Aktivis Flotila Bantuan Gaza Disiksa Dalam Tahanan Israel Setelah Diculik di Perairan Internasional, Ungkap Kesaksian

Gaza 3

Al-Quds, Purna Warta – Kesaksian baru mengungkap bahwa dua aktivis internasional yang diculik oleh pasukan Israel setelah flotila kemanusiaan Global Sumud menuju Gaza dicegat di perairan internasional awal pekan ini mengalami penyiksaan, pemukulan, dan pengabaian medis.

Dalam pernyataan Global Sumud Flotilla, pasukan Israel disebut menculik para aktivis pro-Palestina di dekat Kreta, kemudian memindahkan mereka ke Penjara Shikma di kota Ashkelon, wilayah selatan teritorial pendudukan.

Kedua aktivis yang diidentifikasi sebagai Saif Abukeshek dan Thiago Ávila hingga kini masih ditahan tanpa dakwaan.

Kedutaan Besar Brasil dalam pernyataannya menyebut Ávila menunjukkan luka yang terlihat saat kunjungan yang diawasi. Para diplomat mengatakan ia menggambarkan adanya penyiksaan, pemukulan, dan rasa sakit hebat, terutama pada bagian bahu.

Selama kunjungan tersebut, Ávila tidak dapat berbicara secara bebas karena dipisahkan dari staf kedutaan oleh kaca oleh petugas penjara Israel.

Kedutaan juga menyampaikan kekhawatiran atas kondisi kesehatannya. Meski telah diperiksa oleh dokter, pejabat menyatakan ia tidak menerima perawatan yang memadai.

Pemerintah Brasil menuntut perawatan medis segera serta kejelasan mengenai dasar hukum penahanannya.

Ávila dilaporkan telah melakukan mogok makan sejak penculikannya dan hanya mengonsumsi air. Ia belum menerima dakwaan resmi, dan tim hukumnya belum mendapatkan akses penuh terhadap kasusnya. Abukeshek juga dilaporkan memulai aksi mogok makan.

Menurut kelompok flotila bantuan tersebut, Abukeshek mengalami kekerasan berat saat ditahan di atas kapal militer Israel sebelum dipindahkan ke penjara.

Kedua pria itu merupakan satu-satunya aktivis pro-Palestina yang tidak dibebaskan setelah pencegatan flotila dan penculikan tersebut.

Penahanan berkelanjutan terhadap keduanya menimbulkan kekhawatiran mengenai penahanan sewenang-wenang dan pelanggaran hukum internasional, termasuk larangan penyiksaan.

Global Sumud Flotilla mengkritik pemerintah Eropa karena dinilai gagal bertindak melindungi para aktivis meskipun memiliki kewajiban hukum. Kelompok tersebut menyatakan otoritas Eropa membiarkan pemindahan paksa warga sipil dari perairan internasional ke dalam tahanan Israel.

Mereka mendesak pemerintah Spanyol, Swedia, dan Brasil untuk segera mengambil langkah diplomatik guna membebaskan warga negaranya, serta menyerukan organisasi internasional dan lembaga hak asasi manusia untuk segera turun tangan.

Pada Rabu malam, pasukan Israel dilaporkan menyerang 22 dari 58 kapal bantuan yang berlayar di perairan internasional menuju Jalur Gaza yang terkepung.

Kapal-kapal tersebut merupakan bagian dari flotila kedua Global Sumud yang dalam beberapa bulan terakhir berupaya menembus blokade Israel dengan membawa bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Gaza. Mereka berangkat dari pelabuhan Barcelona, Spanyol, pada 12 April.

Kapal-kapal itu disita di lepas Semenanjung Peloponnese, Yunani, ratusan mil dari Gaza.

Dalam pernyataannya, Sumud Flotilla menyebut 31 aktivis mengalami luka-luka akibat serangan Israel.

Kasus para aktivis pro-Palestina yang terluka ini kembali menyoroti praktik penahanan di bawah otoritas Israel, terutama di tengah ribuan warga Palestina yang masih ditahan tanpa dakwaan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah lama mendokumentasikan laporan penyiksaan, kekerasan, dan penyangkalan proses hukum yang layak dalam tahanan Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *