Gaza, Purna Warta – Sebuah film dokumenter baru yang menampilkan pengalaman tiga dokter Amerika di rumah sakit Gaza telah memicu reaksi luas di media dan kalangan perfilman Amerika Serikat setelah diputar di Sundance Film Festival.
Film berjudul “The American Doctor” ini berfokus pada pengalaman tiga dokter Amerika yang bertugas di Jalur Gaza, dan mendapat perhatian luas di lingkungan media serta industri film di AS.
Menurut laporan surat kabar berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth, film tersebut menjadi bahan perbincangan di Hollywood setelah pemutaran perdananya di Sundance. Film ini menyoroti pengalaman tiga dokter, yakni Thaer Ahmad, seorang dokter Palestina-Amerika; Mark Perlmutter, dokter Yahudi; serta Feroze Sidhwa, dokter Amerika berdarah Pakistan-Zoroaster. Mereka ditampilkan saat bekerja di rumah sakit Gaza serta dalam pertemuan di Kongres AS.
Menurut laporan tersebut, ketiga dokter dalam film ini menyampaikan tuduhan serius terhadap Israel dan menggunakan istilah “genosida” untuk menggambarkan situasi di Gaza. Mereka menyatakan bahwa pengamatan mereka mencakup “tingkat mengejutkan dari pembunuhan, luka-luka, kekurangan makanan, serta kehancuran infrastruktur kesehatan.”
Film ini juga menampilkan aktivitas tim medis di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, termasuk adegan penanganan korban sipil—terutama anak-anak—dengan luka parah dan amputasi, dalam kondisi yang sangat sulit di tengah serangan berkelanjutan militer Israel.
Lebih lanjut, film tersebut mengangkat pengalaman perjalanan Thaer Ahmad ke Gaza, di mana ia menghadapi pemeriksaan ketat dan penundaan masuk, serta dikategorikan sebagai “Palestina-Amerika.” Hal ini kemudian memicu perdebatan di AS terkait kemungkinan adanya bias politik dalam perlakuan di Gaza.
Dalam film, Mark Perlmutter juga menyinggung latar belakang keagamaannya dan menyatakan bahwa identitas Yahudinya memberinya “ruang” untuk menyampaikan pandangan publik. Ia menggambarkan situasi di Gaza sebagai isu kesehatan global dan menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Bagian lain dari laporan menyebutkan bahwa ketiga dokter berupaya menyampaikan temuan mereka dalam pertemuan dengan anggota Kongres AS. Namun, menurut mereka, hasilnya hanya berupa “janji-janji yang tidak konkret,” sehingga mereka menyerukan tindakan segera dari komunitas internasional untuk menghentikan konflik.
Film ini juga menarik perhatian karena menampilkan gambar-gambar eksplisit anak-anak yang terluka. Salah satu dokter dalam film tersebut menekankan pentingnya menayangkan gambar tersebut tanpa sensor, dengan alasan bahwa “gambar-gambar ini mencerminkan realitas di lapangan.”
Selain isu medis, dokumenter ini juga membahas topik seperti perbedaan perlakuan terhadap dokter berdasarkan latar belakang mereka, serta tantangan perjalanan ke wilayah konflik, termasuk pemeriksaan keamanan dan pengawasan ketat oleh otoritas Israel.
Sutradara film, Fu Si Tang, mengungkapkan kesulitan dalam pendanaan proyek tersebut, yang pada awalnya dibiayai dari tabungan pribadi sebelum akhirnya mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Ia juga menekankan bahwa sensitivitas politik topik ini membuat film tersebut menghadapi penolakan di beberapa kalangan perfilman.
Di sisi lain, sejumlah kritikus di Sundance memuji film tersebut sebagai karya yang menggugah, menggambarkan pengalaman dokter langsung dari ruang gawat darurat.
Menurut Yedioth Ahronoth, respons terhadap film ini masih terus berkembang dan memicu perpecahan di media AS: sebagian melihatnya sebagai dokumenter kemanusiaan tentang kondisi Gaza, sementara yang lain menilainya sebagai karya dengan pendekatan politik.


