Wina, Purna Warta – Perwakilan tetap Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, menyatakan bahwa Rusia dapat mengajukan inisiatif baru untuk membentuk kawasan Timur Tengah yang bebas dari senjata pemusnah massal, namun hambatan utama terletak pada sikap Israel.
Baca juga: Film “The American Doctor” Tentang Gaza Mengguncang Hollywood dan Media Barat di AS
Seperti dilaporkan RT, Ulyanov mengatakan, “Semua bergantung pada posisi Israel, yang secara tegas menolak bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, namun pada saat yang sama bersikeras bahwa negara-negara lain di kawasan harus mematuhi perjanjian tersebut secara ketat.”
Dalam wawancara dengan surat kabar Rusia Izvestia, ia menambahkan bahwa tidak ada indikasi perubahan sikap Israel dalam waktu dekat.
Ulyanov juga menegaskan bahwa Rusia akan terus mendukung gagasan tersebut. “Tidak menutup kemungkinan bahwa Rusia, jika diperlukan, akan mengajukan inisiatif baru terkait isu ini,” ujarnya, seraya menekankan bahwa gagasan tersebut “akan tetap berada dalam agenda internasional hingga sepenuhnya terwujud.”
Gagasan pembentukan kawasan Timur Tengah bebas senjata pemusnah massal telah dibahas di tingkat internasional selama beberapa dekade. Majelis Umum PBB pertama kali mendukung inisiatif ini pada tahun 1974 atas usulan Iran dan Mesir.
Baca juga: Italia Buka Penyelidikan Penyiksaan Setelah Israel Menculik Aktivis Flotila Bantuan Gaza
Selain itu, resolusi Konferensi Tinjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir tahun 1995 juga menyerukan pembentukan kawasan bebas dari seluruh jenis senjata pemusnah massal, termasuk nuklir, kimia, dan biologis, di Timur Tengah.
Pernyataan Ulyanov disampaikan bertepatan dengan berlangsungnya Konferensi Tinjauan ke-11 Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir di New York City, yang dijadwalkan berlangsung hingga 22 Mei 2026.


