Washington, Purna Warta – Sebagian besar warga Amerika Serikat semakin merasa frustrasi terhadap pemerintah mereka dan berpendapat bahwa para Pendiri Bangsa (Founding Fathers) akan kecewa dengan kondisi sosial dan politik Amerika Serikat saat ini, menurut sebuah jajak pendapat terbaru.
Ketika pemerintahan Donald Trump bersiap dengan berbagai perayaan besar untuk menyelenggarakan Semiquincentennial Amerika Serikat—serangkaian perayaan dan kegiatan peringatan untuk mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah yang mengarah pada berdirinya Amerika Serikat sebagai republik merdeka pada tahun 1776—kekecewaan masyarakat semakin terlihat jelas.
Acara tersebut dijadwalkan mencapai puncaknya pada Sabtu, 4 Juli 2026, bertepatan dengan peringatan 250 tahun pengesahan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, yang ditandatangani oleh kelompok beranggotakan 56 orang yang dikenal sebagai Founding Fathers, dipimpin oleh George Washington, Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, Alexander Hamilton, dan John Adams. Perayaan ini kembali memicu perdebatan di masyarakat serta membuka kembali luka-luka akibat perpecahan rasial, etnis, dan agama yang dinilai semakin diperparah selama masa kepresidenan Trump.
Sebuah survei yang diterbitkan pada hari Rabu oleh Gallup, menemukan bahwa hanya 19 persen warga Amerika yang percaya bahwa kelompok penandatangan Deklarasi Kemerdekaan akan menyetujui arah perkembangan negara saat ini.
Jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa lebih dari tiga dari setiap empat warga Amerika meyakini para Pendiri Bangsa akan kecewa dengan kondisi Amerika Serikat saat ini. Sebanyak 77 persen responden mengatakan bahwa para penandatangan Deklarasi Kemerdekaan akan kecewa dengan perkembangan negara selama 250 tahun terakhir, sementara hanya 19 persen yang percaya mereka akan merasa puas dengan hasilnya.
Survei Gallup juga menunjukkan bahwa proporsi warga Amerika yang memiliki pandangan negatif terus meningkat, dari 71 persen pada tahun 2013 dan 42 persen pada tahun 2001.
Para peserta survei berasal dari berbagai afiliasi politik. Namun, mereka yang mengidentifikasi diri sebagai anggota Partai Republik cenderung sedikit kurang pesimistis dibandingkan pendukung Partai Demokrat. Meski demikian, tidak lebih dari seperempat responden dari masing-masing partai yang mengatakan bahwa para Pendiri Bangsa akan menyetujui kondisi Amerika saat ini.
Jajak pendapat lain yang dilakukan oleh Marquette University Law School Poll dan juga dirilis pada hari Rabu menemukan bahwa 66 persen warga Amerika setidaknya merasa cukup bangga terhadap negara mereka. Namun, hanya sekitar setengah dari mereka yang menyatakan optimistis terhadap masa depan demokrasi Amerika.
Menurut survei terpisah yang dilakukan oleh Fox News, warga Amerika lebih cenderung menggambarkan diri mereka sebagai “patriotik” daripada menyatakan bahwa mereka bangga terhadap kondisi Amerika saat ini.
Pada tahun 1776, para Pendiri Bangsa memulai apa yang mereka sebut sebagai “Eksperimen Besar” (Grand Experiment) dalam bidang hak-hak manusia di Amerika. Tujuannya adalah membentuk pemerintahan republik yang merdeka dari Great Britain, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi sebuah negara baru yang mencerminkan prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan.
Mereka menyatakan, “Kami menganggap kebenaran-kebenaran ini sebagai sesuatu yang nyata dengan sendirinya, bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dianugerahi oleh Penciptanya hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut, dan bahwa di antara hak-hak tersebut adalah Hak untuk Hidup, Kebebasan, dan mengejar Kebahagiaan.”


