah Esmat Khodadad Hosseini, di kawasan kelas menengah bawah di Mashhad.
Wanita berusia lebih dari 80 tahun itu hidup di tengah masyarakat biasa dan banyak tetangganya bahkan tidak tahu bahwa ia adalah ibu presiden Iran.
Seorang tetangga yang mengenal keluarga itu selama puluhan tahun mengatakan: “Presiden Raisi tidak pernah datang dengan rombongan besar. Ia biasanya datang larut malam agar tidak merepotkan tetangga.”
Video itu memicu reaksi luas di media sosial dan menjadi simbol kesederhanaan seorang pemimpin yang tidak mengambil keuntungan pribadi dari jabatannya.
Penanganan COVID-19
Hubungan Raisi dengan rakyat diuji sejak awal melalui pandemi COVID-19.
Salah satu pencapaian ekonominya yang paling nyata adalah lokalisasi produksi vaksin COVID-19. Ketika sanksi Barat menghambat impor, pemerintahannya menggerakkan perusahaan farmasi domestik, lembaga riset, dan kapasitas manufaktur nasional.
Iran berhasil memproduksi vaksin dalam negeri, mengendalikan pandemi, dan menunjukkan kemampuan mandiri di bawah tekanan.
Keberhasilan ini tidak hanya penting secara praktis tetapi juga simbolis: membuktikan bahwa “ekonomi perlawanan” dapat berjalan dan Iran tidak hanya mampu bertahan dari sanksi, tetapi juga berinovasi karenanya.
Kebangkitan Ekonomi di Tengah Sanksi
Ketika Raeisi mulai menjabat pada Agustus 2021, ia mewarisi ekonomi yang berada dalam kondisi kritis. Presiden AS Donald Trump sebelumnya keluar dari JCPOA pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi “tekanan maksimum.” Pandemi COVID-19 semakin melumpuhkan ekonomi.
Namun dalam tiga tahun, pemerintahannya mencapai hasil yang mengejutkan bahkan bagi para pengkritiknya.
Data resmi menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata sebesar 5,5 persen (termasuk minyak) dan 4,5 persen (tanpa minyak). Tingkat pengangguran turun menjadi 8,1 persen, terendah dalam beberapa dekade. Yang paling signifikan, sekitar 8.000 pabrik berhasil dihidupkan kembali.
Memerangi Korupsi dan Birokrasi
Kampanye pemilu Raisi berfokus pada pemberantasan korupsi dan pengurangan kesulitan ekonomi.
Sebagai presiden, ia menekankan perlunya reformasi birokrasi, melawan korupsi dan stagnasi administratif, serta berjanji menurunkan inflasi menjadi satu digit dengan meningkatkan produksi.
Rekam jejaknya sebagai kepala kehakiman telah menunjukkan keseriusannya dalam memerangi korupsi tanpa memandang afiliasi politik.
Kebijakan “Melihat ke Timur”
Ciri khas pendekatan ekonomi Raisi adalah keseimbangan antara kebijakan dalam negeri dan luar negeri.
Menurutnya, kebijakan luar negeri harus memperkuat ekonomi domestik. Jika tidak membantu memperkuat ekonomi negara, maka kebijakan itu dianggap tidak lengkap dan tidak efektif.
Filosofi ini melandasi kebijakan “Look to the East” dan penekanannya pada koridor ekonomi.
Alih-alih menunggu pencabutan sanksi Barat, Raeisi mengalihkan fokus Iran ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Di bawah kepemimpinannya, Iran menjadi anggota penuh Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) dan BRICS, membuka jalur baru perdagangan dan investasi.
Kebijakan Bertetangga yang Baik
Inti kebijakan luar negeri Raeisi adalah doktrin “bertetangga baik dan konvergensi.”
Ia memandang negara-negara tetangga sebagai prioritas utama dan menekankan hubungan damai, kerja sama ekonomi, dan penghormatan timbal balik.
Dalam pidato pelantikannya, ia berkata:
“Saya mengulurkan tangan persahabatan dan persaudaraan kepada seluruh negara kawasan, khususnya para tetangga kami… Republik Islam Iran memandang negara dan rakyat tetangga sebagai kerabat.”
Palestina: Isu Utama Dunia Islam
Bagi Raisi, Palestina bukan isu diplomatik sekunder, melainkan “isu pertama dunia Islam dan kemanusiaan.”
Dalam pidato pelantikannya pada Agustus 2021, ia menegaskan bahwa Iran tetap menjalankan kewajiban agama dan kemanusiaannya dalam membela rakyat Palestina.
Tiga hari kemudian ia bertemu Ismail Haniyeh, Ziyad al-Nakhalah, dan Talal Naji.
Ia menyatakan: “Palestina selalu menjadi dan akan tetap menjadi isu utama dunia Islam.”
Respons terhadap Operasi Badai Al-Aqsa
Dua hari setelah dimulainya Operasi Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023, Raisi melakukan pembicaraan telepon dengan para pemimpin Hamas dan Jihad Islam Palestina serta menegaskan dukungan Iran terhadap Palestina.
Ia mengatakan bahwa “rezim Zionis dan para pendukungnya bertanggung jawab atas ancaman terhadap keamanan kawasan.”
Usulan Sepuluh Poin di Riyadh
Dalam KTT luar biasa Palestina di Riyadh pada November 2023, Raeisi mengajukan proposal sepuluh poin, termasuk penghentian pembantaian warga sipil di Gaza, pencabutan blokade, penarikan militer Israel, pemutusan hubungan ekonomi dengan Israel, pembentukan pengadilan internasional untuk mengadili kejahatan Israel, dan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Ia juga menegaskan dukungan Iran terhadap referendum Palestina yang melibatkan seluruh Muslim, Yahudi, dan Kristen Palestina untuk menentukan masa depan negeri itu.
Perjalanan Terakhir dan Warisan Abadi
Pada 19 Mei 2024, Presiden Raeisi, Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian, Gubernur Azerbaijan Timur Malek Rahmati, Imam Salat Jumat Mohammad Ali Ale-Hashem, dan rombongan mereka kembali setelah meresmikan dua bendungan perbatasan dengan Azerbaijan.
Helikopter mereka jatuh di kawasan pegunungan antara Varzaqan dan Jolfa akibat cuaca buruk, hujan lebat, dan kabut tebal.
Tim penyelamat bekerja sepanjang malam. Pada dini hari 20 Mei, puing-puing ditemukan tanpa tanda-tanda kehidupan.
Iran diliputi duka mendalam. Rakyat turun ke jalan. Billboard di Teheran menggambarkan Raeisi sebagai sosok yang “bekerja tanpa lelah demi rakyat.”
Dua tahun setelah kesyahidannya, warisan Raisi tetap hidup.
Ia adalah presiden yang mengunjungi 28 negara dalam kurang dari tiga tahun sambil membangkitkan ekonomi domestik. Ia adalah pemimpin yang ibunya hidup sederhana tanpa diketahui para tetangga sebagai ibu presiden. Dan ia adalah seorang syahid — sosok yang mewujudkan motto pemerintahannya: pengabdian kepada Islam dan Iran hingga pengorbanan terakhir.


