Tehran, Purna Warta – Jutaan pelayat yang mengenakan pakaian hitam memperingati Asyura, hari yang menandai haul kesyahidan Imam Hussein (AS), Imam ketiga dalam tradisi Syiah dan cucu Nabi Muhammad SAW, yang pengorbanannya di padang Karbala telah menjadi simbol abadi perlawanan terhadap penindasan.
Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 bulan Muharam dalam kalender Hijriah, tahun ini diperingati pada hari Kamis di Iran.
Kerumunan besar umat yang berduka menggelar berbagai ritual perkabungan, seperti memukul dada secara serempak dan berirama, mendengarkan lantunan syair-syair duka yang menyentuh hati, serta menangisi tragedi yang terjadi pada tahun 680 M. Pada hari bersejarah tersebut, Imam Hussein (AS) bersama 72 sahabat setianya gugur sebagai syuhada dalam peperangan di Karbala di wilayah selatan Iraq, setelah berjuang dengan penuh keberanian demi menegakkan keadilan melawan ribuan pasukan khalifah Umayyah, Yazid I.
Di Iran, prosesi duka memenuhi kota-kota dan desa-desa di seluruh negeri. Para dermawan membagikan makanan nazar yang secara umum dikenal sebagai nazri kepada para pelayat dan masyarakat yang membutuhkan, sebuah tradisi yang mencerminkan semangat kemurahan hati dan solidaritas yang diperjuangkan oleh Imam Hussein (AS).
Suara ritmis pukulan dada dan lantunan syair-syair duka yang menggetarkan bergema di seluruh negeri ketika jutaan orang memberikan penghormatan kepada Imam Hussein (AS).
Bagi jutaan orang yang berkabung atas Imam Hussein (AS), Asyura tahun ini membawa kesedihan yang lebih mendalam karena merupakan Muharam pertama sejak wafatnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, yang gugur akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel yang pecah pada 28 Februari. Selama lebih dari 40 hari serangan, negara itu kehilangan bukan hanya pemimpin yang dihormati, tetapi juga sejumlah komandan senior dan ribuan warga sipil.
Rangkaian upacara perkabungan yang berlangsung selama sepuluh hari pertama Muharam mencapai puncaknya pada Hari Asyura.
Pada malam Asyura, yang dikenal sebagai Tasu’a, para pelayat mengenang Abbas ibn Ali, saudara seayah Imam Hussein (AS), yang gugur sesaat sebelum Imam Hussein ketika berusaha membawa air bagi perempuan dan anak-anak di perkemahan Imam. Mereka telah berhari-hari tidak mendapatkan air minum akibat pengepungan yang dilakukan oleh pasukan musuh.
Umat Syiah di berbagai belahan dunia juga menyelenggarakan ritual perkabungan serupa. Sementara itu, ratusan ribu peziarah dari Iran dan negara-negara lain melakukan perjalanan ke kota suci Karbala di Irak—tempat berdirinya makam suci Imam Hussein—untuk memperingati Asyura.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, peringatan Muharam dipandang sebagai simbol konfrontasi abadi antara kebenaran dan kebatilan, yang mencerminkan perjuangan manusia sepanjang masa melawan penindasan dan tirani—sebuah perjuangan yang diperjuangkan Imam Hussein (AS) hingga pengorbanan terakhirnya.


