London, Purna Warta – Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat di Inggris mendukung pemberian sanksi terhadap Israel, sebagai tanggapan atas serangan militer yang terus berlangsung di Gaza. Survei yang dilakukan oleh Yonder Consulting atas permintaan Global Justice Now ini menemukan bahwa 62% responden Inggris mendukung sanksi untuk menekan Israel agar menghentikan agresinya. Hanya 11% yang menolak langkah tersebut.
Dukungan publik juga meluas pada kebijakan lain yang lebih tegas. Sebanyak 65% responden mendukung penghentian penjualan senjata ke Israel selama serangan masih berlangsung, dan 60% menyetujui penghentian perjanjian dagang antara Inggris dan Israel. Tingkat penolakan terhadap kedua langkah itu pun tergolong rendah, masing-masing hanya 11% dan 13%.
Baca Juga :Universitas Eropa Putuskan Hubungan Akademik dengan Institusi Israel akibat Perang di Gaza
Dukungan Tinggi di Skotlandia dan Kritik terhadap Pemerintah
Di Skotlandia, tingkat dukungan bahkan lebih tinggi. Dari 177 warga Skotlandia dalam sampel nasional 2.109 responden yang disurvei pada 28–29 Mei, sebanyak 66% mendukung sanksi, 66% menyetujui penghentian ekspor senjata, dan 61% mendukung penghentian kerja sama dagang.
Meski pemerintah Inggris telah mengumumkan penundaan negosiasi perjanjian dagang baru dengan Israel, hubungan dagang yang sudah ada tetap dijalankan. Keputusan untuk mengirim utusan dagang ke Israel segera setelah pengumuman itu menuai kecaman keras dari kelompok HAM dan sejumlah anggota parlemen.
Partai Buruh juga tak luput dari sorotan. Catatan pemerintah menunjukkan bahwa pemerintahan Partai Buruh memberikan lebih banyak lisensi ekspor senjata ke Israel dalam tiga bulan terakhir tahun 2024 dibanding total yang disetujui oleh pemerintahan Konservatif antara 2020 hingga 2023. Beberapa anggota parlemen dari Partai Buruh juga dilaporkan melakukan kunjungan ke Israel dalam perjalanan lobi yang diorganisasi oleh kelompok Labour Friends of Israel, memperkuat kesan keterlibatan politik dalam konflik tersebut.
Baca Juga : Jerman Tegaskan Tetap Kirim Senjata ke Israel, Meski Dikecam Publik
Gelombang Dukungan Publik di Eropa
Hasil survei di Inggris sejalan dengan temuan serupa di Jerman. Survei INSA yang dilakukan atas permintaan Avaaz pada 28–30 Mei menunjukkan bahwa 58% warga Jerman mendukung penghentian ekspor senjata ke Israel, sementara hanya 22% yang menolak.
Hasil ini muncul di tengah gugatan hukum yang diajukan Nikaragua terhadap Jerman di Mahkamah Internasional, yang menuduh Berlin membantu genosida melalui pasokan senjata. Sentimen publik lintas Eropa ini mencerminkan ketidaknyamanan yang kian meningkat terhadap dukungan Barat terhadap Israel, terutama ketika jumlah korban jiwa terus bertambah.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa lebih dari 54.000 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, telah tewas sejak Oktober 2023. Sejumlah kelompok HAM menyatakan bahwa ekspor senjata dari negara-negara Barat berkontribusi langsung pada kejahatan perang yang dilakukan.
Baca Juga : Putin Tawarkan Diri Jadi Mediator dalam Negosiasi Nuklir Iran-AS
Seruan untuk Bertindak
Global Justice Now menyerukan pemerintah Inggris untuk bertindak tegas. “Ketika Gaza dihancurkan di depan mata kita, survei ini menunjukkan bahwa rakyat Inggris, dari semua usia dan latar belakang, menginginkan tindakan nyata dari pemerintah terhadap serangan genosida Israel,” kata Tim Bierley, juru kampanye dari organisasi tersebut.
Ia menambahkan bahwa sebagaimana Inggris telah menjatuhkan sanksi besar-besaran terhadap Rusia atas invasi ke Ukraina, maka tekanan serupa harus diterapkan terhadap Israel. Ia mengingatkan bahwa pemerintah tetap memberikan lisensi ekspor senjata dan memperlakukan Israel sebagai mitra dagang istimewa, seolah kejahatan perang tak berdampak pada hubungan bisnis.
Bierley juga menekankan bahwa di bawah hukum internasional, Inggris memiliki kewajiban untuk mencegah genosida. Anggota parlemen yang mengabaikan suara rakyat, lanjutnya, seharusnya ingat akan tugas mereka untuk mewakili kepentingan publik.


